Masa Depan Pendidikan Tinggi Desain

Graphic & Design 01 Desember 2014 Loading..
Graphic & Design

Penulis: Bambang Supriyadi

Saat ini dan masa mendatang kehidupan seseorang ditentukan oleh pendidikan yang telah diperolehnya. Berlawanan dengan tuntutan masa depan, justru sekolah tidak menyiapkan siswa pada tuntutan masa depan, tetapi berkutat dengan sistem pendidikan masa lalu. Bisa jadi tenaga, dana dan pemikiran kita dihabiskan untuk mempersiapkan, menakar dan melaksanakan sistem pendidikan yang mungkin tidak akan berlaku di masa depan.

Diperlukan suatu sistem pendidikan yang berorientasi pada masa depan yang tidak bisa muncul seketika, perlu gerakan massal, pemikiran terbuka dan keberanian untuk meletakkan dasar yang tanggap terhadap masa depan. Manusia Indonesia semakin terpusatkan pada tugas intelektual dan kreatif. Orang yang progresif yang berani bicara melawan arus sering dituduh peramal, futuritis dan pemimpi. Jacque Barzun berkata :”Sangat tidak masuk akal untuk mencoba mendidik demi hari ini yang tidak mungkin didefinisikan”.

Para pendidik diam-diam mengakui kebangkrutan sistem sekarang, tapi belum berani melangkah lebih jauh karena masih ragu untuk menetapkan masa depan sebagai titik tolak. Sementara itu kecaman bertubi-tubi terhadap sistem pendidikan saat ini: terlalu standard, pengelompokkan yang generalis, peran guru yang yang otoriter, kurang kesempatan individu untuk berkembang mandiri, sitem penilaian tertutup, laboratorium, studio dan perpustakaan yang terbatas, Guru besar yang pasif dan sarana fisik yang tidak memadai.

Perlu kurikulum yang dinamis, luwes yang mampu membekali keperluan manusia kontemporer, sehingga mahasiswa kelak mampu menghadapi masalah yang berubah-ubah dan tidak terduga. Bagian penting dari kurikulum sekarang perlu dipertahankan, agar modernisasi masa depan tidak berjalan serampangan.

Eward de Bono, Guru besar Universitas Oxford di London menawarkan, “Kita perlu berfikir secara lateral yang berkaitan erat dengan pemahaman, kreatifitas dan humor, karena kebudayaan itu bermakna membangun gagasan”. Suatu masalah perlu didekati secara intuitif, tidak hanya secara rasional dan sistematis. Bahkan Prof.Van Peursen menulis secara sederhana, ”Bila kita hanya meneruskan garis-garis perkembangan ke arah semua dunia yang mungkin, maka manusia dapat menjadi buta terhadap segala sesuatu yang dalam dunia ini tidak mungkin”.

Pendidikan desain merupakan salah satu pendidikan termuda di dunia. Lahir dari tantangan industrial dan perkembangan ekonomi yang cepat, sehingga tercipta Desainer oleh tenaga perancang dengan latar belakang beragam seperti seniman, insinyur, tukang, guru, perajin dan lainnya.

Desain bukan seni, menurut Prof Charles L.Owen, Guru besar Illinois Institute of Technology, bukan pula enjinering, apalagi sains. Desain adalah satu perpaduan dari berbagai disiplin. Pendidikan yang maju adalah yang menyajikan mata kuliah umum yang diperkaya oleh spesialisasi dan mengarah pada satu, Metoda pemecahan masalah; dua, Penyusunan konsep dan tiga, Visualisasi dan komunikasi. Mahasiswa desain tidak perlu menghindari spesialisasi malahan mereka harus menempa diri pada tugas dari berbagai disiplin ilmu, bahkan perlu merintis profesi yang menghimpun berbagai didiplin menjadi paduan cipta yang fungsional dan estetis.

Kebudayaan lokal

Ciptaan intelektual dan artistik berkaitan erat dengan kemerdekaan berfikir, mengeluarkan pendapat, ungkapan seni yang bermanfaat untuk memperkaya khazanah kebudayaan suatu bangsa. Penciptaan artistik menjadi ciri dari kondisi sosial dan budaya suatu masyarakat bebas dari pengaruh atau diskriminasi politik, ideologi, ekonomi dan sosial budaya. Kebudayaan ini berkaitan dengan kesempatan mendapat pendidikan nilai budaya lokal maupun internasional sehingga dapat mendorong, menyemangati inovasi dan kreatifitas baru.

Rayuan maut oleh budaya asing.
Bila pengembangan budaya terbengkalai, maka dapat berakibat porak poranda budaya karena banjir bandang budaya luar atau kegersangan kering kerontang budaya, terutama dalam pengalihan satu generasi kepada generasi berikut. Dampak lain yaitu kita “dijajah” oleh budaya “baru” yang bertentangan dengan nilai yang dianut dan dijunjung tinggi. Maka jati diri masyarakat bangsa telah hilang hilang atau runtuh pilar-pilarnya. Bentuk dan cara masuknya budaya ini beraneka cara dan wujud berupa dasa muka, dasa kemanisan, dan dasa kebengisan. Ketidak sadaran kita untuk tunduk dan takluk ini buka untuk perseorangan atau kelompok, tetapi untuk seluruh anak bangsa nusantara jadi bersifat kolektif.

Kebangkitan budaya nasional
Dalam keadaan terkepung budaya asing, dalam keadaan porak poranda kehilangan jati diri, para seniman, perancang, desainer, arsitek, tidak akan sulit menempa diri, mengembangkan karakter gubahan atau ciptanya yang khas nusantara yang keIndonesiaan. Akankah kita terus menerus akan menjadi “to become” Indonesia? Dan bukan menjadi “to be” Indonesian seperti bangsa lain yang bangga to be American, to be Japanesse, to be France. Para perancang atau desainer Indonesia mendapat tugas berat untuk menciptakan karya seni rupa atau desain yang berwajah, berkarakter, berjiwa dan mengandung roh nusantara. Tentunya kita masih ingat peristiwa dimana bangsa lain ingin mengakui: batik, angklung, reog, gamelan dan lainnya, menjadi warisan budaya asli mereka karena kerinduan akan warisan asli bangsanya, sedangkan kita menyia-nyiakannya.