News»

AK Tekstil dan Produk Tekstil Solo - Siap Cetak Tenaga Ahli di Industri Tekstil

AK Tekstil dan Produk Tekstil Solo - Siap Cetak Tenaga Ahli di Industri Tekstil

News 30 November 2016 Loading..

Pada 28 November 2016, Komunitas Printing Indonesia mengunjungi Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil yang berlokasi di kawasan Solo Techno Park, jalan Ki Hajar Dewantara, Jebres, Solo. Akademi ini merupakan satu perguruan tinggi vokasi industri dibidang tekstil.

Seiring dengan berkembangnya industri tekstil tanah air, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki kompetensi juga semakin bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja terampil tersebut, Kementerian Perindustrian mendirikan perguruan tinggi vokasi industri, Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil yang berlokasi di Solo.

Perguruan tinggi yang diresmikan pendiriannya oleh Presiden Joko Widodo ini menggunakan sistem pendidikan Diploma II dengan tiga program studi antara lain Teknik Pembuatan Benang, Teknik Pembuatan Kain Tenun dan Teknik Pembuatan Garmen. Akademi ini merupakan program beasiswa dengan ikatan kerja, sehingga seluruh mahasiswa dibebaskan dari biaya pendidikan, dan setelah lulus akan langsung ditempatkan bekerja pada perusahaan tekstil di Solo dan sekitarnya. Para tenaga pengajar di Akademi ini merupakan para professional dan ahli dibidang tekstil. Sistem pendidikan yang diberikan terbagi dalam 3 tahap yaitu pendidikan teori, praktek di sekolah, dan praktek langsung di industri.

Pada kunjungan kemarin, Komunitas Printing Indonesia yang diketuai bapak Usman Batubara diterima oleh Bapak Drs. Abdillah Benteng M.Pd selaku pimpinan AK Tekstil. Pada kesempatan kali ini, Bapak Abdillah menjelaskan tentang program-program Akademi Tekstil serta berkenan untuk mengantarkan Komunitas Printing Indonesia berkeliling melihat ruang praktek dan perlengkapan yang ada. Peralatan yang tersedia untuk belajar merupakan peralatan industri modern dan terbaru. Hampir semua mesin serupa dengan yang digunakan di pabrik. Sehingga ketika sudah berada di lingkungan kerja,  diharapkan mereka tidak akan kaget dengan teknologi yang ada di  perusahaan tempatnya bekerja.

Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil Solo saat ini memiliki 160 orang mahasiswa yang nantinya siap untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja professional di industri tekstil. Menurut Drs. Abdillah, telah banyak perusahaan yang meminta mahasiswa AK Tekstil untuk langsung bekerja di perusahaan setelah lulus nanti. Beberapa perusahaan yang siap menerima lulusan AK Tekstil ini antara lain PT. Sri Rejeki Isman(SRITEX), PT. Dan Liris, PT. Pan Brothers dan masih banyak lagi.

Sekarang AK Tekstil sedang membangun gedung baru yang berada dekat lokasi saat ini. Gedung baru ini nantinya akan mampu menampung 320 mahasiswa baru. Mahasiswa baru terdiri dari 60% masyarakat umum dan 40% sisanya merupakan karyawan yang membutuhkan kompetensi. Adapun syarat-syarat yang dibutuhkan untuk melanjutkan studi ke AK Tekstil antara lain, WNI, Lulus SLTA/SMK, Usia maksimal 22 tahun, Lulus ujian masuk serta Bersedia untuk ikatan dinas selama 3 tahun setelah menyelesaikan pendidikan. (BW)

Read More »
Kemenperin Pacu Kinerja Industri Kulit, Alas Kaki dan Aneka

Kemenperin Pacu Kinerja Industri Kulit, Alas Kaki dan Aneka

News 02 November 2016 Loading..

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto membuka Temu Usaha, Pameran, dan Fashion Show Industri Alas Kaki, Kulit dan Aneka Nasional di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta pada tanggal 1 November 2016. Event ini diikuti oleh lebih dari 50 pelaku industri dan akan berlangsung selama tanggal 1 – 4 November 2015 mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB serta terbuka untuk umum.

Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kinerja industri kulit, alas kaki dan aneka karena merupakan kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai sektor prioritas dalam pengembangannya. Kelompok industri ini juga berperan strategis sebagai penghasil devisa negara. 

Airlangga menyampaikan, industri kulit, alas kaki dan aneka memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor sebesar USD 12,28 miliar atau 8,17 persen dari total ekspor nasional pada tahun 2015. Selain itu, kelompok industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,1 juta orang atau 7,7 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur dan jumlah nilai investasinya mencapai Rp 22,8 triliun. “Pada triwulan II tahun 2016,pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 7,74 persen, sedangkan pertumbuhan industri aneka mencapai 3,84 persen, ungkapnya.

Kelompok industri kulit, alas kaki dan aneka mencakup 11 sektor, yaitu industri penyamakan kulit, industri barang dari kulit, industri alas kaki, industri kaca mata, industri alat ukur waktu, industri alat musik, industri mainan, industri alat tulis, industri perhiasan, industri alat olahraga, serta industri pengolahan lainnya.

Perkuat branding nasional

Di sisi lain, Menperin meminta kepada para pelaku industri kulit, alas kaki dan aneka untuk memperkuat branding nasional agar bisa berdaya saing dan dikenal di pasar global. “Karena salah satu nilai tambah adalah branding dari produk. Selain itu, dengan menjadi merek global, produk kulit, alas kaki dan aneka asal Indonesia akan dicari oleh dunia internasional,” ujarnya.

Airlangga menyampaikan, Indonesia hingga saat ini masih menjadi basis manufaktur untuk produk kulit dengan merek-merek internasional dan belum banyak memproduksi merek nasional. “Padahal, industri dalam negeri mampu memproduksi produk kulit, alas kaki dan aneka yang cukup berkualitas dengan mengikuti mode terkini,” tuturnya.

Di samping itu, lanjut Airlangga, belanja iklan juga menjadi hal yang penting dalam memperkenalkan merek-merek nasional, sehingga pemerintah bersama pelaku industri perlu memprioritaskannya.

Dalam sesi diskusi dengan pelaku industri yang dihadiri sebanyak 150 orang, turut hadir Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Menkeu mengatakan ingin mengetahui secara langsung mengenai kendala yang dihadapi para investor dalam berusaha di Indonesia.

“Saya datang ke sini mau mendengar langsung dari pelaku industri apa sebetulnya keluhan dari segi policy, karena dari segi pemerintah, industri ini yang menciptakan kesempatan kerja cukup banyak,” ujarnya.

Untuk itu, kata Menkeu, pihaknya juga akan mendorong pelaku industri untuk terus menciptakan nilai tambah produk. "Kami akan mendukung apa yang bisa dilakukan industri ini untuk terus berkreasi dan berinovasi, sehingga tidak hanya bersaing di dalam negeri, tetapi juga mampu ekspor," ungkapnya.

Read More »
EPSON, Mengawinkan Teknologi Dan Fashion

EPSON, Mengawinkan Teknologi Dan Fashion

News 28 Oktober 2016 Loading..

EPSON sebagai salah satu sponsor Jakarta Fashion Week 2017 menggandeng desainer Indonesia Sky.Inc dan desainer ternama Thailand, Thanit Tiansivarat dalam pagelaran busana yang berlangsung pada Kamis, 27 Oktober 2017, pukul 19.30.

Brand arahan Andrea Risjad dan Amot Syamsuri Muda, Sky.Inc, mempersembahkan koleksi bertajuk BI.ON.INC sebagai show pembuka. Koleksinya terinspirasi dari teknologi, science fiction dan extraterrestrial life yang ditampilkan dalam 48 desain. Warna monokrom dipadukan dengan merah, hijau, ungu dan emas menghiasi rangkaian busana yang tampil dalam bentuk bell sleeve, cut out, one shoulder dan dilengkapi detail patent leather. Motif yang ditampilkan pun beragam mulai dari motif roda mesin hingga chip komputer.

Show selanjutnya adalah pagelaran busana Thanit Tiansivarat, desainer Oh! Lala dan Dee Project. Dalam show pertamanya di Jakarta Fashion Week, Thanit menampilkan koleksi ELEMENTS yang terdiri dari 12 desain yang dibawakan 12 model anak. Mengambil inspirasi dari bumi, air, angin, api dan elemen alam lainnya. Dengan perpaduan warna biru, oranye dan bronze, koleksi didominasi bahan chiffon yang melayang.

Seluruh koleksi yang ditampilkan dalam show ini memiliki motif yang dicetak menggunakan printer digital textile dari EPSON. Teknologi PrecissionCore pada printer tersebut mampu merealisasikan warna-warna solid dan menampilkan gradasi warna secara sempurna.

Read More »
Universitas Kristen Maranatha Gelar Evolusia

Universitas Kristen Maranatha Gelar Evolusia

News 28 Oktober 2016 Loading..

Pada tanggal 20 Oktober 2016 kemarin, Universitas Kristen Maranatha Bandung kembali menggelar satu event fashion show bertajuk Evolusia. Evolusia merupakan gabungan kata dari Evolusi dan Lusia, yang berarti proses perubahan yang baik untuk menjadi cahaya. Event ini merupakan agenda tahunan dari Fakultas Seni Rupa dan Design (FSRD).

Mengambil tema “Decoding The Future”, para mahasiswa memamerkan hasil rancangan mereka. Auditorium Prof. Dr. P.A Soerjadi M.A terasa gemerlap ketika satu persatu model berjalan dipanggung runway. Para model membawakan 106 busana hasil karya 22 orang mahasiswa semester akhir kemudian dilanjutkan dengan penampilan 11 busana mahasiswa semester lima. Sesi pertama didominasi dengan karya-karya busana dengan permainan material dan ragam elemen estetis, sedangkan pada sesi kedua banyak ditampilkan busana-busana bernuansa tradisi.

Isabella Isthipraya Andreas, M.Ds, Ketua Program Studi D-III Seni Rupa dan Desain yang sekaligus Ketua Panitia, mengatakan bahwa “Decoding the future” yang diusung menjadi benang merah konsep pagelaran busana kali ini yang memang tidak serta merta menampilkan karya-karya dengan gaya desain futuristik. “Membaca” tren masa depan dalam konsep ini diinterpretasikan dengan memulainya dari saat ini, dan dari masa lalu sebagai akarnya.

"Kegiatan ini untuk mengakomodasi mahasiswa semester akhir. Harapannya, setelah lulus, mereka bisa siap untuk terjun langsung ke industri desain fashion," sambung Isabella di sela-sela acara. Isabella menjamin mahasiswanya mampu bersaing di industri fashion tingkat nasional. Mereka juga mendapat bekal wawasan dan kreativitas untuk mengangkat budaya lokal melalui sentuhan fashion. 

Read More »
Sustainable Fashion, Trend Fashion yang Ramah Lingkungan

Sustainable Fashion, Trend Fashion yang Ramah Lingkungan

News 27 Oktober 2016 Loading..

Jakarta Fashion Week tidak hanya menyuguhkan parade busana diatas panggung runway, tetapi diramaikan pula dengan beberapa taklshow. Pemerintah Swedia bersama beberapa brand asal Swedia mengadakan talkshow  pada 25 Oktober 2016 dan mengangkat tema tentang tren sustainable fashion.

Beberapa brand seperti H&M, IFF dan Les Fables turut hadir dan menjelaskan bagaimana mereka mengaplikasikan tren Sustainable Fashion atau Eco Fashion tersebut dalam produk mereka.

Les Fables mengatakan bahwa pakaian ready to wear mereka mengusung tema eksperimental dalam menghasilkan produknya, dan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam.

Tidak hanya Les Fiables, IFF mengakui mereka juga membuat pakaian yang ready to wear namun dengan fungsi beragam. Bisa digunakan untuk ke kantor, dan dapat dipakai untuk acara lainnya di malam hari.

H&M tidak mau ketinggalan dalam mengikuti trend sustainable fashion. Mereka menggunakan sustainable material berupa bahan-bahan daur ulang atau yang bisa tahan lama.

Konsep Eco fashion atau sustainable fashion sedang digiatkan oleh pelaku industri fashion. Para desainer pakaian semakin peduli untuk membuat rancangan yang ramah lingkungan dan bisa dipakai untuk jangka waktu yang lama. Sustainable fashion hadir atas kepedulian manusia terhadap lingkungan. Hal ini membuat para desainer merancang busana yang bisa tahan lama dan dapat digunakan untuk beberapa musim. Dengan begitu, pelanggan tidak perlu membeli baju yang baru di setiap musimnya.

Read More »