Target Ekspor Tekstil Naik Tiga Kali Lipat Tahun 2019

News 13 Januari 2015 Loading..
News

Pemerintah dan pengusaha Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) diharapkan saling bekerjasama untuk meningkatkan ekspor nasional tiga kali lipat pada tahun 2019. Menteri Perindustrian Saleh Husin meminta kedua pihak bersma-sama mewujudkan target pemerintah ini.

Nilai ekspor industri TPT Indonesia diharapkan mencapai nilai 36 miliar Dolar AS pada tahun 2019, saat ini nilai ekspor industri TPT telah mencapai 12,68 miliar Dolar AS dengan surplus neraca perdagangan sekitar 4,21 miliar Dolar AS. Dengan nilai ekspor tersebut,  produk TPT mampu memberikan kontribusi ekspor sebesar 11,22% terhadap total ekspor industri nasional.

Menperin menyatakan industri TPT mampu mempertahankan surplus rata-rata senilai 4,3 miliar Dolar AS dengan kontribusi ekspornya di atas 10% terhadap total ekspor industri nasional. Kontribusi produk tekstil terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan non migas mencapai 8,67%. Dalam hal tenaga kerja industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 10,6% dari total tenaga kerja industri manufaktur. Padahal neraca perdagangan nasional mengalami defisit sejak tahun 2012.

"Saya harap para pengusaha industri TPT bersama pemerintah dapat bekerja sama untuk mewujudkan target ekspor 2019 sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing," kata Saleh Husin, Menteri Perindustrian (Menperin).

Menperin mengutarakan industri TPT nasional merupakan industri strategis yang memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan sandang dalam negeri, serta penghasil devisa ekspor non migas dengan nilai yang cukup signifikan. Sementara itu, industri TPT memiliki struktur industri yang telah terintegrasi dari hulu ke hilir. Produk garmen nasional sudah diakui dunia sebagai produk berkualitas baik yang diminati di manca Negara.

Industri TPT telah menunjukkan nilai surplus perdagangan dalam beberapa tahun terakhir mencapai lebih dari 6 milyar dolar AS. Bahkan pada triwulan II tahun 2014, ekspor industri garmen mencapai 3,7 miliar Dolar AS atau berkontribusi sebesar 58% dari total ekspor Industri TPT Nasional.

Sementara itu, di sisi ketenagakerjaan, industri garmen memberi kontribusi penyerapan tenaga kerja mencapai 800 ribu orang dan setiap tahunnya memberikan tambahan penyerapan tenaga kerja baru hingga 30 ribu orang. Sebesar 52% dari SDM industri TPT diserap oleh industri garmen.

Gambaran di atas mencerminkan, industri garmen berpotensi sebagai penggerak utama perekonomian nasional dan produk garmen Indonesia diakui kualitasnya di mancanegara. Namun, kinerja yang sudah baik ini harus lebih ditingkatkan dengan mengintegrasikan kemampuan suplai bahan baku kain dari dalam negeri.

Saat ini, industri TPT membutuhkan kain hingga 2,1 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi industri kain mencapai 2,5 juta ton per tahun. Melihat ketidakseimbangan itu maka seharusnya kebutuhan produk kain dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri. Indonesia masih melakukan impor kain mencapai 615 ribu ton atau 29% dari kebutuhan kain domestik.

Pemerintah sudah berupaya memperbaiki program untuk industri ini, misalnya Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan industri TPT yang telah berlangsung selama delapan tahun seharusnya telah memiliki kemampuan yang memadai. Ke depan koordinasi dan komunikasi yang terbuka diharpkan dapat menjawab permasalahan yang terjadi.

Untuk mewujudkan target maka Kementerian Perindustrian berkomitmen akan mendukung industri TPT agar bisa berjaya di pasar domestik  maupun mancanegara.