Tenun Tangan Indonesia

News 08 Juni 2016 Loading..
News

Masyarakat Indonesia masih memiliki tradisi tenun yang kuat. Tenun di Indonesia mengikat tradisi seperti terlihat di masyarakat Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, Tanggenan dan daerah lainnya. Saat ini, hasil tenun Indonesia hanya mengandalkan tangan-tangan terampil para perempuan berusia lanjut dan mereka masih memiliki penghasilan masih jauh dari cukup. Harga kain tenun mereka tidak setimpal dengan proses panjang dan makna mendalam dari tenun itu sendiri. Konsumen melihat harga kain tenun masih dianggap mahal dan kerap ditawar rendah. Sebenarnya kain tenun ini istimewa. Motif yang terlihat di kain merupakan sebuah simbol berkala, ada cerita dan sejarah tentang suku, serta asal muasal kehidupan mereka.

Jika tidak dilestarikan, bukan tidak mungkin tradisi menenun di Indonesia akan punah. Indonesia harus berkaca dengan Australia yang telah kehilangan tradisi menenun karena tidak punya generasi penerus.

Pelestari tenun dari Perhimpunan Lawe, Adinindyah menyebutkan prospek ekonomi tenun yang suram berimbas pada langkanya pengrajin. Di Yogya, banyak penenun, baik pria ataupun wanita, yang beralih profesi menjadi penambang pasir atau pekerja pabrik. Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin tenun pudar ditelan zaman alias ‘putus benang’. Adinindyah bersama Perhimpunan Lawe berkonsentrasi untuk mengembalikan para penambang ke pekerjaan sebagai penenun, dengan penghasilan yang menjanjikan.

Namun, kain tradisional pun harus mengembangkan desainnya sehingga akan menjadi daya tarik tersendiri. Misalnya, kain stagen tidak melulu untuk menahan jarit. Stagen, sebagai kain panjang yang biasa digunakan untuk mengikat untuk dililitkan kepinggang oleh para wanita yang dahulunya hanya digunakan oleh para abdi dalem atau masyarakat biasa dengan motif warna yang sederhana. Kini banyak dikembangkan dan diinovasikan agar semakin menarik perhatian tanpa meninggalkan nilai tradisinya. Dengan tampil lebih berwarna dan tampil variatif dalam bentuk sepatu, tas bahkan pakaian yang unik dan etnik akan sangat menarik. 

Tradisi tenun di Indonesia nyaris terjadi ‘putus benang’ misalnya di Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur. Prihatin dengan masa depan tenun. Yayasan Tafean Fah berusaha melestarikan tenun melalui edukasi menenun di anak-anak. Yayasan ini berkolaborasi dengan organisasi pelestari tenun lainnya seperti Lawe, Lurik Kurnia, dan Terasmitra.

Produksi kain tenun selain terkendala pengrajin juga terganjal bahan baku. Saat ini lading kapas semakin berkurang. Berkurangnya ladang kapas menjadikan tradisi membuat benang dari kapas juga hampir menghilang. Bagi para pengrajin, tenun memang bukan sekadar kain, tapi cara bertahan hidup. Atas dasar itulah Global Environtment Facility-Small Grand Programme (GEF-SGP) mendukung kampanye “Weaving for Life” yang dirintis perhimpunan Lawe.

Untuk memasyarakatkan tenun pameran bertajuk ‘Cerita Tenun Tangan’ hadir di Bentara Budaya Jakarta yang menampilkan kisah perjalanan beberapa wilayah Indonesia yang mempunyai tradisi kuat menenun. Pameran ini diwakili langsung oleh penenun asal Krapyak dan Moyudan, Yogyakarta, dan juga Timur Tengah Utara, NTT.

Pameran ini bertujuan meningkatkan kapasitas penenun dan mempromosikan produk tenun hasil potensi lokal. Kemudian untuk mengembangkan jaringan dan berbagi cerita. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi multi pihak sebagai wadah untuk menjembatani pemasaran produk yang telah dihasilkan.

Gerakan Weaving for life (Tenun untuk Kehidupan), hasil kolaborasi berbagai pihak seperti Komunitas Lawe, Dreamdelion, Teras Mitra dan GEF-SGP( Global Environment Facility-Small Grant Programme), menghadirkan hasil karya tenun dari daerah Molo, Amanatun, Amanuban yang terkenal dengan sebutan tiga Batu Tungku di Timor Tengah Selatan (TTS), Biboki Timur Tengah Utara (TTU) serta Moyudan dan Krapyak, Yogyakarta.

Pameran ini jelas memberikan “ruh” bagi teknik kerajinan kain tradisional, yang bisa dibilang keadaannya sekarang ini seperti mati suri. Digelarnya pameran ini diharapkan masyarakat yang berkunjung bisa mengetahui dan belajar bagaimana proses pembuatan tenun, mulai dari perolehan warna kain yang diperoleh dari bahan-bahan alami serta serangkaian proses untuk dihasilkan hingga teknik pemintalan.

Dengan mengetahui proses diharapkan bisa menyadarkan masyarakat untuk menghargai tenun dengan harga yang setimpal,sesuai dengan prosesnya. Tenun bukan hanya sekedar selembar kain, tapi ada cerita dibalik itu semua. Ada penenun, ada lingkungannya dan sebagainya.Kain tenun masih belum dikenal luas dikalangan anak muda. Padahal anak-anak muda inilah yang memiliki peran penting dalam melestarikan budaya agar tidak punah.

Orang Indonesia itu pintar sekali mengambil inspirasi dari alam dan dituangkan ke dalam seni mereka. Para penenun ini harus di beri apresiasi karena mereka masih mau mempertahankan tradisi di tengah arus globalisasi. Kalau tenun sampai mati, Indonesia jadi tidak istimewa. Kurang lebih 29 propinsi di Indonesia memiliki tenun sebagai kain tradisional.