Other Application»

Shibori, Teknik Pewarnaan Celup Dari Jepang

Shibori, Teknik Pewarnaan Celup Dari Jepang

Other Application 19 Oktober 2016 Loading..

Shibori atau Shiborizome merupakan teknik mewarnai kain yang berasal dari negeri Sakura, Jepang dan telah ada sejak abad ke 8. Kata shibori sendiri berasal dari kata kerja Shiboru, yang dapat diartikan sebagai proses memanipulasi bahan untuk menghasilkan bentuk tiga dimensi dengan cara mengikat dan membuat simpul.Teknik menghias kain ini biasa dilakukan menggunakan bahan celup alami diatas kain katun putih. Pada dasarnya teknik Shibori ini sama dengan Tie Dye atau Jumputan di Indonesia.

Teknik pewarnaan celup sebenarnya sudah ada sejak jaman kuno dan digunakan di berbagai negara. Namun istilah modernnya, Tie Dye atau ikat celup baru mulai populer tahun 60an di Amerika, meski konon teknik ini ditemukan oleh orang Afrika. Di Indonesia, juga ada teknik serupa dalam membuat motif dan warna pada kain putih polos dengan teknik mengikat dan menutup sebagian kain dengan karet gelang, tali rafia dan plastic, untuk selanjutnya dicelup pada pewarna kain atau wantex. Teknik ini dikenal dengan Jumputan.

Shibori sendiri lebih menerapkan teknik resist dyeing, atau proses pencelupan sebagian kain dengan cara mencegah bagian lainnya agar tidak terkena zat warna. Karena itu, pemahaman mengenai teknik celup ikat ini sangat dibutuhkan. Ada beberapa teknik Shibori yang dikenal, diantaranya:

Kanoko Shibori

Teknik ini dibuat dengan cara mengikat beberapa bagian kain sesuai pola yang diinginkan. Jika bagian-bagian kain diikat secara acak, maka hasilnya adalah bulatan-bulatan acak. Bila kain dilipat dulu sebelum diikat, maka pola yang dihasilkan akan berbentuk bulatan teratur ditempat-tempat yang dilipat.

Arashi Shibori

Teknik ini dibuat dengan cara melilitkan kain pada sebuah pipa, lalu diikat kencang dengan benang disepanjang pipa. Setelah itu kain didorong hingga membentuk sebuah kerutan. Teknik Arashi Shibori akan menghasilkan kain lipit berpola serong yang menyerupai hujan dikala badai.

Itajime Shibori

Secara tradisional, teknik ini dibuat dengan cara kain dijepit diantara dua potong kayu kemudian diikat dengan tali.

Miura Shibori

Teknik ini dikenal sebagai ikatan loop atau lubang, merupakan teknik menghias kain yang dilakukan dengan cara mencabut bagian-bagian tertentu pada kain menggunakan jarum kait. Benang tersebut tidak disimpul mati melainkan dikencangkan. Hasil akhir dari proses ini berupa selembar kain yang memiliki kemiripan dengan pola air. 

Kumo Shibori

Teknik ini melibatkan bagian lipatan kain yang halus dan merata. Kain diikat sangat rapat sehingga dihasilkan desain berbentuk mirip sarang laba-laba. Teknik ini merupakan teknik yang tepat untuk menghasilkan desain yang khusus.

Nui Shibori

Teknik ini dilakukan dengan membuat jahitan jelujur sederhana pada selembar kain kemudan menariknya seketat mungkin untuk menghasilkan sebuah kerutan yang rapat. (BW)

Read More »
Batik Fractal,  Batik Dengan Sentuhan Ilmu Matematika

Batik Fractal, Batik Dengan Sentuhan Ilmu Matematika

Other Application 14 April 2016 Loading..

Sebenarnya apa sesungguhnya batik fractal itu? Batik Fractal adalah batik yang didesain dengan rumus fractal. Fractal adalah cabang ilmu matematika yang meneliti tentang pengulangan atau literasi dan kesamaan diri atau self similarity.

Batik ini motif desainnya dibuat dengan rumus matematika yang diaplikasikan menggunakan teknologi komputer sehingga menghasilkan desain pola baru yang sangat beragam. Jadi singkatnya, batik fractal merupakan kombinasi dari empat elemen, yaitu seni, budaya, sains, dan teknologi.

Awal mula berdirinya batik fractal ini dimulai dengan riset yang dilakukan oleh Nancy Margried, Yun Hariadi, dan Muhamad Lukman dari Pixel People Project asal ITB Bandung, mengenai motif-motif batik tradisional dan hubungannya dengan ilmu matematika fractal.

Sepanjang tahun 2007 riset ini mengumpulkan lebih dari 300 motif batik tradisional yang ada di seluruh Indonesia dan meneliti unsur-unsur matematika fractal di dalamnya. Dari penelitian tersebut dapat dilihat bahwa batik memiliki unsur matematika dan dapat dimodelkan dengan fractal. Penelitian ini pertama kali ditampilkan di 10th Generative Art International Conference di Milan, Italia pada akhir 2007. Atas karyanya ini, Pixel People Project mampu menyabet penghargaan “Stamp of Approval” dari UNESCO, Award of Excellence, pada tahun 2008.

Dari penelitian yang dilakukan, dipastikan bahwa ada tiga pola fractal yang dapat menjadi motif batik generative secara komputasional, yaitu

  • Fractal sebagai batik

Hasil simulasi komputer dalam bentuk fractal yang memiliki kemiripan dengan desain batik tradisional. Kustomisasi dapat dilakukan atas aturan-aturan iteratifnya, modifikasi pada bentuk pencorakan warna, dan sebagainya.

  • Hibrida fractal batik

Motif dari fractal dapat digunakan sebagai model utama sebagai dasar ornament dan dekorasi untuk desain batik. Modus desain ini adalah menggabungkan pola fraktal secara estetik yang dilahirkan secara komputasional dan apa yang dilahirkan melalui tradisi budaya batik yang telah dikenal luas.

  • Batik inovasi fractal

Bentuk implementasi dari gambar dengan pola tertentu atau acak dengan menggunakan bentuk-bentuk algoritma pengisian dari ornamen batik yang asli sebagai isen atau pola batik yang telah dikenal secara tradisional. Dua motif batik diproses ulang sehingga menghasilkan motif baru dengan memperhatikan pola dan prinsip proses membatik.

Motif batik ini didesain dan diolah menggunakan software computer bernama jBatik. Aplikasi ini mampu menciptakan motif-motif batik modern dengan berbasiskan desain batik tradisional. Pola-pola batik tradisional dipetakan secara matematis kemudian diterjemahkan ke dalam perangkat lunak sehingga menciptakan pola-pola batik baru secara digital. 

Prosesnya, gambar batik akan diolah dan dibuat distribusi frekuensinya. Kemudian dimensinya dihitung dan dibuat fraktalnya.  Dari satu rumus Fractal, software jBatik dapat menghasilkan beragam motif baru dengan mudah hanya dengan mengganti parameternya. 

Read More »
Color Matching System

Color Matching System

Other Application 02 Juli 2015 Loading..

Sistem pencocokan warna atau Color Matching Sistem merupakan metode yang digunakan untuk memastikan konsistensi warna dalam proses desain hingga proses produksi. Ini diaplikasikan untuk menjaga keakuratan dan konsistensi warna yang digunakan.

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan oleh panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer. Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar antara 380-780 nanometer.

Proses pencampuran warna dikenal dalam 2 macam cara yaitu pencampuran warna Additive dan warna Substractif. Pencampuran warna Additive adalah pencampuran warna primer cahaya yang terdiri dari warna RGB, Red, Green dan Blue, dimana pencampuran ketiga warna primer dengan jumlah yang sama akan menghasilkan warna putih. Kombinasi antara dua warna primer akan menghasilkan warna sekunder. Warna sekunder adalah Cyan (gabungan warna green dan blue), magenta (gabungan warna blue dan red) dan yellow (gabungan warna red dan green). Prinsip pencampuran warna Additive ini diterapkan pada monitor, TV, Video, Scanner dan lain-lain.

Warna Subtractive adalah warna sekunder dari warna Additive. Warna Subtractive ini dibentuk dengan pigment warna yang bersifat transparan. Tinta cetak adalah contoh dari pencampuran warna Subtractive. Warna Subtractive terdiri atas Cyan, Magenta dan Yellow, secara teori pencampuran ketiga warna Subtractive akan menghasilkan warna hitam, tetapi kenyataan pada prakteknya yang keluar adalah warna coklat tua karena keterbatasan pigment tinta cetak. Oleh karena itu ditambahkan warna hitam atau black yang dinyatakan dengan simbol K berasal dari kata Key untuk menambah kepekatannya. Saat ini warna CMYK menjadi standard dalam proses cetak warna di industri grafika.

Kembali ke pencocokan warna atau matching color, pada dewasa ini, sistem pencocokan warna yang paling populer dalam industri cetak adalah Pantone Matching System atau PMS. Panduan Pantone ini sangat diperlukan dalam industri printing, publishing, maupun packaging. Dan untuk memudahkan pengguna dalam mencampur warna, ada beberapa software tinta yang dibuat dengan menggunakan pedoman warna Pantone. Salah satu software tinta adalah UniMix.

Software UniMix ini dikembangkan oleh Union Ink, sebuah software berbasis PC yang terintegrasi dengan Pantone Color menggunakan seri tinta Union untuk tekstil seperti Mixopake, Automatch dan Unimatch ink series. Software ini akan menghitung kebutuhan tinta untuk warna yang diinginkan dan jumlah masing-masing komponen yang harus dicampur untuk menghasilkan jumlah yang dibutuhkan dari warna baru. Software ini akan menghitung berdasar pemakaian, luas area gambar dan jumlah yang dicetak.

Pengguna juga dapat memilih satuan berat yang digunakan, apakah gram, kilo, pounds dan lain sebagainya. Software ini juga memiliki Material Safety Data Sheets(MSDS) atau lembar data teknis keamanan tinta yang ditawarkan oleh Union Ink. Lembar data teknis ini akan tersimpan dalam bentuk PDF.

Sayangya software ini hanya dapat digunakan untuk penggunaan tinta plastisol. Rata-rata produsen tinta waterbase maupun tinta silicon tidak memiliki software seperti ini karena tinta waterbase dan silicon memiliki pewarna atau pigmen yang terpisah. Salah satu produsen tinta waterbase yang memiliki software Pantone Matching System adalah Matsui Ink Jepang.

Read More »
Hemat Dengan Soft Proofing

Hemat Dengan Soft Proofing

Other Application 02 Juli 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Jika warna di monitor tidak mirip dengan hasil cetaknya maka akan terjadi revisi dan proof cetak berulang-ulang dan hasil cetak membutuhkan waste cetak yang banyak dan waktu yang lama serta customer kurang bahagia.

 

Pihak-pihak yang harus memperhatikan warna seperti Fotografer, Retoucher, Designer, Platemaking/ Prepress, Printinng dan Client. Agar semua berjalan dengan baik sesuai keinginan maka diperlukan color management yang baik.

Sementara hal-hal yang harus diperhatikan untuk melakukan soft proofing adalah kualitas monitor harus baik, dikalibrasi dengan benar dan teratur, color setting pada Adobe benar dan Cahaya ruang atau sekeliling.

 

Read More »
Kreativitas Untuk Naikkan Nilai Kaos

Kreativitas Untuk Naikkan Nilai Kaos

Other Application 21 Mei 2015 Loading..

Sebuah kaos akan memiliki nilai tambah jika tampil menawan dan hasil sebuah tangan yang trampil dan inovatif. Untuk menaikkan nilai sebuah kaos dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya sablon atau screen printing, Cut Out dan Tye Dye.

Seminar IAPE 2015 hari pertama diisi oleh Benny S Rahardjo dengan tema kreativitas untuk naikkan nilai kaos dengan tangan dan cara sederhana. Kaos hasil tangan trampil pasti tampil menarik perhatian. Untuk membuat kaos inovatif tidak harus mengeluarkan biaya mahal dan menggunakan peralatan canggih serta semua orang bisa melakukannya.

Di Indonesia minim informasi dan pendidikan terutama dalam hal teknologi, padahal banyak sekali yang bisa dikembangkan. Di industri tekstil atau kaos tidak perlu monoton. Beberapa cara untuk meningkatkan harga jual dan nilai lebih seperti:

Screen printing

Anda bisa beli kaos warna hitam atau abu-abu kemudian tambahkan desain untuk meningkatkan nilai jual.

Cut Out

Anda bisa berkarya dengan membuat model kaos sendiri dengan menggunakan gunting atau peralatan tajam lainnya. Kemudian dikreasikan dengan berbagai bentuk dan model.

Tye Dye atau Jumputan

Kreatifitas ini merupakan hasil tangan atau handmade sehingga satu kaos dengan kaos lainnya akan berbeda walau pewarnaan dan teknik atau cara yang sama.

Lakukan kreativitas di kaos yang Anda miliki untuk menghasilkan karya seni di kaos yang mumpuni

Read More »