Textile & Garment»

Pangsa Pasar Kaos Polos 2016 Sangat Besar

Pangsa Pasar Kaos Polos 2016 Sangat Besar

Textile & Garment 21 Januari 2016 Loading..

Kaos atau T-Shirt telah menjadi salah satu jenis pakaian sehari-hari yang nyaman digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat untuk berbagai aktivitas. Permintaan kaos polos tahun 2016 diperkirakan tumbuh sangat signifikan.

Bisnis kaos akan tumbuh signifikan pada tahun 2016, masyarakat semakin nyaman dengan kaos polos atau pun bergambar.  Kaos sangat mudah didapatkan, tersedia dalam beragam kualitas dan ukuran serta harganya cukup terjangkau.

Ke depan bisnis kaos polos atau bergambar terbuka lebar dan menjanjikan. Kaos yang diberi gambar atau desain bisa dikatakan merefleksikan penggunanya dan tren. Sebagai contoh hadirnya kaos berdesain batik atau pahlawan menggambarkan motif yang tengah menjadi tren saat itu. Bila tren berganti maka desain kaos akan dengan mudah berganti pula.

Persebaran kaos polos di Indonesia belum merata, hingga saat ini masih terkonsentrasi di Jawa. Herlina Gea, Brand Manager PT Prima Mode Indonesia, distributor tunggal kaos polos Gildan di Indonesia  mengatakan, “Daerah di luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi serta pulau-pulau lain di Indonesia belum terjamah secara maksimal, karena masih mempunyai banyak kendala misalnya biaya pengiriman yang tinggi dan butuh waktu pengiriman yang cukup lama.” Herlina menambahkan, ini peluang dan tantangan bagi Gildan untuk memperluas pasar dan meningkatkan penjualan.

Tahun 2016, PT Prima Mode Indonesia sebagai pemegang distributor tunggal kaos polos merek Gildan untuk Indonesia yakin, penjualan kami akan naik lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Herlina menyatakan, hingga saat ini orang Indonesia yang mengenal gildan masih sedikit dan pengalihan bisnis juga belum total. “Kami harus berusaha memperkenalkan Gildan ke masyarakat luas, tantangan ini harus menjadi peluang,” tegas Herlina.

Saat ini, masyarakat semakin paham dalam hal memilih kaos, terutama kaos polos. Konsumen sudah mengerti standarisasi ukuran, bahan dan kualitas lainnya. Jika Anda ingin bisnis kaos, pastikan berhubungan atau bekerjasama dengan distributor resmi. Sebagai contoh, kaos polos Gildan bisa menjadi pilihan. Merek ini memberikan jaminan ketersediaan kaos dan adanya jaminan kemudahan dalam menjalankan bisnis. Sudah cukup banyak para pelaku usaha dan masyarakat menggunakan merek ini sebagai peluang bisnis dan memperbesar usaha dalam hal printing, dan ketersediaan kaos atau barang.

Herlina sangat yakin, tahun 2016 bisnis kaos polos tumbuh dengan sangat-sangat signifikan terutama di Jabodetabek dan Jawa. Sedangkan pasar di luar Jawa misalnya Medan di Sumatera Utara, Makasar di Sulawesi dan Bali serta Batam dan Riau, menjadi pasar baru yang harus ditingkatkan.

Pasar di luar Jawa ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dijangkau, karena daerah-daerah tersebut belum terlayani dengan baik.  Memang mereka telah mengenal kaos polos berkualitas seperti Gildan tetapi volumenya masih kecil.

Kendala yang dihadapi oleh para distributor adalah biaya pengiriman tinggi, waktu pengiriman lama dan belum adanya event besar atau signifikan untuk industri apparel.

Masyarakat Indonesia masih belum mengenal betul jenis dan merek kaos polos, sebagai gambaran ketika pameran di IAPE Bandung, yang dikenal sebagai kota tekstil dan garmen serta sablon pengunjung yang belum mengenal gildan  sekitar 90 persen. Sementara ketika pameran di Jakarta sekitar 60 persen pengunjung belum mengenal Gildan. Ini angka yanga besar dan harus disosialisasikan dan peluang Gildan sangat besar sekali.

Kaos polos terus merambah ke berbagai konsumen, salah satunya merambah ke berbagai brand yang menjadikan kaos polos sebagai materialnya. Memang perlu disadari bahwa peluang ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Anda harus konsisten dan serius menanganinya. Ini merupakan salah satu peluang di tahun-tahun mendatang. Selain itu, berbagai perusahaan juga akan memakai kaos polos untuk seragam atau uniform dan sebagai media promosi. Selama ini mereka memperoleh dari pihak lain bukan langsung dari Gildan.

Kebutuhan masyarakat akan kaos polos sangat besar. Hal ini terbukti ketika kondisi ekonomi terguncang akibat kurs mata uang rupiah melemah. Melemahnya nilai tukar mata uang tidak mengganggu permintaan akan kaos polos. Ketersediaan kaos polos sudah menjadi kebutuhan para pelaku usaha dan masyarakat yang telah mengenal Gildan. Kaos polos sangat diperlukan atau dibutuhkan untuk usaha atau kegiatan printing. Mereka menggunakan dalam kegiatan printing digital dan sablon manual. Digital menunjukkan peningkatan.

Bila Anda tertarik untuk turut berbisnis kaos, hal penting yang perlu dicermati yakni supplier terpercaya. Dengan supplier terpercaya, Anda dapat fokus dengan pemasaran dan promosi tanpa harus memikirkan soal produksi karena kaos yang dibutuhkan sudah dapat disuplai oleh rekanan bisnis. Anda juga sebaiknya paham tentang bahan-bahan kaos, seperti bahan kaos jenis katun, polyester, PE, cotton viscose atau CVC, dan TC.

Penggunaan kaos berkembang ketika munculnya teknologi screenprint di atas kaos katun pada awal  tahun 1960-an sehingga memunculkan berbagai bentuk kaos, seperti tank top, muscle shirt, scoop neck, dan v-neck.

Terjadinya perubahan dari segi bahan dan teknologi produksi membuat makna kaos berubah dalam kehidupan sosial. Saat ini, variasi kaos sebagai pakaian luar sangat beragam. Kaos diproduksi dalam warna-warna primer atau pun dalam kombinasi yang lebih kompleks.

Tumbuhnya industri periklanan, kaos merupakan bilboards mini yang cukup efektif untuk mengkomunikasikan sebuah produk atau kegiatan. kaos seringkali dibagikan gratis dan dijadikan iklan berjalan oleh pengiklan.

Perusahaan-perusahaan membuat kaos dengan nama atau logo perusahaan yang tertera di atasnya, dan menjualnya di toko-toko sebagai pakaian produksi massal yang siap pakai. Bagi sejumlah besar pemakainya, tentu memakai kaos bergambar tidak dimaksudkan sebagai iklan, melainkan sebagai indikasi status dan pendapatan pemakainya, loyalitas atau kepercayaan pada satu produk.

Kaos buatan perusahaan tertentu dianggap mewakili gaya hidup atau selera yang khas, selain sekaligus si pemakai mengiklankan perusahaan pembuatnya. Misalnya kaos bermerek Benetton, Ralph Lauren atau Calvin Klein. Simbol-simbol tertentu pada kaos, seperti buaya kecil atau kuda poni dan pemain polo kecil (dan berbagai variannya), juga sangat penting. Simbol-simbol ini bukan hanya menunjukkan status pemakainya yang mampu mengkonsumsi pakaian buatan desainer mahal, tetapi juga status dalam sistem fashion itu sendiri.

Sejarah kaos bukan saja menunjukkan cepatnya perubahan teknologi dalam industri garmen, melainkan juga menunjukkan bagaimana fashion bernegosiasi dengan ruang dan waktu.

Beberapa hal harus diperhatikan dan dipersiapkan sebelum memulai usaha kaos adalah segmentasi pasar, kreatif desain dan inovasi, variasi produk, dan bahan kaos serta distribusi dan jaringan pasar yang tepat. bud

Read More »
Kualitas, Standar dan Konsistensi T-Shirt

Kualitas, Standar dan Konsistensi T-Shirt

Textile & Garment 23 September 2015 Loading..

T-Shirt atau kaos merupakan produk apparel yang banyak dipakai masyarakat di dunia. Para produsen kaos berlomba memproduksi kaosnya dengan berbagai kelebihan. Dalam hal kualitas mereka saling bersaing, untuk standar, mereka mengikuti standar yang berlaku di pasar sedangkan upaya konsisten juga dilakukan sehingga konsumen memperoleh kepastian warna yang ada.

Mencari T-Shirt di Indonesia sangatlah mudah, anda ingin mencari kaos lokal banyak beredar. Jika menyukai kaos impor seperti Gildan, Fruit of The Loom, Hanes, dan Alstyle Apparel & Activewear juga bisa dengan mudah didapatkan.

Demikian juga bila ada permintaan kaos tanpa menyertakan mereknya juga sangatlah gampang, atau lebih ekstrem lagi, anda ingin membuat kaos sendiri baik dari segi pemilihan bahan, jahitan dan lain sebagainya bisa dilakukan.

Semua hal itu bisa dikatakan tergantung permintaan dan kebutuhan konsumen. Konsumen sekarang sudah sangat pandai, cermat dan teliti. Bila sebuah produk sudah tidak sesuai pasar maka bisa tamat produk tersebut.

Sebagai contoh, tahun-tahun sebelumnya kebutuhan akan kaos lokal bisa dikatakan sangatlah tinggi. Hal ini, karena produksi para pelaku usaha dan permintaan konsumen. Tetapi setahun belakangan, konsumen lebih tertarik
menggunakan kaos impor atau global dan para pelaku usaha mau tidak mau mengikuti permintaan konsumen.

Konsumen lebih memilih kaos impor atau global karena dua hal yakni standarisasi ukuran sama sehingga konsumen tidak pusing dengan mencari-cari ukuran yang pas dengan tubuhnya. Kedua, adanya konsistensi warna. Jika ingin membeli beberapa atau banyak kaos global bisa dipastikan konsisten atau warnanya sama tidak mengalami perubahan.

Saat ini kaos lokal dan impor saling bersaing. Kaos impor menawarkan kecepatan, kualitas karena melalui seleksi quality control yang ketat dan otomatis, tidak memiliki jahitan samping, tidak mudah menyusut atau menerapkan Preshrunk Disposal serta standarisasi ukuran dan konsitensi warna.

Sementara kaos lokal menawarkan kualitas, ukuran lebih mendekati penggunanya, bisa didesain sesuai konsumen atau permintaan, harga kaos terjangkau. Pengusaha kaos distro akan memilih kaos yang sesuai dengan segmen pasarnya misalnya produk yang unik, kualitas bahan, jahitan, sablon harus sama dengan produk branded, dan harus dilengkapi juga dengan aksesoris seperti hangtag menggunakan merek. Sedangkan pengusaha sablon kaos distro akan lebih dalam memlih bahan kaos polos.

Saat ini Anda bisa membeli kaos secara eceran atau tidak ada minimal order dari para distributor kaos. Hal inilah yang membuat persaingan bisnis kaos semakin ketat. “Kaos lokal sebelumnya cukup mendominasi usaha sablon manual dan digital, tapi sekarang dengan masuknya kaos global dan bisa
dibeli secara eceran serta konsumen menyukainya, maka dominasinya beralih ke kaos global,” kata Yudi, pelaku usaha jasa digital printing kaos. Yudi menambahkan, kami sebagai pelaku usaha mengikuti penggunaan kaos yang diinginkan oleh konsumen.

Kaos impor yang beredar di Indonesia memang memiliki standarisasi ukuran umum, berdasarkan regional, misalnya untuk ukuran orang Indonesia, kami ambil contoh kaos Gildan akan memakai ukuran standar orang Asia. “Kaos Global merek Gildan tidak akan membuat standarisasi ukuran kaos berdasarkan negara atau daerah. Kami hadir untuk melengkapi kebutuhan para pelaku usaha jika ingin memproduksi secara cepat dan berjumlah besar,” kata Herlina Gea, Brand Manager PT Prima Mode Indonesia.

Dalam memilih produk kaos polos global, Anda harus memastikan terlebih dahulu bahwa pemasok atau distributornya sudah memiliki nama akan reputasinya yang baik serta konsisten tentunya, hal ini bisa dilihat di websitenya dan bandingkan dengan website distributor yang lain.

Periksalah sebisa mungkin apakah distributor kaos import tersebut sudah memiliki pengalaman yang cukup lama atau belum akan berbisnis pakaian kaos secara grosiran. Konfirmasikan ditributor kaos memiliki barang dalam rentang berbagai harga sehingga masuk dalam anggaran setiap seseorang.

Saat ini Indonesia sudah mulai memasuki era pasar bebas. Berbagai tempat pasar dan toko untuk berlomba-lomba jual kaos. Kebijakan ini membawa dampak positif maupun negatif. Negatifnya adalah jika pengusaha indonesia kurang mampu bersaing dan berinovasi maka bisnis jual kaosnya terancam
gulung tikar. Namun dampak positifnya konsumen memiliki banyak pilihan barang dan penawaran harga yang variatif. Hal ini dapat merangsang daya beli masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Salah satu sektor yang berkembang adalah maraknya pedagang online maupun offline yang membuka usaha jual kaos polos import.

Seiring dengan terbukanya era digital dan menjamurnya toko-toko online jual kaos sudah tak bisa dipungkiri terjadi perubahan tren dalam dunia dagang pakaian. Saat ini demam anak muda dan remaja Indonesia sering  menggunakan pakaian kaos. Hal ini memicu banyaknya permintaan konsumen kepada distrubutor maupun supllier kaos sesuai dengan permintaan pasar. Melihat potensi pasar sekarang ini, semakin marak orang membuka usaha jual kaos dengan harga terjangkau. (Bud)

Read More »
PENTINGNYA SERTIFIKASI DAN STANDARISASI PRODUK

PENTINGNYA SERTIFIKASI DAN STANDARISASI PRODUK

Textile & Garment 14 September 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Testex melakukan standarisasi dengan melihat dan mengacu kepada regulasi internasional, seperti di Eropa dan Amerika. “Negara di Eropa memang yang paling komit dan peduli terhadap perubahan atau perkembangan produk tekstil. Mereka hampir enam bulan sekali me-review zat-zat kimia apa aja yang tidak boleh ada di produk tekstil,”kata Titi Susanti, Director PT Testex Testing and Certification.


Titi mengutarakan, jika ingin mengekspor barang-barang ke Eropa harus memenuhi standarisasi mereka yakni REACH dan jika mengekspor barang atau produk dalam volume satu ton per tahun, maka produknya harus teregistrasi.

Standar Oeko-Tex 100 menjadi salah satu standart internasional untuk produk dan setiap bulan Januari standar ini melakukan update perubahan atau penambahan parameter baru. Bahkan bisa juga memasukkan zat baru yang tidak boleh terkandung, padahal sebelumnya diperbolehkan, karena setelah diteliti dianggap berbahaya bagi kesehatan. Saat ini Standar Oeko-Tex 100 telah menguji sekitar 300 zat yang dianggap berbahaya dan tidak boleh digunakan dalam produk. Jumlah zat yang terlarang terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1992 sebagai awal pengujian hanya sekitar 100-an zat, tetapi hingga 30 Juni 2015 sudah menjadi 300 zat.
Berdasarkan data yang ada di seluruh dunia sudah teregistrasi 150 ribu sertifikat Oeko-Tex dan tersebar di lebih dari 90 negara. Sedangkan Indonesia, lebih dari 200 perusahaan sudah meregistrasikan produknya. Sebagai informasi standarisasi yang dilakukan oleh Testex sama di setiap negara mana pun, yang dibedakan hanya pada penggunaan produknya, misalnya pakaian untuk bayi pengujian dan kandungan komponennya harus lebih ketat dibandingkan pakaian untuk orang dewasa. Kulit seorang bayi masih sangat rentan dan sensitif.
Salah satu contoh pengujian untuk produk bayi yang tidak dilakukan pada pakaian orang dewasa adalah menguji ketahanan luntur terhadap air liur. Jika sebuah produk sudah mendapatkan sertifikasi Oeko-Tex bisa dikatakan produk tersebut ramah lingkungan dan bisa diterima di semua negara. Testex rutin melakukan produk control untuk melihat kebenaran sebuah produk, apakah konsisten memproduksi produk sesuai standarisasi. “Kami akan membeli produk yang beredar di pasar tanpa sepengetahuan produsen. Kemudian, kami melakukan pengujian, jika menemukan masalah kami akan melakukan pengecekan ke perusahan penghasil produk. Kami melakukan investigasi masalah, proses apa yang menyebabkan terjadinya penyimpangan standarisasi. Masalah yang biasa kami temukan hanya pada ketahanan luntur
atau kandung pH yang tidak sesuai.
Kami mengharuskan mereka memperbaiki diproses produksi dan mereka juga harus memberikan tahapan atau pengujian apa saja yang telah dilakukan selama tiga bulan terakhir. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas yang selalu sesuai standart. Mereka akan mengirimkan test report yang telah dilakukan di perusahaan sendiri atau dengan pihak ketiga, Testex memiliki hak untuk mengetahui proses produksi dan testing rutin yang dilakukan. Sementara perusahaan yang telah memiliki sertifikat, setiap tiga bulan sekali wajib melakukan review produknya sendiri, agar sesuai dengan standar yang berlaku atau terbaru. Berbagai kontrol terus dilakukan untuk menjaga kualitas produk agar tetap benar.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran produsen dan konsumen akan sertifikasi terus meningkat, entah karena tuntutan buyer atau kesadaran mereka sendiri. Untuk mendaftarkan produknya, mereka pasti mempertimbangkan faktor ekonomi dan bisnis, misalnya jika menggunakan pewarna yang berkualitas dan ramah serta teregistrasi pasti harganya mahal.

Produk tekstil Indonesia yang sudah teregistrasi misalnya Velvet Junior, merek pakaian bayi Jakarta. Produsennya menyadari pentingnya sertifikasi sejak tahun 2008. Produk ini hanya dipasarkan di Indonesia. Selain, sertifikasi internasional Velvet Junior juga memiliki sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia). Jadi Velvet Junior memakai bahan dan komponen untuk produknya, hampir 90 persen produk lokal.
Suatu produk garmen yang memiliki logo Oeko-Tex, dipastikan semua komponennya seperti kancing, benang jahit, dan lainnya juga sudah bersertifikasi. Dari mana mereka mengetahui komponen produknya yang sudah memiliki sertifikasi, Testex bersedia membantu perusahaan atau mereka bisa melihat langsung di website Oeko-Tex. Produk bersertifikasi terbagi dalam berbagai kategori, baik negara dan produk.
Kami menyarankan untuk produsen, sebaiknya mereka mencari solusi atau mencari zat-zat yang lebih baik, karena mereka harus bertanggung jawab pada produk yang mereka jual. Mungkin efeknya tidak dalam jangka waktu dekat tetapi memiliki efek dalam jangka waktu panjang. Misalnya, ada zat yang mengganggu hormon anak-anak, efeknya memang tidak langsung tapi memerlukan waktu.
Produsen harus peduli pada generasi penerus dan kita semua hidup sehat sepanjang masa. Produsen harus lebih bertanggung jawab dengan produk yang dikeluarkan atau dihasilkan atau jual. Untuk konsumen, harus lebih cerdas dan cermat ketika membeli pakaian. Mereka bisa melihat dan memperhatikan logo-logo yang terdapat pada pakaian yang akan dibeli. Jangan sampai tertipu dengan logo-logo aneh atau bohong.
Kita sering menerima laporan pemalsuan logo sertifikasi dari pasaran. Berkat laporan masyarakat kita akan menindaklanjuti laporan tersebut, langsung ke perusahaan yang mengeluarkan produknya. Untuk mengedukasi sertifikasi ini, kami sering melakukan edukasi dan seminar dengan masyarakat terutama
kepada ibu-ibu.
Secara mata telanjang, kita sulit mengetahui bahwa produk ini mengandung zat berbahaya atau tidak. Mungkin selain terdapatnya logo sertifikasi bisa diketahui dari baunya, kadang sebuah produk yang terbungkus dan ketika dibuka baunya menyengat atau tercium bau anyir. Tapi hal itu harus tetap diuji atau perlu pembuktian sesuai prosedur. Adanya logo SNI menandakan produktersebut sudah tidak mengandung formalin yang tinggi, tidak mengandung zat logam berat dan lainnya. Sedangkan untuk logo Oeko-Tex berarti sudah lebih banyak lagi zat-zat berbahaya yang bisa dihindarkan. Pakaian tersebut bisa dikatakan sudah terbebas dari ancaman zat-zat berbahaya.

Read More »
Industri Apparel Tidak Pernah Mati

Industri Apparel Tidak Pernah Mati

Textile & Garment 29 Januari 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Industri apparel tidak akan pernah mati, apalagi Indonesia mempunyai pemerintah yang memberikan dukungan besar dan keahlian masyarakat cukup baik tetapi ketersediaan Sumber Daya Manusianya terbatas

Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas menjadi kendala tersendiri untuk meraih peluang di industri apparel. “Cukup banyak mesin produksi tidak berjalan optimal karena SDM-nya tidak tersedia cukup,” kata William Tan, Managing Dunia Sandang ketika PRINTEX melakukan perbincangan di kantor Dunia Sandang, Pasir Koja, Bandung.

Peluang Indonesia sangat besar untuk industri apparel. Dunia Sandang cukup ramai didatangi pembeli dan kegiatan garmen mulai ekspor kembali ke berbagai Negara seperti United Kingdom dan Australia, karena permintaannya ada. Jadi ke depan, tergantung dari pasar yang kita tuju. Pesaing sangat banyak, jika kita menyasar kelas menengah ke bawah akan sulit berkembang.
Pasar menengah ke bawah mungkin profitnya lebih besar, tetapi untuk jangka pendek. Bila dilihat secara jangka panjang masih menjadi pertanyaan.

Dunia sandang, dalam menyikapi pasar yang besar membuka delapan divisi dengan program unggulan. Hal ini sangat penting untuk antisipasi pasar ke depan. “Kami tidak takut bersaing karena memiliki berbagai keunggulan seperti memiliki kemampuan di industri apparel dengan baik dan berpengalaman baik pengetahuan bahan, proses dan lain-lain. Selain itu, juga memiliki inovasi dan kreativitas yang sangat baik,” tegas William.

Indonesia memiliki kemampuan dan peluang yang besar di depan, dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Kamboja dan lainnya. Posisi Negara tetangga seperti posisi Indonesia pada tahun 1998/1999.
Kami bingung jika dikatakan industri apparel dikatakan sepi, Dunia Sandang untuk tahun 2014 mencapai outstanding 250 ribu pieces, padahal tahun 2013 hanya mencapai 160 ribu saja. Pertumbuhan yang cukup signifikan, “Memang hal itu tergantung market kita dan hubungan dengan para kostumer,” ucap William.

Kalau diamati, cukup banyak kejatuhan para pelaku usaha karena ulahnya sendiri. Seringkali terjadi, jika sudah merasa sukses menjadi kurang fokus dan gaya hidupnya berlebihan. Mereka baru akan menyadari ketika sudah terjatuh.
Industri fesyen harus mengikuti kemajuan teknologi untuk melakukan terobosan-terobosan baru. Meningkatkan daya saing dan memenangkan persaingan wajib diusahakan walau pun industri fesyen tidak akan mati selama manusia butuh pakaian.

Berkat kemajuan teknologi, berbagai sarana promosi dan melayani para pelanggan tersedia, cepat dan mudah, seperti email, media social dan lain sebagainya. Saat ini memasarkan produk tekstil dan garmen tidak lagi mengenal jarak, semua dengan mudah lintas daerah, wilayah dan Negara.
“Dalam menghadapi persaingan ke depan, kita tidak perlu takut, yang terpenting adalah focus dan mengikuti prosesnya. Kita melakukan sesuai kapasitas dan telaten serta kerja keras dan cerdas,” kata William. Lebih lanjut, beliau menyatakan kita harus tetap mempunyai bisnis utama dan perlu melakukan diversifikasi usaha. Selain itu, harus berkesinambungan dari generasi ke genarasi. Jangan hanya berfikir untuk satu generasi saja setelahnya bingung atau mati.
Tren Fesyen
Para desainer sudah memprediksi tren fashion tahun ke depan secara umum. Para perancang mode, sudah mempersiapkan model-model busana yang diperkirakan akan menjadi tren. Perkembangan tren fesyen sangat dipengaruhi oleh teknologi, budaya, dan perubahan alam serta perilaku konsumen.

Secara desain tahun 2015 diprediksi mengusung desain simple bergaris, dan akan dimotori oleh kaum kreatif yang bermunculan dengan kata kunci creative mind set dan selalu mengedepankan fungsi.

Paduan unsur tradisional dan modern dimodifikasi menjadi lebih simple elegan sehingga tetap ada perpaduan motif dari budaya Indonesia. Warna yang ditampikan lebih harmonis bernuansa netral seperti hitam polos, putih transparan, silver, gold, namun dipadu dengan sentuhan motif tradisional. Siluetnya juga akan lebih sederhana juga asimetris.

Selain itu, ke depan terinspirasi dari kerusakan alam dan ekosistem yang hampir punah. Warna Hitam dan perpaduan warna netral lainnya yang akan mendominasi tema kedua ini. Dari unsure teknologi perkembangan gadget serta generasi muda yang semakin kreatif dalam menciptakan suatu karya khususnya di Kota Jakarta.

Warna terang seperti kuning, ungu, pink, merah, serta oranye, akan mendominasi tren tahun mendatang. Busana yang ditampilkan akan mudah dimodifikasi menjadi berbagai model. Untuk busana muslim akan mengambil warna alami seperti offputih, hijau, coklat tanah, dan hijau menjadi perpaduan dinamis untuk menjadi tren busana muslim 2015.

Read More »
Pewarna Alami, Permata Yang Belum Bersinar

Pewarna Alami, Permata Yang Belum Bersinar

Textile & Garment 28 Januari 2015 Loading..

Penulis :

Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, MS
Pengajar Jurusan Teknik Kimia
Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta

Pada saat ini pewarna alami tidak banyak digunakan dan lebih banyak digunakan zat warna sintetis. Pewarna sintetis lebih banyak digunakan karena lebih praktis dalam penggunaan dan lebih terstandar, meskipun zat warna sintetis memiliki dampak negatif terhadap pengguna dan tidak ramah lingkungan. Penggunaan zat warna alami perlu digalakkan kembali agar dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam indonesia dan dapat mengurangi penggunaan zat warna sintetis yang berbahaya.
Seharusnya seluruh masyarakat Indonesia menjaga dan melestarikan serta membantu mengembalikan kebiasaan penggunaan pewarna berbahan alami. Namun sayang, zat warna alam pada saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Sebagai gambaran ratusan tahun silam, Indonesia sebagai pemasok zat warna alami yang menguasai pasar dunia. Salah satu tanaman sebagai sumber pewarna alami adalah tanaman indigofera. Berdasarkan studi pustaka dan bukti sejarah, tanaman ini dipakai sebagai pewarna sejak masa-masa sebelum masehi di negara-negara Eropa. Baru pada abad ke-16, masyarakat India dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, membudidayakan indigofera secara besar-besaran.
Pembudidayaan indigofera di Indonesia dilakukan melalui culture stelsel, atas perintah pemerintah kolonial Belanda. Pewarna ini digunakan Belanda untuk menyaingi pewarna dari bahan woad (Isatis tinctoria) yang dibudidayakan di Prancis, Jerman, dan Inggris.
Pewarna Alami kalah pamor setelah zat warna sintetis diperkenalkan pada tahun 1897, setelah itu para pengusaha batik lebih tertarik menggunakannya sebagai pewarna produknya. Apa yang terjadi seratus tahun kemudian, sejak tanggal 13 Juni 1996, zat warna sintetis gugus azo, amino aromatis, naptol, direc, dan asam/basa telah dilarang peredarannya karena bersifat karsinogenik (CBI/HB – 3032).
Walaupun zat warna sintetis dilarang, para perajin batik umumnya tetap menggunakan zat warna sintetis karena dianggap lebih terjangkau, praktis, dan berwarna lebih cerah. Meskipun, zat warna sintetis mempunyai efek negatif terhadap pencemaran lingkungan dan berbahaya terhadap kesehatan.
Seiring dengan semakin tinggi kesadaran terhadap kesehatan dan lingkungan, kini potensi pewarna alami kembali digalakkan dan sangat prospektif untuk dikembangkan. Secara global, peminat zat warna alami tidak hanya berlaku di pembeli lokal, tetapi juga para pembeli dari berbagai Negara seperti Jepang dan Korea.
Mari kita kembali ke pewarna alami, agar lingkungan kita tidak semakin tercemar. Kami berharap para pengguna zat pewarna bersedia mengubah pola kebiasaan dengan menggunakan zat warna alami kembali sebagai pewarna produknya. Kita harus bangga karena Indonesia memiliki sumber bahan baku pewarna alami sangat melimpah.
Para leluhur bangsa Indonesia sudah mewariskan budaya penggunaan pewarna alami yang bermanfaat dan aman bagi kesehatan, serta lingkungan. Untuk itu produksi dan penggunaan zat warna alami sudah selayaknya dikembangkan secara optimal.
Untuk mendukung penggunaan kembali zat warna alami, tim peneliti zat warna alami UGM melakukan penelitian dan memproduksi zat warna alami yang praktis, murah, dan berkualitas, sehingga kompetitif dengan zat warna sintetis.
Dengan demikian pengrajin mau menggunakan sehingga dapat mengurangi penggunaan pewarna sintetis yang berbahaya. Kami ingin mengembalikan popularitas Indonesia sebagai produsen dan pengguna zat warna alami terbesar dunia, seperti pada masa lampau, ketika membawa keunggulan lokal ke tingkat global.
Untuk membuat 1 kg serbuk zat warna alami biru dari daun indigofera, dengan nama Gamaindigo, diperlukan sekitar 250 kg daun Indigofera. Jika ingin memproduksi zat warna alami Gamaindigo dalam kapasitas industri, diperlukan pasokan daun Indigofera dalam kapasitas besar, dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan petani.
Kendati membutuhkan pasokan bahan baku yang banyak, hasil yang didapat dari zat pewarna ini juga memuaskan. Setiap 50 gram serbuk zat warna alami biru Gamaindigo dapat digunakan untuk mewarnai 4 lembar kain berukuran standar 2,5 m yang memberikan hasil biru muda atau 2 lembar kain berukuran standar 2,5 m dengan hasil warna biru tua.
Potensi dan Prospek ZWA
Bila Indonesia mengoptimalkan penggunanan zat warna alami, otomatis akan membangun empat faktor utama ekonomi yaitu: investasi padat modal, menghidupkan sektor sosial budaya, pemberdayaan sumberdaya manusia (padat karya), dan pemanfaatkan sumberdaya alam yang melimpah.
Optimalisasi zat warna alami ini sejalan dengan program pemerintah dalam transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam yang bertumpu pada labor intensive, menjadi aplikasi Iptek yang bertumpu pada innovation. Dengan demikian, penggunaan dan produksi pewarna alami dapat berkontribusi positif dalam percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sumber bahan baku zat warna alami yang ingin diproduksi dalam kapasitas industri harus berasal dari tumbuhan atau hewan yang memiliki nilai sosial dan ekonomi yang rendah dan jika dimanfaatkan sebagai bahan baku tidak akan merusak atau mengganggu lingkungan. Selain itu ketersediaannya harus dalam jumlah besar, mudah diperoleh, dan kontinyu. Indonesia memiliki sumber bahan baku zat warna alami yang memenuhi kriteria ini dan belum termanfaatkan dengan optimal.
Untuk memperjelas kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia, berikut contoh-contoh pewarna alam yang bisa dihasilkan dari berbagai tumbuhan. Untuk menghasilkan warna biru alami berasal dari daun indigofera tinctoria, untuk menghasilkan warna kuning cerah alami dan kuat dari Kayu Tegeran. Jika ingin memperoleh warna kuning alami, coklat, dan hitam dapat diperoleh dari kulit buah Jolawe, untuk warna orange alami, merah hati, dan coklat kehitaman dibuat dari kulit kayu Tingi. Pewarna alami menghasilkan krem, coklat, hitam keabu-abuan berasal dari serbuk kayu Merbau.
Melihat potensi itu, produksi pewarna alam Indonesia bisa menjadi penyelamat masa depan yang memiliki nilai-nilai positif dan diharapkan bisa menekan penggunaan dan import zat warna sintetis.
Untuk merealisasikan gerakan penggunaan pewarna alami diperlukan kerjasama dan dukungan berbagai pihak. Kerjasama dan dukungan semua pihak diharapkan dapat menciptakan kerjasama saling menguntungkan, saling menghargai, dan saling mendukung yang bermuara untuk kemajuan Indonesia. Selain itu juga diperlukan dukungan regulasi dari pemerintah dalam gerakan penggunaan pewarna alami dan pemasarannya.
Mari kita kembalikan nilai-nilai dan kearifan lokal para leluhur Indonesia yang selalu menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam. Salam eco green dan clean production.

Read More »