Tags Branding»

5 Steps To Successfully Managing Your Clothing Brand

5 Steps To Successfully Managing Your Clothing Brand

Inspiring Your Business 19 Agustus 2011 Loading..

I saw this post by Rachelle Hynes on behance and thought it was a really simple checklist about what you should be doing with your clothing brand.

Read More »
Making Money

Making Money

Inspiring Your Business 20 Agustus 2011 Loading..

Likewise does the marketplace become annoyed at the business person with a mutating definition of self. It´s for this reason, and in the name of your customers,

Read More »
High-Volume Shops Stay

High-Volume Shops Stay

Textile & Garment 23 Agustus 2011 Loading..

Adding new customers, increasing business with current ones and adding new products cap decorators´ list of most lucrative business strategies.

Dec 1, 2007

Read More »
PrintexShow

PrintexShow

Event 13 November 2014 Loading..

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Pengelola Kawasan Pusat Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Permukiman Pulogadung (PKPPUKMPP) bersama Majalah Printex menyelenggarakan sebuah pameran untuk mempertemukan para produsen atau distributor dengan para pekalu bisnis di lingkungan PIK pada tanggal 24 September 2014.

Pameran yang mengambil lokasi di kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan selama satu hari diikuti oleh enam peserta yang terdiri dari produsen dan distributor yaitu Mimaki, Dunia Sandang, Barudan, Charlie SPS, Juki dan Groz Beckert.

PIK Penggilingan merupakan salah satu sentra bisnis andalan di DKI Jakarta yang mempunyai peran sangat penting. PIK diharapkan mampu menumbuhkan ekonomi kerakyatan, karena itu perlu terus ditumbuhkembangkan guna menghadapi era pasar bebas yang penuh tantangan.

PIK Penggilingan yang terletak di jalan Raya Penggilingan, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur dibangun pada masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Cokropranolo tahun 1982. Pemerintah daerah terus dibina secara sistematis oleh Pemerintah Daerah Jakarta.  Industri kecil ini memegang peranan penting dalam pembangunan di suatu wilayah.

Pemerintah daerah Jakarta berupaya mengembalikan PIK sebagai perkampungan industri dengan dukungan berbagai pihak. Namun sayang, barang-barang yang diproduksi PIK masih memerlukan biaya produksi tinggi, sehingga tidak mampu bersaing dengan produk China yang beredar di pasar Indonesia.

Untuk mengatasi biaya  operasional dan memenangkan persaingan perlu adanya jembatan yang menghubungkan produsen atau distributor dengan para pelaku bisnis. Salah satunya dengan menyelenggarakan pameran seperti Printex show ini yang mempunyai tujuan menginformasikan berbagai perkembangan yang terjadi, baik produk dan maupun teknologinya.

Ter-update-nya informasi kepada pelaku usaha diharapkan bisa membantu keberhasilan bisnis mereka dan akhirnya mampu memenangkan persaingan bisnis di daerah, nasional dan internasional.

Dalam sambutannya, Bambang Supriyadi, pendiri dan pemimpin redaksi Majalah Printex mengatakan, “Sangatlah penting mempertemukan para pelaku bisnis industri apparel dengan produsen atau distributor, lembaga pendidikan fesyen dan masyarakat umum.”

Bambang menjelaskan, salah satu teori untuk memahami keterkaitan elemen-elemen penting dalam suatu usaha adalah teori Triple Helix yang diperkenalkan oleh Henry Etzkowitz, seorang peneliti dari Stanford University. Triple Helix merupakan suatu hubungan resiprok antara tiga elemen besar dalam suatu usaha, yakni pemerintah, akademisi, dan industri.

Dalam teori ini, pemerintah diperkenalkan sebagai publik kontrol. Pemerintah memiliki fungsi untuk memberikan batasan dari kegiatan di dalam usaha tersebut dalam bentuk regulasi atau peraturan-peraturan dalam tingkat cakupan tertentu.

Sementara akademisi diperkenalkan sebagai novelty production. Lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi atau universitas tentunya diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam memperbaharui dan melahirkan inovasi-inovasi yang menunjang aktivitas negara di berbagai disiplin ilmu.

Sedangkan industri diperkenalkan sebagai wealth generation. Tentu saja, proses bisnis dilakukan oleh industri dan dari pintu inilah seharusnya negara memperkaya dirinya, untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya.

Suryantika Sinaga

“Kegiatan Printex Show ini sangat penting, karena dapat menjadi jembatan antara produsen atau distributor dengan para pelaku bisnis terkait” kata Suryantika Sinaga, Kepala Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Pengelola Kawasan Pusat Pengembangan Usaha Mikro (PKPPUM).

Suryantika berharap kegiatan seperti Printex Show ini berlangsung paling tidak tiga tau empat kali dalam setahun. “Rutinnya pertemuan antara produsen dengan pelaku usaha otomatis akan memberikan informasi segar dan bisa mengetahui teknologi yang sedang berkembang. Akhirnya para pelaku bisnis dapat meningkatkan produksinya,” tambahnya.

Dalam sambutannya, Suryantika mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini, dan berharap para undangan yang hadir dapat memanfaatkan peristiwa penting ini.

Printex Show 2014 ini mendapat respon luar biasa dari pelaku  bisnis industri apparel dari lingkungan PIK, sekitar 67 pelaku usaha hadir ke pameran. Mereka secara umum cukup gembira bisa hadir dan berharap, kegiatan seperti ini akan sering diselenggarakan.

Semangat para pelaku bisnis terlihat dalam pemeran ini. Mereka mencoba memperoleh informasi dari para produsen peralatan industri tekstil dan garmen seperti Mimaki, Dunia Sandang, Barudan, Charlie SPS, Juki dan Groz Beckert yang menjadi peserta pameran Printex Show.

Sementara para produsen juga terlihat antusias memperkenalkan teknologi terkini kepada para pengunjung yang merupakan pelaku usaha di lingkungan PIK Penggilingan. Selain menjelaskan para peserta juga mendemokan berbagai peralatan terbaru yang dibawanya, agar bisa membantu dan meningkatkan produksi para pelaku usaha.

Para pengunjung secara bergiliran berpindah dari satu peserta ke lainnya. Seperti terlihat booth Charlie SPS sebagai produsen tinta sablon Indonesia berkualitas Internasional. Charlie SPS juga memamerkan dan mendemokan peralatan screen printing kepada para pengunjung pameran. Alfred, General Marketing Charlie SPS menjelaskan peralatan dan tinta printing serta sablon kepada siapa pun.

Para pengunjung pun terlihat antusias mendengarkan apa yang dijelaskan oleh crew Charlie sps. Selain mendengarkan penjelasan, para pengunjung melontarkan berbagai pertanyaan dan juga mencoba peralatan yang disediakan.

Charlie SPS

Suasana yang sama juga terlihat di booth Dunia Sandang, perusahaan pakaian asal Bandung, Jawa Barat yang menampilkan berbagai produk kaos dan lainnya. Begitu juga di booth Mimaki, Barudan, Juki, dan Groz Beckert.

Dunia SandangBarudan

Majalah Printex dan pengelola kawasan PIK berharap kegiatan pameran Printex Show 2014 bisa menjadi jembatan yang saling menguntungkan baik bagi produsen atau distributor maupun pelaku bisnis walau pun hanya berlangsung selama satu hari. Semoga kegiatan seperti ini bisa rutin dilakukan.

Read More »
Indoprint 2014, Pameran 3 in 1 Terbesar di Indonesia

Indoprint 2014, Pameran 3 in 1 Terbesar di Indonesia

Event 24 November 2014 Loading..

Sekitar 400 perusahaan dari 20 negara turut ambil bagian dalam pameran INDOPLAS, INDOPACK dan INDOPRINT 2014 pada tanggal 3 – 6 September 2014 di Hall A – D Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta dengan areal seluas 13 ribu meter persegi.

Pameran dua tahunan ini diselenggarakan oleh Messe Düsseldorf Asia dan PT. Wahana Kemalaniaga Makmur (WAKENI). Pameran 2014 untuk melanjutkan kesuksesan pameran tahun 2012 dan menghadirkan teknologi canggih terkini, inovasi dan solusi-solusi bagi pasar industri dan retail Indonesia yang sedang tumbuh.

Pameran 3-in-1 ini menjadi pameran serba ada yang menghadirkan rangkaian produk terlengkap dan terbaru guna memenuhi kebutuhan rantai suplai dari hulu ke hilir bagi ketiga industri. Mulai dari bahan, komponen setengah jadi, mesin dan perangkat multi fungsi, solusi khusus.

Untuk industry plastik, para perserta menampilkan teknologi plastik canggih seperti mesin injeksi dan blow moulding, mesin efisiensi energi thermoprocessing dan mesin daur ulang, rangkaian ekstrusi dan komponen plastik.

Sementara untuk industri pengemasan, para peserta menampilkan solusi-solusi kreatif dalam pengemasan dan pemrosesan untuk folding carton, corrugated board dan industri material fleksibel. Selain itu berbagai aplikasi percetakan terbaik mulai dari sheetfed dan offset presses, solusi gravure hingga peralatan-peralatan percetakan-pengemasan terpadu ditampilkan.

Para peserta seperti ANDRITZ, ASABA, MIMAKI INDONESIA, KAWATA PACIFIC, KRAIBURG TPE TECHNOLOGY, WELDY dan YOKOGAWA INDONESIA menampilkan produk baru atau peningkatan produk dengan aspek teknis yang dapat menghemat energi dan biaya, reliabilitas produksi dan kemampuan kinerja yang tinggi.

Pameran ini juga mempertemukan asosiasi-asosiasi perdagangan terkemuka di dunia dan para ahli untuk berbagi ilmu serta perkembangan teknologi untuk mendorong Indonesia dan sektor industri plastik, pengemasan, pemrosesan dan percetakan Indonesia dan wilayah Asia Tenggara.

Sebagai pameran dua tahunan, digelar pada waktu yang tepat mengingat siklus dua tahunan memberikan suasana yang tepat bagi produsen teknologi untuk mengakomodasi perubahan teknologi yang pesat, research & development, siklus inovasi guna menghadirkan mesin berkinerja tinggi & teknologi pemrosesan yang dkembangkan sesuai dengan standar internasional.

Rini Sumardi, Direktur WAKENI berharap pameran ini mampu memenuhi permintaan pasar dan kebutuhan produksi lokal. “Kami yakin  event ini memberikan platform bisnis yang kuat di mana para pengunjung dapat menemukan peluang jaringan bisnis yang kondusif, menjalin hubungan bisnis dan mendapatkan masukan-masukan praktis mengenai tren yang saat ini terjadi guna menginspirasi mereka mengambil keputusan bisnis yang baik,” jelasnya.

Read More »
All Print Indonesia 2014, Pagelaran Teknologi Printing Terbesar

All Print Indonesia 2014, Pagelaran Teknologi Printing Terbesar

Event 24 November 2014 Loading..

All Print Indonesia 2014 yang diselenggarakan Krista Exhibitions diikuti oleh perusahaan dari China, Korea, Malaysia,  Singapura, India, dan Taiwan menampilkan berbagai teknologi printing untuk cetak digital, cetak tekstil, cetak sablon, 3D Print, LED, LABEL, Kemasan atau box dan jasa cetak.

Berbagai mesin berteknologi pun didatangkan seperti mesin offset 4 warna dari Jepang, mesin offset 5 warna, Three-Knife Trimmers, Die-Cutting Machine, Book Binding Machines, Laminating Machines, Stitching Machines, large format digital printing, Computer to plate systems, continuous stationary printing presses, chemicals, ink-jet Papers, printing inks automated (combines), screen printing machines, adhesives & glues, Adhesive Viny, Consumable, Display system, Eco Solvent printer, ink & cleaning liquid, Pigment papers, Solvent printer, dan spare parts Machine.

Pameran ini menyelenggarakan seminar dengan mengangkat tema-tema menarik yang pastinya diperlukan oleh semua pihak yang terlibat guna memberikan informasi yang lebih lengkap. Selain itu, pameran juga memperlihatkan kegiatan demo and training vehicle wrapping.

All print Indonesia 2014 diharapkan dapat mendorong pelaku usaha di industri percetakan untuk menghasilkan produk-produk berkualitas. Ajang ini juga bisa menjadi jembatan penghubung dan sarana kemunikasi serta sumber informasi antara manufaktur, pelaku usaha dan pembeli atau konsumen. Pameran ini terbuka para pelaku bisnis, pengusaha di bidang percetakan dan mahasiswa.

Pameran ini didukung oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan asosiasi seperti Asosiasi Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Tut Wuri Handayani, Asia Print, Indonesia Print Awards, Asian Print Awards, Indonesia Print Awards, Asian  Print Awards, Indonesia Packaging Federation (IPF), dan Indonesia Assosiation of exhibition and Convention Organizers.

“Industri grafika merupakan industri yang memiliki potensi begitu besar untuk dikembangkan. Indonesia merupakan Negara terbesar ke enam di dunia di industri pulp, sedangkan industri kertasnya menduduki posisi ke Sembilan terbesar di dunia, kata Panggah Susanto, Direktur Jenderal Kementerian Perindustrian.

Sementara itu, menurut ketua Asosiasi Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Jimmy Juneanto mengatakan, “Industri grafika yang ditekuni tidak akan mati seiring dengan perkembangan atau kemajuan teknologi yang terjadi, bahkan saling melengkapi untuk mendapatkan efisiensi yang lebih baik.”

Masyarakat merespon positif pameran ini. Antusias pengunjung sudah terlihat pada hari pertama pameran, sekitar 3.236 orang berbondong-bonding menyaksikan pameran. Para pengunjung ingin melihat, mengerti dan mengikuti kemajuan teknologi. 

Read More »
Swans Twenty, Paduan Busana Tradisional Sentuhan Modern

Swans Twenty, Paduan Busana Tradisional Sentuhan Modern

News 09 Desember 2014 Loading..

Para desainer berlomba menampilkan rancangannya dengan mengangkat kain budaya Nasional, misalnya Edward Hutabarat, Didit Maulana dengan tenun ikatnya, atau Ghea Panggabean dengan motif kekayaan Nusa Tenggara Timur yang didesain wearable untuk acara sehari-hari.

Swans Twenty, brand lokal baru di industri fashion yang muncul pada pertengahan 2014 lalu yang mempunyai visi untuk memperkenalkan motif-motif asli negeri ini kepada khalayak muda. Misalnya, motif batik, songket, dan juga kerah ala kebaya Jawa sehari-hari.

Busana anak muda identik dengan warna-warni super cerah, ripped everywhere, dan jauh dari kesan etnik. Cukup banyak orang beranggapan, busana etnik biasanya sih identik dengan orang-orang yang berumur tetapi hal ini tidak berlaku bagi SwansTwenty.

Awalnya mereka menawarkan karya busana secara online di swanstwenty.com. “Koleksi kami diminati oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara seperti Malaysia, Brunei, Hongkong, dan Australia,” kata Lucy Akmaltalia, pemilik dan Direktur Branding Swans Twenty.

Lucy membuka butik ini untuk memastikan bahwa koleksi bisa didapatkan di butik, sehingga kenyamanan konsumen menjadi lebih. “Berdasarkan pengalaman kami ketika membeli beli baju secara online ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang ditampilkan,” jelasnya dalam pembukaan butik Swans Twenty di Jakarta.

Butik SwansTwenty menghadirkan koleksi busana sentuhan tradisional Indonesia yang dapat dipakai sebagai busana keseharian, khususnya bagi generasi muda yang tetap ingin tampil young, trendy dan chic.

Butik berkonsep “Traditional Touch of Modern Indonesia”, hadir di Jalan Gandaria 1 No.47 , Jakarta Selatan dengan menawarkan rancangan busana karya anak bangsa. Koleksi Swans Twenty cocok untuk segmen pasar berusia 18 – 30 tahun dengan harga yang ditawarkan sekitar Rp300 ribu sampai  Rp1,5 juta. Selain itu, juga menawarkan merek second line mereka yakni “Nimonina”. Merek ini untuk mengakomodir keinginan para konsumen segmen B dan C untuk busana dengan kisaran harga Rp50 ribu – Rp300 ribu.

‘SwansTwenty´ dan ‘Nimonina by SwansTwenty´ siap mengakomodasi tren busana yang mengangkat unsur tradisional Indonesia. Model-model busana yang modis ini tak lain merupakan sentuhan kreatif para desainer muda berbakat yang menjadi tulang punggung kepiawaian dua brand dalam membidik pasar fashion Tanah Air.

Desainer Dibalik Swans Twenty dan Nimonina

Sentuhan inovatif dan kreatif dua desainer muda berbakat Indonesia yakni Mega dan Sofia Sari Dewi mampu menghadirkan rancangan modern sentuhan tradisional. Mega sebagai desainer peringkat 11 besar lulusan terbaik sekolah mode Susan Budiarjo tahun 2014 sedangkan Sofia Sari Dewi merupakan juara ketiga kontes “Citilink Desaigner Challenge” dan Nominator Reka Baru Design Indonesia tahun 2014.

Mega dan Sofie bermimpi ingin menjadikan fashion lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Masyakarkat Indonesia jangan hanya bangga pakai produk luar negeri, fashion lokal juga bagus-bagus,” kata Sofia.

Hasil rancangan mereka pada merek Swans Twenty diterima dan diminati konsumen Malaysia dan sudah menghiasi tiga butik di Malaysia. “Orang Malaysia sangat excited dengan fashion dari Indonesia karena cutting-nya bagus,” tandasnya.

“Semoga butik Swans Twenty bisa terus memenuhi kebutuhan para fashionista dimana pun dan terus eksis dalam industri fashion, serta dapat menjadi spot fashion berkelas," harap Lucy Akmalita. Lucy menambahkan sesuai makna dariu nama SwansTwenty yaitu brand ini akan terbang melanglang buana seperti angsa dan dapat diteruskan hingga lebih dari tujuh turunan.

Read More »
NANOSNG MEMBUAT IGE YOGYA LEBIH NGEJRENG

NANOSNG MEMBUAT IGE YOGYA LEBIH NGEJRENG

News 09 Desember 2014 Loading..

Sebagai salah satu peserta pameran IGE (Indonesia Grafika Expo) kali ini di Yogyakarta 15-18 Oktober 2014, NANOSNG salah satu perusahaan Korea yang bergerak dibidang cetak digital di atas tekstil nampak sangat menonjol. Dengan “gerbang” yang tinggi seperti arch de triumph di Paris, stand NANOSNG berdiri megah di tengah peserta lannya.

Mr.Yang Bae Geun, Direktur SNG menyatakan bahwa setiap kali ikut pameran selalu membawa seluruh peralatan cetak sublimasinya secara lengkap yaitu printer MUTOH seri VJ1324 V, RJ 900X, VJ 1624W dan VJ1638 WX  serta Heat Press KYUNGILTECH type GTS 44 dan type ATM 3-70. Semuanya ini untuk menunjukkan kepada khalayak Yogya bahwa proses cetak sublimasi ini mudah dan tidak perlu tenaga banyak.

Kalau di stand NANOSNG kita melihat satu motor trail besar dan beberapa jersey dan pakaian balap, maka pada pameran kali ini, NANOSNG mengajak patner lokalnya di Yogyakarta yaitu ADRIANS ADRIANS dikenal di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Pembalap motor trail dan road racer, dan mengembangkan bisnisnya dengan  membuka toko untuk keperluan balap, seperti motor, pakaian balap, jersey dan kelengkapan lainnya. ADRIANS juga telah mengembangkan jasa printing digital subimasi untuk pembuatan pakaian balap.

“Dengan rangkaian peralatan printing sublimasi yang relatif sederhana  dapat dipakai sebagai modal awal untuk membuka usaha jasa printing tekstil” ungkap Iwan, dari Pemasaran NANOSNG. Printing sublimasi tidak hanya diterapkan dalam pakaian olah raga, tetapi juga untuk mencetak kain sifon, dan juga pada kain satin untuk jilbab, sarung bantal dan berbagai kegunaan lainnya.

Untuk itu pada pameran kali ini NANOSNG lebih mentargetkan untuk memberi edukasi untuk industrialis Yogya dan Solo akan kemampuan ini, karena selama ini banyak jasa printing sublimasi dikerjakan di Bandung dan Jakarta yang sebenarnya bisa dikerjakan di Yogya sendiri

Pada pameran IGE kali ini NANOSNG telah menjual beberapa mesin heatpress GTS dan mesin laminating yang bekerjasama dengan perusahaan leasing Verena. “Dengan dana sebesar 205 juta rupiah Anda sudah dapat memulai bisnis printing sublimasi”, imbuh Iwan. (Bambang Supriyadi, PRINTEX)

Read More »