Tags Embroidery»

Embroidery Stitches

Embroidery Stitches

Other Application 13 November 2014 Loading..

JAHITAN BORDIR atau embroidery stitches secara garis besar dibedakan menjadi jahitan tangan (hand or manual embroidery) dan jahitan yang dihasilkan dengan mesin bordir. Dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai jahitan mesin bordir.

Jenis Jahitan Bordir

Untuk mengkreasikan sebuah desain, banyak tipe dan variasi jahitan yang dapat dipadukan. Jahitan mesin bordir secara umum dibagi dalam
tiga kategori :
1.Jahitan satin atau satin stitches

Adalah jahitan yang banyak digunakan pada teks atau sebagai pembatas bidang (border). Jahitan satin bergerak secara zigzag, yakni kiri-kanan atau atas-bawah. Dilihat dari samping akan terkesan sedikit menonjol dari permukaan bahan yang dibordir dan menghasilkan satiny feel ketika disentuh.

Jahitan satin sendiri terdiri dari berbagai variasi, yakni :
a. Programmed satin adalah jahitan satin yang berpola atau bermotif. Motif-motif tersebut dapat kita buat sesuai keinginan kita, misalnya: motif bundar, diamond, gelombang, dan lain-lain.

b. Jagged satin adalah jahitan satin yang bergerigi, yang panjang jahitannya
bervariasi sesuai range yang kita kondisikan. Jagged satin banyak dipakai untuk memberi kesan natural dan berbulu; misalnya bordir pada wajah beruang, harimau, dan lain-lain.
c. Star adalah jahitan satin yang berotasi pada satu titik pusat dan membentuk bintang.
2. Jahitan Tatami atau tatami stitches atau kadang kala disebut interlocking stitch Digunakan untuk mengisi bidang. Area terluas dari desain bordir umumnya menggunakan jahitan tatami. Tatami adalah sejenis tikar pelapis lantai yang umum digunakan dalam rumah tradisional Jepang. Anyaman tatami Jepang inilah yang menginspirasi penyebutan nama Tatami Stitches. Jahitan tatami juga terdiri dari beberapa variasi :
a. Tatami yang beralur horisontal, tegak lurus, beralur miring, beralur miring sekali. Kemiringan arah jahitan tatami dapat diatur dan akan menghasilkan efek cahaya yang berbeda-beda.

b. Programmed fill atau motif fill adalah jahitan tatami yang bermotif dan motifnya dapat diprogram sesuai keinginan kita, misalnya : motif hati, motif diamond, motif gelombang, dan sebagainya.

3. Jahitan “running” atau running stitches adalah jahitan sejalan atau segaris. Running stitches sering digunakan sebagai pembatas bidang, membuat outline gambar atau membuat teks yang amat kecil di mana satin tidak sanggup melakukannya. Jahitan running juga memiliki variasi yang disebut programmed run atau motif run, yaitu jahitan running yang bermotif dan motifnya dapat diprogram sesuai keinginan kita, misalnya : motif segitiga, motif bundar, motif “****”, motif “++++”, dan sebagainya.
Setiap desain bordir mempunyai karakteristik tentang jenis jahitan apa yang sebaiknya diaplikasikan, berapa kemiringan arah tataminya agar memberi efek cahaya yang menarik. Misalnya sebuah logo dengan teks “Maestro” di atas bidang biru. Maka kita dapat memilih jahitan tatami untuk mengisi bidang biru terlebih dahulu, kemudian baru membordir teks “Maestro” di atas bidang biru dengan jahitan satin atau jahitan running.
KUALITAS HASIL BORDIR DAPAT BERBEDA
Pada umumnya semua mesin bordir otomatis dapat membordir ketiga macam jahitan dasar tersebut. Meski demikian, kualitas hasil bordirnya dapat berbeda sangat signifikan; ada yang amat halus, ada pula yang kurang halus. Perbedaan hasil antar berbagai merek mesin terletak pada ketepatan atau presisi gerakan pembidangan bordirnya dengan tusukan jarum, yang akhirnya amat menentukan kehalusan hasil bordir tersebut serta nilai jualnya.

Faktor apa yang menyebabkan perbedaan presisi antar berbagai merek mesin tersebut? Yang utama adalah komponen-komponen yang dipakainya, seperti motor yang super presisi (lebih mahal) atau motor yang biasa-biasa saja; sistem apa yang dipergunakan untuk penggerak bidang bordirnya atau pantograph, getaran mesin, kestabilan mekanisme turun-naik jarum, dan software yang ditanamkan ke mesin bordir tersebut.

DENSITY ATAU KERAPATAN JAHITAN

Untuk melengkapi pengetahuan tentang stitches, penulis menjelaskan tentang salah satu variabel penting, yakni density atau kerapatan jahitan. Densitas dalam sebuah desain adalah salah satu faktor penting yang harus diketahui demi menghasilkan kualitas bordir yang baik. densitas adalah variabel yang dapat diatur dan dimanipulasi melalui software bordir. Density jahitan yang renggang menyebabkan hasil bordir tampak renggang dan tidak berkualitas, serta mengurangi jumlah stitches dari desain tersebut. Misalkan sebuah desain yang seharusnya 5.000 stitches direnggangkan sehingga hanya menjadi 4.000 stitches. Apabila 5.000 stitches dikerjakan dalam waktu 5 menit, maka 4.000 stitches hanya dikerjakan dalam waktu 4 menit, semakin cepat selesai. Tentu saja dengan pengurangan stitches ini mesin bordir akan menghasilkan jumlah yang lebih banyak. Hal ini sering “terpaksa” dilakukan oleh pabrik bordir demi mengejar harga murah yang ditawar oleh pemberi order. Nah, sekarang Anda memahami alasan mengapa banyak pakaian yang dijual secara grosir mempunyai kualitas bordir dengan density yang direnggangkan. Density jahitan yang terlalu rapat juga tidak dianjurkan, hal ini dapat menyebabkan putusan jarum dan benang dikarenakan gesekan yang terlalu rapat serta mengakibatkan kerutan pada kain. Semakin sering putus benang, kualitas bordir semakin buruk dan produktivitas mesin semakin rendah. Berapa density jahitan bordir yang optimum? Jawabannya tergantung pada ketebalan benang, bahan yang dipergunakan, serta karakter desain. Misalkan Anda menggunakan benang bordir standar berukuran 120/2d dengan bahan kain yang tidak tipis, maka densitas dapat diatur melalui software bordir pada 4 point (= 0.4mm, jarak antara baris jahitan bordir). semakin tipis benang bordir yang Anda pergunakan, densitas semakin perlu dirapatkan atau dinaikkan; begitu pula sebaliknya. Aturlah juga densitas sesuai dengan bahan kain dan ukuran desain. Pada umumnya, semakin tipis bahan kain dan semakin kecil desainnya, densitas perlu direnggangkan.

Read More »
Target Ekspor Tekstil Naik Tiga Kali Lipat Tahun 2019

Target Ekspor Tekstil Naik Tiga Kali Lipat Tahun 2019

News 13 Januari 2015 Loading..

Pemerintah dan pengusaha Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) diharapkan saling bekerjasama untuk meningkatkan ekspor nasional tiga kali lipat pada tahun 2019. Menteri Perindustrian Saleh Husin meminta kedua pihak bersma-sama mewujudkan target pemerintah ini.

Nilai ekspor industri TPT Indonesia diharapkan mencapai nilai 36 miliar Dolar AS pada tahun 2019, saat ini nilai ekspor industri TPT telah mencapai 12,68 miliar Dolar AS dengan surplus neraca perdagangan sekitar 4,21 miliar Dolar AS. Dengan nilai ekspor tersebut,  produk TPT mampu memberikan kontribusi ekspor sebesar 11,22% terhadap total ekspor industri nasional.

Menperin menyatakan industri TPT mampu mempertahankan surplus rata-rata senilai 4,3 miliar Dolar AS dengan kontribusi ekspornya di atas 10% terhadap total ekspor industri nasional. Kontribusi produk tekstil terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan non migas mencapai 8,67%. Dalam hal tenaga kerja industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 10,6% dari total tenaga kerja industri manufaktur. Padahal neraca perdagangan nasional mengalami defisit sejak tahun 2012.

"Saya harap para pengusaha industri TPT bersama pemerintah dapat bekerja sama untuk mewujudkan target ekspor 2019 sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing," kata Saleh Husin, Menteri Perindustrian (Menperin).

Menperin mengutarakan industri TPT nasional merupakan industri strategis yang memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan sandang dalam negeri, serta penghasil devisa ekspor non migas dengan nilai yang cukup signifikan. Sementara itu, industri TPT memiliki struktur industri yang telah terintegrasi dari hulu ke hilir. Produk garmen nasional sudah diakui dunia sebagai produk berkualitas baik yang diminati di manca Negara.

Industri TPT telah menunjukkan nilai surplus perdagangan dalam beberapa tahun terakhir mencapai lebih dari 6 milyar dolar AS. Bahkan pada triwulan II tahun 2014, ekspor industri garmen mencapai 3,7 miliar Dolar AS atau berkontribusi sebesar 58% dari total ekspor Industri TPT Nasional.

Sementara itu, di sisi ketenagakerjaan, industri garmen memberi kontribusi penyerapan tenaga kerja mencapai 800 ribu orang dan setiap tahunnya memberikan tambahan penyerapan tenaga kerja baru hingga 30 ribu orang. Sebesar 52% dari SDM industri TPT diserap oleh industri garmen.

Gambaran di atas mencerminkan, industri garmen berpotensi sebagai penggerak utama perekonomian nasional dan produk garmen Indonesia diakui kualitasnya di mancanegara. Namun, kinerja yang sudah baik ini harus lebih ditingkatkan dengan mengintegrasikan kemampuan suplai bahan baku kain dari dalam negeri.

Saat ini, industri TPT membutuhkan kain hingga 2,1 juta ton per tahun, sedangkan kapasitas produksi industri kain mencapai 2,5 juta ton per tahun. Melihat ketidakseimbangan itu maka seharusnya kebutuhan produk kain dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri. Indonesia masih melakukan impor kain mencapai 615 ribu ton atau 29% dari kebutuhan kain domestik.

Pemerintah sudah berupaya memperbaiki program untuk industri ini, misalnya Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan industri TPT yang telah berlangsung selama delapan tahun seharusnya telah memiliki kemampuan yang memadai. Ke depan koordinasi dan komunikasi yang terbuka diharpkan dapat menjawab permasalahan yang terjadi.

Untuk mewujudkan target maka Kementerian Perindustrian berkomitmen akan mendukung industri TPT agar bisa berjaya di pasar domestik  maupun mancanegara.

Read More »
Industri Tekstil Indonesia Kompetitif Di Pasar Global

Industri Tekstil Indonesia Kompetitif Di Pasar Global

News 28 September 2016 Loading..

Indonesia mencatatkan nilai transaksi yang cukup tinggi pada gelaran Texworld 2016 di Paris, Perancis pada 12 - 15 September 2016 yang lalu. Total transaksi tercatat menembus angka USD 5,5 juta.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Kementerian Perdagangan, Arlinda, optimis tekstil Indonesia masih kompetitif di pasar global. “Estimasi total kontak dagang mencapai USD 5,5 juta. Nilai ini diperoleh dari delapan perusahaan yang difasilitasi Kemendag. Produk yang paling banyak diminati di antaranya polyester fabric, viscose ring yarn, cotton black dyed yarn, lace, print cotton, dan rayon yarn. Lebih dari 120 inquiry datang dari mitra dagang tetap Indonesia,” jelas Arlinda.

“Merek busana tenar dunia seperti Polo Ralph Lauren dan The Apparell Group adalah salah satu dari sederetan buyer yang berminat dengan tekstil Indonesia. Tak hanya itu, buyer Turki juga memiliki minat yang tinggi untuk tekstil Indonesia sehingga berpeluang meningkatkan ekspor ke Turki,” tambah Arlinda.

Pameran Texworld Paris merupakan pameran produk tekstil terbesar, terlengkap dan telah dikenal dunia. Selain itu Paris merupakan pusat mode dunia untuk para desainer internasional yang menampilkan tren terbaru. Texworld Paris 2016 diikuti oleh 987 exhibitors dari 27 negara dan menampilkan zona peserta khusus yaitu “Elite” exhibitor. Para peserta yang tergabung dalam zona elite ini merupakan hasil seleksi dari pihak penyelenggara dengan beberapa kriteria di antaranya memiliki kualitas produk dengan penilaian terbaik, harga produk yang kompetitif, sangat responsif, dan sistem logistik yang terbaik.


Paviliun Indonesia tampil dengan tema “Remarkable Indonesia” menempati lokasi di hall 4, Paris Le Bourget. Paviliun yang menempati area seluas 96 m2 ini merupakan hasil kerja sama antara Ditjen PEN dengan Atase Perdagangan Paris dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Lyon. Paviliun tersebut diisi delapan perusahaan Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yaitu, PT. Gistex (Polyester Woven Fabric), PT.Hakatex (Linen,Cotton), PT. Sinar Para Taruna (Wrap Knitting Plain,Lace), PT. Sinar Continental (Printing Apparel), PT. Excellence Qualities Yarn (Yarns), PT.Indo Hasasi (Linen,Cotton), PT. Kewalram (Embroidered Products), dan PT.Mayer Indah Indonesia (Lace, Embroidery, Tulle & Tricot).

”Sebagai platform promosi bagi industri tekstil dunia, Texworld menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk lebih memperkenalkan tekstil terutama industri fesyen kita yang telah berkembang pesat kepada pasar global,” pungkas Arlinda.

Nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia ke Prancis pada semester pertama 2016 mencapai USD 46,52 juta. Prancis merupakan negara tujuan ekspor ke-8 Indonesia di kawasan Eropa. Posisi Indonesia masih dapat diperhitungkan sebagai negara penyuplai produk tekstil ke Prancis. Permintaan pasokan bahan baku pakaian atau tekstil ke Prancis pada 2015 cukup tinggi, yakni senilai USD 28,81 miliar. (BW)

Read More »