Tags Industri Kreatif»

Potensi Industri Kreatif Kota Malang

Potensi Industri Kreatif Kota Malang

News 29 September 2016 Loading..

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menerima Walikota Malang, Mochamad Anton, beserta jajarannya serta Koordinator Malang Creative Fusion (MCF) Vicky Arief pada hari Rabu 28 September 2016. Kedatangan mereka disambut Wakil Kepala Bekraf, Ricky Joseph Pesik dan Deputi III Bidang Infrastruktur Hari Santosa Sungkari.

Pertemuan ini membahas mengenai potensi industri kreatif di Kota Malang dan menghasilkan beberapa gagasan.

Pertama, Ricky menyarankan agar MCF menjalin kerjasama dengan Deputi I Bidang Riset, Edukasi, dan Pengembangan Bekraf. Terutama, yang berhubungan dengan BISMA (Bekraf Information System In Mobile Application).

Kedua, Bekraf mendukung ide koperasi pelaku bisnis ekonomi kreatif (Ekraf).

Ketiga, Ricky juga menyarankan koperasi tersebut bekerjasama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), para pebisnis ekonomi kreatif dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).

“Malang butuh primadona event sebagai barometer industri kreatif. Sehingga, para tamu penting di bidang industri kreatif bisa hadir pada waktu bersamaan dan bertemu pelaku ekonomi kreatif Malang,” imbuh Ricky.

Keempat, Hari menyampaikan, Bekraf bisa membantu mendatangkan LPDB jika MCF mampu menyiapkan 50 sampai 100 pebisnis ekonomi kreatif. Malang juga perlu menjalin hubungan baik dengan Perkumpulan Co-working Space Indonesia untuk memperluas jaringan. "Aktivasi dan inkubasi Co-working Space sebagai pusat berkumpul para startup dan pelaku ekonomi kreatif adalah hal utama yang perlu diupayakan. Sehingga, co-working space merupakan ruang kolaborasi, memperluas jaringan mentor, inkubasi, mendapatkan calon investor, dan business coaching” pungkas Hari.

Dinamika Kreatif Kota Malang

Keempat kesimpulan tersebut menanggapi pesan Mochamad Anton tentang keseriusan Pemkot Malang mengembangkan industri ekonomi kreatif dan akan menggarap serius kreativitas warga Malang. “Malang memiliki 300.000 lulusan sekolah dan Universitas. Pemerintah Kota Malang telah mendukung kreativitas ekonomi kreatif Malang. Kami berharap, Bekraf melibatkan Malang dalam acara ekonomi kreatif dan bisa memfasilitasi Malang,” ujar Anton.

Koordinator MCF Vicky Arief menambahkan, dinamika kreatif Kota Malang setelah penyelenggaraan Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) berkembang makin pesat. Sebab, sebelumnya komunitas kreatif Kota Malang hanya berjalan parsial. Sebagai bukti, awalnya komunitas fotografer hanya berkumpul dengan fotografer saja. Namun, usai ICCC, komunitas Kota Malang seluruhnya melebur menjadi satu dalam wadah bernama MCF.

MCF merupakan wadah atau komunitas plural di Kota Malang yang fokus terhadap kreativitas. Sampai sekarang, sudah terdapat 8.000 orang pebisnis ekonomi kreatif yang bernaung di bawah MCF. Jumlah ini merupakan hasil pendataan dan kurasi (seleksi) untuk mengidentifikasi para pebisnis ekonomi kreatif di Kota Malang. MCF menciptakan jejaring forum dan asosiasi pelaku ekonomi kreatif untuk menciptakan pusat ekonomi kreatif. Komunitas ini juga berhasil merangkul quadrohelix yang terdiri dari komunitas, akademisi, pemerintah, dan para pengusaha untuk bersinergi dalam mewujudkan Malang Kota Kreatif. “Tujuan MCF yaitu Malang Makmur melalui pusat pengembangan industri kreatif,” tegas Vicky.

Tahun ini, program MCF antara lain mengembangkan sistem informasi industri kreatif Kota Malang melalui platform, pendirian koperasi ekonomi kreatif, serta menyelenggarakan Malang Creative Week (MCW). Sistem informasi MCF tersebut meliputi website, media sosial, dan mobile application. Sementara MCW rencananya akan berlangsung November-Desember 2016. Tujuannya sebagai “branding kota”. Kegiatan MCW di antaranya meliputi workshop, talkshow, pameran potensi industri Kota Malang, creative market, festival kuliner, business matching, fashion show, art performance, dan peluncuran sistem informasi industri kreatif Malang.

Vicky juga menyampaikan, MCF pun sedang mempersiapkan diri membangun Malang Creative Center sebagai pusat co-working space bagi pebisnis ekonomi kreatif agar bisa berkumpul dan berinteraksi. Tujuan akhirnya, menuju Malang Kota Kreatif. 

bekraf.go.id

Read More »
Edukasi Generasi Muda Untuk Membatik

Edukasi Generasi Muda Untuk Membatik

News 03 Oktober 2016 Loading..

Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober, Kementerian Perindustrian membuka Pameran Batik Budaya Bangsa.  Pameran ini dibuka oleh Dirjen Industri Kecil dan Menengah, Gati Wibawaningsih. Pembukaan pameran ini dihadiri pula oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Yultin Ginanjar Kartasasmita, istri Wakil Gubernur DKI Jakarta Heppy Djarot Saiful Hidayat, serta Ketua Hari Batik Nasional 2016 Nita Kenzo.

“Kementerian Perindustrian terus berupaya mengedukasi para generasi muda Indonesia untuk belajar membatik. Langkah ini dalam rangka meningkatkan kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya dunia sekaligus mendorong penumbuhan wirausaha baru. Langka yang diambil antara lain, kami tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukkan kegiatan ekstrakurikuler membatik pada Sekolah Menengah Kejuruan,” kata Gati Wibawaningsih.

Gati meyakinkan, gerakan melestarikan, menggunakan dan mengembangkan batik sebagai warisan budaya selama ini telah mendongkrak permintaan batik nasional dan pertumbuhan industri batik di dalam negeri. “Peluang pasar batik saat ini juga sangat terbuka luas, baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Nita Kenzo menyampaikan, Yayasan Batik Indonesia telah meluncurkan program menarik tahun ini, yaitu Batik Karya Saya guna memberikan rasa bangga pada generasi muda terhadap batik nasional. Program ini juga memberikan pelatihan membatik secara cuma-cuma kepada 50 siswa SMK 27 Jakarta. Sekolah tersebut dipilih lantaran memiliki jurusan tata busana.

"Kreativitas mereka sangat berkembang, termasuk saat membuat ornamen batik. Mereka sudah bisa membayangkan, jika membuat motif seperti ini nantinya pola bajunya akan seperti apa," kata Nita. Pelatihan tersebut telah diberikan sebanyak 13 kali selama September 2016. Para siswa memulai latihannya setiap pulang sekolah.

Upaya tersebut disambut baik oleh Puan, lebih lanjut Puan mengatakan, program pelatihan membatik ini perlu sinergi dengan pelaku industri untuk menyalurkan para lulusan. “Di samping itu, perlu juga sinergi untuk menyesuaikan kebutuhan industri saat ini. Biar sejalan antara lulusan dengan dunia kerja,” tegasnya.

Puan menambahkan, perlu program dan kegiatan strategis bersama antara Kementerian/Lembaga dengan pihak terkait dalam mempertahankan kearifan lokal terutama untuk mengajak generasi muda Indonesia memahami dan memakai batik buatan dalam negeri. “Diperlukan juga sosialisasi secara masif kepada anak-anak agar mengetahui batik jenis apa yang dipakai dan jangan pakai yang impor,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Gati mengatakan, pihaknya aktif melakukan kegiatan promosi dan fashion show melalui berbagai event baik di domestik maupun internasional yang berhasil menarik perhatian masyarakat dunia terhadap batik Indonesia. “Bahkan, kegiatan tersebut mampu meningkatkan permintaan ekspor batik nasional. Batik juga dapat mengeksplor karya kreatif mulai dari tingkatan perajin batik hingga fashion designer,” paparnya.

Kemenperin selama ini terus berupaya meningkatkan daya saing industri batik nasional dengan berbagai upaya antara lain melalui bimbingan teknis, pendampingan tenaga ahli, fasilitasi mesin dan peralatan, serta fasilitasi promosi dan pameran. “Saat ini pembinaan industri batik juga diarahkan untuk menggunakan zat warna alam untuk mewujudkan industri batik yang ramah lingkungan sesuai dengan isu green industry,” papar Gati.

Tantangan yang juga dihadapi oleh industri Industri batik nasional adalah adanya produk tekstil motif batik dengan harga yang jauh lebih murah dan diproduksi dalam jumlah besar. Untuk itu, diperlukan regenerasi pembatik dan standardisasi produk.  “Kami telah menyusun Standar Nasional Indonesia (SNI) produk batik dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk perajin batik,” ujarnya.

Read More »
BMS Graphics Bandung Raih Grand Champion Award

BMS Graphics Bandung Raih Grand Champion Award

News 10 Oktober 2016 Loading..

Impressions, Decorated Apparel Industry yang berpusat di Amerika Serikat, pada tahun 2016 ini mengadakan satu kontes pakaian dekorasi paling bergengsi dengan titel Impressions Award.  Kompetisi desain apparel dengan teknik Screen Printing ini digelar di Fort Worth Imprinted Sportswear Show di Fort Worth Texas pada tanggal 6-8 Oktober 2016.

Kompetisi desain apparel kali ini diikuti peserta dari berbagai negara termasuk Indonesia. Di tahun 2016 ini, Indonesia diwakili oleh Yohan Irwan dari BMS Graphics Bandung. Beliau merupakan praktisi Screen Printing yang cukup terkenal. Para juri yang menilai semua desain yang masuk pada kompetisi kali ini juga cukup bergengsi. Lee Caroselli-Barnes dari Balboa Threadworks, Richard Bloedow dari GS USA, Dane Clement dari Great Dane Graphics, Bill Gavin dari BG Tech Services, Alan Howe dari Saati, Deborah Hurd dari myembroiderymentor.com, Charlie Taublieb, owner dari Taublieb Consulting dan Mark Suhaldonik sebagai Textille Application Specialist dari GSG – Graphic Solutions Group.

Yang lebih membanggakan, Grand Champion Award kali ini berhasil diraih oleh BMS Graphics Bandung melalui satu desainnya yang bertitel “BMBX Mary”.  Karya ini juga dinobatkan sebagai Grand Champion of Screen Printing. Sementara Grand Champion of Embroidery diraih oleh Stitch’d Embroidery Development Pasadena melalui karyanya “Frantic Frog”.

Daftar Pemenang per Kategori secara keseluruhan adalah:

Multicolor Screen Printing on Light or Dark Garments
1st place: “BMBX Mary,” BMS Graphics, Bandung, Indonesia

 
2nd place: “Gold Wing,” BMS Graphics, Bandung, Indonesia

 
3rd place: “Camera,” BMS Graphics, Bandung, Indonesia



True Process Color Screen Printing
1st place: “Lake Erie Greetings,” Elite Team Supply, Curtice, Ohio


2nd place: “Old Bay Summer Scene,” Mojo Art + Image, Baltimore, Md.


3rd place: “Lion of Judah,” Cornerstone Impressions, Fort Worth, Texas




Simulated Process Color Screen Printing
1st place: “Gold Wing,” BMS Graphics, Bandung, Indonesia


2nd place: “Modern Guns,” BMS Graphics, Bandung, Indonesia


3rd place: “BMBX Mary,” BMS Graphics, Bandung, Indonesia

Special Effects Textile Screen Printing
1st place: “Einstein DJ,” Denver Print House, Lakewood, Colo.


2nd place: “Faux Metal Wolf,” Insta Graphic Systems, Cerritos, Calif.
3rd place: “Marley Flock,” Denver Print House, Lakewood, Colo.

Manual Textile Screen Printing
 

1st place: “Camera,” BMS Graphics, Bandung, Indonesia


2nd place: “Hot Bike,” BMS Graphics, Bandung, Indonesia


3rd place: “Midori Kami,” 3DG Graphics LLC, Austin, Texas



Most Creative Use of Screen Printed Logo/Mascot
1st place: “T&S Wood Plank,” Denver Print House, Lakewood, Colo.


2nd place: “Old Bay Steam Crab,” Mojo Art + Image, Baltimore, Md.


3rd place: “FMC Camo Accent Flag,” Mojo Art + Image, Baltimore, Md.



Outstanding Design: A Screen Print Artist’s Award

1st place: “Old Bay Steam Crab,” Mojo Art + Image, Baltimore, Md.
2nd place: “Camo Rip Skull,” Mojo Art + Image, Baltimore, Md.
3rd place: “Tide + Timber Crab,” Mojo Art + Image, Baltimore, Md.



Multimedia

1st place: “Peacock,” Quality Punch, Torrance, Calif.
2nd place: “1979,” Rambow, New London, Minn.


3rd place: “Dedicated to the One I Love,” Emerald City Embroidery, Tukwila, Wash.

Digitizing Artistry
1st place: “One World- Peace,” Quality Punch, Torrance, Calif.
2nd place: “Jungle Café,” Quality Punch, Torrance, Calif.
3rd place: “Tribal Wolf,” Inner Strength Design, Normal, Ill.



Most Creative Use of an Embroidered Logo/Mascot

1st place: “Frantic Frog,” Stitch’d Embroidery Development, Pasadena, Calif.
2nd place: “An Old Man,” Sign Digitizing, Coimbatore, India
3rd place: “Adopt a Pet,” Quality Punch, Torrance, Calif.

Embroidered Stock Designs

1st place: “Hen Party,” Star Punching, Gardena, Calif.
2nd place: “Curious Owl,” Quality Punch, Torrance, Calif.


3rd place: “Eagle Flag,” Star Punching, Gardena, Calif.



Direct-to-Garment Digital Apparel Decoration

1st place: “Gorilla Shock,” Inkme, Toms River, N.J.
2nd place: “The Rise of Cthulhu,” Team Glitter, Glenwood, Calif.


3rd place: “Royal Anubis,” Inkme, Toms River, N.J.

Sublimation on Finished Apparel
1st place: “Harlow Sammons Burnout,” Savi Customs, San Diego
2nd place: “Praying Hands,” Vapor Apparel, North Charleston, S.C.



3rd place: “S4 Octopus,” Vapor Apparel, North Charleston, S.C.



Most Creative Use of Heat-Applied Graphics (Digital Transfers, Cut-and-Sew or Print/Cut Materials)

1st place: “Stupid Fast Racing Hoodie,” Savi Customs, San Diego


2nd place: “Pac-Man,” River’s End Trading Co., Clarksville, Tenn.


3rd place: “Fishing Boardshorts,” Savi Customs, San Diego



People’s Choice Award (Voted best by ISS show attendees)
 

“Adopt a Pet,” Quality Punch, Torrance, Calif.(BW)

 

Read More »
Kemenperin Pacu Kinerja Industri Kulit, Alas Kaki dan Aneka

Kemenperin Pacu Kinerja Industri Kulit, Alas Kaki dan Aneka

News 02 November 2016 Loading..

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto membuka Temu Usaha, Pameran, dan Fashion Show Industri Alas Kaki, Kulit dan Aneka Nasional di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta pada tanggal 1 November 2016. Event ini diikuti oleh lebih dari 50 pelaku industri dan akan berlangsung selama tanggal 1 – 4 November 2015 mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB serta terbuka untuk umum.

Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kinerja industri kulit, alas kaki dan aneka karena merupakan kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai sektor prioritas dalam pengembangannya. Kelompok industri ini juga berperan strategis sebagai penghasil devisa negara. 

Airlangga menyampaikan, industri kulit, alas kaki dan aneka memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor sebesar USD 12,28 miliar atau 8,17 persen dari total ekspor nasional pada tahun 2015. Selain itu, kelompok industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,1 juta orang atau 7,7 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur dan jumlah nilai investasinya mencapai Rp 22,8 triliun. “Pada triwulan II tahun 2016,pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 7,74 persen, sedangkan pertumbuhan industri aneka mencapai 3,84 persen, ungkapnya.

Kelompok industri kulit, alas kaki dan aneka mencakup 11 sektor, yaitu industri penyamakan kulit, industri barang dari kulit, industri alas kaki, industri kaca mata, industri alat ukur waktu, industri alat musik, industri mainan, industri alat tulis, industri perhiasan, industri alat olahraga, serta industri pengolahan lainnya.

Perkuat branding nasional

Di sisi lain, Menperin meminta kepada para pelaku industri kulit, alas kaki dan aneka untuk memperkuat branding nasional agar bisa berdaya saing dan dikenal di pasar global. “Karena salah satu nilai tambah adalah branding dari produk. Selain itu, dengan menjadi merek global, produk kulit, alas kaki dan aneka asal Indonesia akan dicari oleh dunia internasional,” ujarnya.

Airlangga menyampaikan, Indonesia hingga saat ini masih menjadi basis manufaktur untuk produk kulit dengan merek-merek internasional dan belum banyak memproduksi merek nasional. “Padahal, industri dalam negeri mampu memproduksi produk kulit, alas kaki dan aneka yang cukup berkualitas dengan mengikuti mode terkini,” tuturnya.

Di samping itu, lanjut Airlangga, belanja iklan juga menjadi hal yang penting dalam memperkenalkan merek-merek nasional, sehingga pemerintah bersama pelaku industri perlu memprioritaskannya.

Dalam sesi diskusi dengan pelaku industri yang dihadiri sebanyak 150 orang, turut hadir Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Menkeu mengatakan ingin mengetahui secara langsung mengenai kendala yang dihadapi para investor dalam berusaha di Indonesia.

“Saya datang ke sini mau mendengar langsung dari pelaku industri apa sebetulnya keluhan dari segi policy, karena dari segi pemerintah, industri ini yang menciptakan kesempatan kerja cukup banyak,” ujarnya.

Untuk itu, kata Menkeu, pihaknya juga akan mendorong pelaku industri untuk terus menciptakan nilai tambah produk. "Kami akan mendukung apa yang bisa dilakukan industri ini untuk terus berkreasi dan berinovasi, sehingga tidak hanya bersaing di dalam negeri, tetapi juga mampu ekspor," ungkapnya.

Read More »