Tags Industri Tekstil»

Industri Tekstil Ditargetkan Naik 6,3%

Industri Tekstil Ditargetkan Naik 6,3%

News 19 April 2016 Loading..

Kementerian Perindustrian pada hari Kamis, 14 April 2016 di Solo, menyelenggarakan satu acara Forum Komunikasi Bakohumas dengan tema “Sinergitas Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan Industri Prioritas Nasional.”

Acara yang difasilitasi oleh Biro Hubungan Masyarakat Kemenperin tersebut diikuti sekitar 70 peserta perwakilan humas kementerian dan lembaga anggota Bakohumas. Para peserta juga berkesempatan mengunjungi PT. Dan Liris yang telah sukses memasok produk-produk garmen dan tekstil untuk kebutuhan ekspor ke lebih dari 20 negara di 5 benua, serta menggelar acara dialog di Akademi Komunitas Tekstil Solo di kawasan Solo TechnoPark.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Perindustrian mengharapkan dukungan terhadap program-program pengembangan industri TPT yang dijalankan, antara lain melalui cara:

  1. Menjamin ketersediaan dan kemudahan perolehan bahan baku melalui koordinasi dengan instansi terkait dan kemitraan serta integrasi antara sisi hulu dan sisi hilir didukung oleh infrastruktur yang memadai
  2. Menyiapkan SDM yang ahli dan berkompeten di bidang industri TPT melalui keadilan dan kepastian pengupahan, pendirian lembaga pendidikan dan penerapan SKKNI
  3. Meningkatkan iklim usaha seperti insentif investasi
  4. Pemenuhan dan penguatan kebutuhan untuk Industri dalam Negeri dan Peningkatan Ekspor
  5. Mengusulkan biaya energi yang lebih murah bagi industri.

Pada kesempatan ini, Kepala Pusdiklat Industri Kemenperin Mujiyono mengatakan sejumlah tantangan masih akan dihadapi pelaku usaha TPT, misalnya para pekerja yang belum banyak tersertifikasi sesuai keahliannya sehingga menghambat kemampuan penelitian dan pengembangan di sektor industri tersebut. Karenanya, Kemenperin mendirikan Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil di Bandung dan Solo sebagai salah satu upaya pemenuhan kebutuhan tenaga kerja industri tekstil yang kompeten dan berdaya saing.

Sementara itu, Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka Kemenperin Muhdori mengungkapkan, “Sektor Industri TPT akan terus menguat  karena sifatnya yang padat karya dan menjadi ´Jaring Pengaman Sosial´ yang mendukung pendapatan penduduk. Di lapangan, industri pakaian menjadi penyumbang terbesar dalam penyerapan Tenaga kerja."

Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor industri prioritas yang menjadi andalan masa depan. Untuk itu, di tahun 2016, laju Pertumbuhan Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka ditargetkan naik 6,33% dan memberi kontribusi sebesar 2,43% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional.

Saat ini industri TPT menempati ranking 3 ekspor nasional dan menyerap tenaga kerja hingga 2,79 juta orang dengan hasil produksi yang mampu memenuhi 70% kebutuhan sandang dalam negeri. Muhdori melanjutkan, sepanjang tahun 2015, sektor TPT telah memberikan kontribusi  1,22% terhadap PDB Nasional dan surplus eskspor sebesar USD4,31 miliar. Nilai ekspor TPT sendiri mencapai USD 12,28 miliar, atau berkontribusi sebesar 8,17% dari total nilai ekspor nasional. Industri TPT juga memiliki andil besar dalam menyumbang devisa negara. Total investasi di sektor tersebut pada 2015 mencapai Rp573 triliun, naik 16,9% dari 2014. Tercatat sektor TPT menyumbang 5,05% investasi PMA dan 3,07% investasi PMDN.

Meski kinerja industri tekstil sempat menurun 4,79% pada tahun 2015 akibat krisis ekonomi global, peluang pertumbuhan tahun ini masih sangat besar. Ini dikarenakan Indonesia dapat merespons krisis global secara tepat dan sudah mulai menunjukan perbaikan di sisi ekonomi nasional. Terlebih lagi, kelas menengah yang menjadi lokomotif konsumsi nasionalmenyumbang cukup banyak pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, ketika pasar dunia tengah melemah, pasar domestik masih menjadi potensi besar. 

Read More »
Tiga Kunci Tingkatkan Daya Saing Hadapi MEA

Tiga Kunci Tingkatkan Daya Saing Hadapi MEA

News 19 April 2016 Loading..

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menegaskan  ada tiga faktor yang harus diperkuat untuk meningkatkan daya saing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Ketiga faktor tersebut adalah peningkatan sumber daya manusia, akses pembiayaan murah dan kualitas produksi. "Ketiga faktor tersebut merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi pasar bebas, terutama MEA," kata Puspayoga saat memberikan sambutan pada pembukaan Musrenbang Provinsi Sumatera Utara.

Musrenbang(Musyawarah Perencanaan Pembangunan) juga dihadiri Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi dan para bupati/walikota se-Sumatera Utara. Dia menegaskan peningkatan daya saing juga sekaligus sebagai penguatan pasar domestik. Sehingga pasar domestik tidak banyak dibanjiri produk asing. Menkop menjelaskan persoalan ketiga faktor tersebut, rendahnya kualitas SDM, pembiayaan masih mahal dan kualitas produk masih rendah menjadi concern Kementerian agar segara dapat diatasi.

Dalam peningkatan SDM, kementerian memberikan berbagai pelatihan, pemagangan  bagi pelaku usaha maupun wirausaha pemula. "Untuk membuka akses pembiayaan murah, pemerintah menurunkan bunga KUR menjadi 9% per tahun dan bunga LPDB 0,2% per bulan. Bunga LPDB adalah yang terkeil di dunia. Skema ini memberi ruang  lebih mudah bagi usaha mikro dan kecil yang selama ini sulit mengakses pembiayaan," tegas Puspayoga. Selain itu, dalam peningkatan kualitas produk, kementerian memberikan bantuan pelatihan dan memfasilitasi akses pasar baru.

Read More »
Sertifikasi Halal Produk Sandang, Perlukah?

Sertifikasi Halal Produk Sandang, Perlukah?

News 31 Mei 2016 Loading..

Majelis Ulama Indonesia(MUI) meminta pemerintah untuk menerapkan sertifikasi halal untuk produk sandang. Dan MUI berharap pada tahun 2018, semua produk pakaian dan sepatu sudah bersertifikat halal. Seberapa pentingnya sertifikasi halal produk sandang?

Ketua MUI, KH. Ma’ruf Amien, mengusulkan kepada pemerintah untuk menerapkan sertifikasi halal bagi semua produk sandang atau non makanan. Jadi, produk itu tidak hanya makanan atau barang konsumtif saja, tetapi juga diberlakukan bagi produk pakaian seperti baju, celana, dan sepatu. Sebab, menurut MUI, ada saja bahan pakaian yang diolah dari bahan yang haram.

Keinginan MUI ini merujuk pada Undang-Undang No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Dalam Undang-undang tersebut, pada Bab 1 - Pasal 1 – Ayat 1 diterangkan “Produk adalah barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, proses kimiawi, proses biologi, proses rekayasa genetik serta barang gunaan yang dipakai, digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat.”

Undang-undang juga menyebutkan bahwa bahan yang digunakan dalam proses produk halal(PPH) terdiri atas bahan baku, bahan olahan, bahan tambahan dan bahan penolong. Bahan yang dimaksud berasal dari hewan, tumbuhan, mikroba atau bahan yang dihasilkan dari proses kimiawi, proses biologi, proses rekayasa genetik. Bahan yang berasal dari hewan pada dasarnya halal, kecuali yang diharamkan oleh syariat meliputi bangkai, darah, babi dan/atau hewan yang disembelih tidak sesuai syariat.

Lebih lanjut KH. Ma’ruf Amien menerangkan salah satu produk sandang yang terbuat dari bahan haram adalah sepatu dari kulit babi. "Karena berasal dari bahan yang haram, tetap saja sepatu itu tidak boleh dipakai. Jika pada dasarnya bahan yang digunakan adalah barang haram, maka penggunaannya juga haram," kata Ma´ruf.

Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obatan-Obatan, dan Makanan (LPPOM) MUI, Osmena Gunawan juga menyatakan persetujuannya terhadap sertifikasi halal produk sandang. “Sertifikasi produk di tanah air penting. Ini guna menjamin konsumen mendapatkan produk yang aman dan sesuai syariah. Kemajuan zaman kan banyak produk yang sudah tidak diketahui asal usulnya. Karena itu sertifikasi untuk sandang diperlukan karena kebutuhan nyaman batin masyarakat harus dipenuhi," ujarnya.

Usulan atas penerapan setifikat halal produk sandang ini memperoleh tanggapan yang beragam, khususnya dari pihak pelaku usaha. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Suryadi Sasmita melihat dari aspek perkembangan ekonomi secara global. Salah satunya adalah perekonomian Indonesia yang memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan perdagangan bebas.

Arus barang dari negara lain akan semakin deras membanjiri pasar dalam negeri. “Jumlahnya bisa triliunan, pasti sulit untuk memantau asal mula, juga bahan-bahannya satu per satu,” kata Suryadi.

Lebih lanjut Suryadi menambahkan bahwa adanya sertifikasi akan menjadi beban tambahan bagi pengusaha. Kondisi ekonomi yang masih melambat harus ditambah bebannya dengan kewajiban untuk men-sertifikasi produk-produk sandang.

Senada dengan yang diungkapkan Suryadi Sasmita, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengungkapkan bahwa sertifikat halal, terutama bagi industri menengah dan besar, tak bisa didapatkan secara gratis. Artinya, pengusaha harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkannya. Jika melihat dari kondisi perekonomian saat ini, tentu saja mereka enggan.

Penambahan beban ini juga akan menghambat pertumbuhan usaha-usaha kecil yang tengah berkembang. Menurut Roy, sebaiknya menunggu sampai perekonomian normal kembali, baru MUI dan pemerintah mempertimbangkan sertifikasi produk halal untuk sandang. “Saat ini belum terlalu mendesak,” pungkas Roy.

Poppy Dharsono selaku Ketua Umum Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia(APGAI) mengatakan bahwa kegiatan bisnis garmen dapat berjalan lancar meski tanpa sertifikat halal karena negara tujuan ekspor tidak menanyakan produk ini halal atau tidak. “Mereka akan memeriksa bahan kain, polyester atau cotton, itu yang mereka periksa,” kata Poppy.

Terlepas dari pro kontra mengenai penerapan sertifikasi halal untuk produk sandang, pemerintah dituntut untuk mempermudah proses pengurusan sertifikasi demi memenuhi kewajiban sebagaimana yang ditetapkan undang-undang. Selain penyederhanaan birokrasi, pemerintah juga perlu mempertimbangkan biaya yang keluar untuk pengurusan sertifikat tersebut. Jangan sampai sertifikasi halal malah menghambat para pengusaha untuk berkembang. Apalagi selama ini biaya selalu menjadi persoalan serius bagi pengusaha untuk melakukan sertifikasi.

Read More »
Kemenperin Terbangkan Produk Fashion Indonesia ke Pasar Eropa

Kemenperin Terbangkan Produk Fashion Indonesia ke Pasar Eropa

News 08 September 2016 Loading..

Produk fashion Indonesia telah dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional. Untuk itu, Kementerian Perindustrian gencar mempromosikan potensi produk industri tekstil dan produk tekstil (TPT) ini ke tujuan utama pasar ekspor seperti negara-negara Eropa.

"Salah satu upaya yang kami lakukan adalah memfasilitasi beberapa desainer terbaik Indonesia untuk mengikuti pameran fashion tingkat internasional seperti Collection Première Moscow (CPM),” kata Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono, Jumat (2/9).

Adapun empat label lokal yang turut berpartisipasi pada Pameran CPM 2016, yakni Itang Yunasz Ready to Wear, Ardistia New York, Alleira Batik, dan Warnatasku. Pameran ini diselenggarakan pada tanggal 31 Agustus sampai 3 September 2016.

Sigit menjelaskan, program promosi tersebut merupakan inisiasi dari Kemenperin bersama Badan Ekonomi Kreatif, Garuda Indonesia Airlines, dan Kementerian Perdagangan, yang diharapkan menjadi lokomotif bagi produk industri TPT Indonesia agar dapat go international dengan lebih ekspansif.

“Produk fashion Indonesia memiliki potensi yang luar biasa. Daya kreativitas dari generasi mudaterus tumbuh.Terbukti dari karya mereka yang membanjiri pasar fashion, baik secara online maupun di bazar-bazar label indie,” paparnya

Oleh karena itu, dalam upaya memperluas pasar ekspor, diperlukan upaya membangun posisi strategis sehingga pihak luar dapat melihat dan mengenal keunggulan dankekhasan dari produk industri TPT Indonesia. “Misalnya, promosi yang masif terkait potensi dan kreativitas, termasuk keunikan ragam kain yang kita miliki serta kolaborasinya dengan dunia fashion sehingga menjadi busana ready to wear yang unik, yang kami sebut fashion craft,” tuturnya.

Sigit berharap, lima sampai sepuluh tahun ke depan, industri TPT Indonesia sudah siap menyambut para pembeli dari luar negeri yang hadir pada pameran internasional yang diselenggarakan di Indonesia. Sehingga target indonesia menjadi pusat industri fashion muslim dan fashion Asia pada 2020 dan 2025 dapat tercapai.

“Dengan mengikuti pameran CPM ini, diharapkan nantinya para buyers tidak ragu lagi untuk melakukan buying trip ke negara kita dengan menghadiri acara-acara fashion yang kita gelar,” ujarnya. Beberapa kegiatan fashion dalam negeri yang telah dikenal, diantaranya Indonesia Fashion Week, Jakarta Fashion Week, serta Jakarta Fashion and Food Festival.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pihaknya akan mendorong pembukaan pasar industri TPT nasional ke Uni Eropa karena peluangnya masih cukup besar. “Jadi, kalau pasarnya telah terbuka, kami yakin berpotensi meningkatkan pasar industri tekstil nasional hingga dua kali lipat dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan,” tuturnya.

Saat ini, industri TPT nasional telah menyerap tenaga kerja sebanyak tiga juta orang atau menyumbang sebesar 10,6 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur. Nilai investasi sektor padat karya ini mencapai Rp 8,45 triliun.Bahkan, kontribusinya cukup signifikan terhadap perolehan devisa dengan nilai ekspor mencapai USD 12,28 miliar pada tahun 2015.

Menperin menambahkan, pihaknya bersama pemangku kepentingan terkait terus menjalin sinergi dalam menetapkan kebijakan khusus dan tepat bagi industri TPT nasional. Sehingga akan memperkuat kemampuan industri yang berbasis ekspor itu untuk bersaing memenuhi permintaan pasar global.

“Terdapat beberapa insentif yang dinilai paling berpotensi mendongkrak nilai ekspor industri TPT, antara lain yaitu pembebasan pajak pertambahan nilai bagi bahan baku industri TPT yang berorientasi ekspor dan kebijakan harga gas yang berskala keekonomian,” papar Airlangga. 

Read More »
Indonesia Perkuat Posisi Ekspor Tekstil di Pusat Mode Prancis

Indonesia Perkuat Posisi Ekspor Tekstil di Pusat Mode Prancis

News 15 September 2016 Loading..

Kementerian Perdagangan berkomitmen memperkuat posisi ekspor tekstil ke pusat mode dunia, Prancis melalui Texworld 2016. Pameran ini dilaksanakan pada 12-15 September 2016.

“Dalam statistik, nilai ekspor Indonesia harus terus bergerak ke atas. Kita (Kemendag) perlu lebih gencar promosi melalui pameran. Setelah memiliki positioning yang kuat, Indonesia secara kontinu akan memasok tekstil ke Eropa,” tegas Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Arlinda, (13/9).

Pada semester pertama 2016, nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia ke Prancis mencapai USD 46,52 juta. Prancis merupakan negara tujuan ekspor ke-8 Indonesia di kawasan Eropa. Posisi Indonesia masih dapat diperhitungkan sebagai negara penyuplai produk tekstil ke Prancis.

Meski kompetisi antarnegara di dunia tidak ringan, Arlinda yakin masih banyak peluang terbuka untuk mengisi tekstil di Prancis. Apalagi ada upaya Uni Eropa "melawan" banjir tekstil dari Tiongkok.

“Uni Eropa tengah berupaya membendung banjir tekstil dari Tiongkok pasca mengakhiri kuota tekstil sejak 2005 lalu. Ini peluang Indonesia membuktikan kualitas produk kita dan menjadi alternatif pasokan bahan baku tekstil bagi industri mode Prancis,” kata Arlinda.

Prancis merupakan pusat mode dunia dan penghasil pakaian dengan kualitas tinggi. Fashion show, baik dalam skala kecil maupun internasional yang bergengsi, secara rutin digelar di berbagai kota di Prancis, terutama Paris. Industri mode dan pakaian di Prancis merupakan salah satu industri besar yang memiliki potensi ekonomi sangat besar. Oleh karena itu, permintaan pasokan bahan baku pakaian atau tekstil ke Prancis cukup tinggi, yakni senilai USD 28,81 miliar pada 2015.

Texworld adalah pameran bergengsi dan bertaraf internasional di Prancis yang diselenggarakan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari dan September. Tahun lalu, Texworld Paris Autumn 2015 diikuti oleh 943 peserta dan dihadiri 14.254 pengunjung. Pada partisipasi tahun lalu itu pula, Paviliun Indonesia mengantongi transaksi dan kontak dagang sebesar USD 5,77 juta.

Texworld Paris Autumn 2016 adalah pameran produk fabrics, trims, dan accessories. Dalam pameran ini, Indonesia tampil di area seluas 72 m2 di Hall 4, Paris Le Bourget. Paviliun Indonesia memfasilitasi delapan perusahaan tekstil dan produk tekstil, antara lain PT. Gistex (polyester woven fabric), PT. Hakatex (linen, cotton), PT. Sinar Para Taruna (wrap knitting plain, lace), PT. Sinar Continental (printing apparel), PT. Excellence Qualities Yarn (yarn), PT. Indo Hasasi (linen, cotton), PT. Kewalram (embroidered products), dan PT. Mayer Indah Indonesia (lace, embroidery, tulle, & tricot).

Untuk memaksimalkan promosi produk tekstil di Prancis dan sekitarnya, Ditjen PEN melibatkan Atase Perdagangan dan Indonesian Trade and Promotion Center (ITPC) di wilayah Eropa serta Asosiasi Pertekstilan Indonesia. “Kami optimis terhadap hasil promosi melalui pameran ini dan dapat menjadi acuan dalam kajian pangsa pasar produk tekstil Indonesia di pasar global, terutama Eropa,” tandas Arlinda.

Tekstil Indonesia Mendunia

Tekstil dan produk tekstil Indonesia telah mendunia. Pada 2015, nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia ke dunia mencapai USD 12,28 miliar. Sementara pada semester pertama 2016, nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia adalah sebesar USD 6,22 miliar. Indonesia berada di urutan 17 sebagai pemasok tekstil dan produk tekstil dunia dengan share sebesar 1,58%. Sementara itu, Prancis adalah pengimpor tekstil dan produk tekstil ke-6 dunia dengan nilai sebesar USD 28,81 miliar, atau 4,04% dari total impor tekstil dan produk tekstil dunia.

Tekstil dan produk tekstil utama Indonesia yang diekspor ke dunia, antara lain artificial staple fiber yarn (except sewing thread), not for retail sale, 85% or more (wt.) of artificial staple fibers, single yarn; women´s or girls´ blouses, shirts and shirt-blouses of manmade fibers, not knitted or crocheted; sweaters, pullovers, sweatshirts, vests and similar articles of cotton, knitted or crocheted; women´s or girls´ trousers, bib and brace overalls, breeches and shorts of cotton, not knitted or crocheted; dan men´s or boys´ shirts of cotton, not knitted or crocheted.

Read More »
Industri Tekstil Indonesia Kompetitif Di Pasar Global

Industri Tekstil Indonesia Kompetitif Di Pasar Global

News 28 September 2016 Loading..

Indonesia mencatatkan nilai transaksi yang cukup tinggi pada gelaran Texworld 2016 di Paris, Perancis pada 12 - 15 September 2016 yang lalu. Total transaksi tercatat menembus angka USD 5,5 juta.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Kementerian Perdagangan, Arlinda, optimis tekstil Indonesia masih kompetitif di pasar global. “Estimasi total kontak dagang mencapai USD 5,5 juta. Nilai ini diperoleh dari delapan perusahaan yang difasilitasi Kemendag. Produk yang paling banyak diminati di antaranya polyester fabric, viscose ring yarn, cotton black dyed yarn, lace, print cotton, dan rayon yarn. Lebih dari 120 inquiry datang dari mitra dagang tetap Indonesia,” jelas Arlinda.

“Merek busana tenar dunia seperti Polo Ralph Lauren dan The Apparell Group adalah salah satu dari sederetan buyer yang berminat dengan tekstil Indonesia. Tak hanya itu, buyer Turki juga memiliki minat yang tinggi untuk tekstil Indonesia sehingga berpeluang meningkatkan ekspor ke Turki,” tambah Arlinda.

Pameran Texworld Paris merupakan pameran produk tekstil terbesar, terlengkap dan telah dikenal dunia. Selain itu Paris merupakan pusat mode dunia untuk para desainer internasional yang menampilkan tren terbaru. Texworld Paris 2016 diikuti oleh 987 exhibitors dari 27 negara dan menampilkan zona peserta khusus yaitu “Elite” exhibitor. Para peserta yang tergabung dalam zona elite ini merupakan hasil seleksi dari pihak penyelenggara dengan beberapa kriteria di antaranya memiliki kualitas produk dengan penilaian terbaik, harga produk yang kompetitif, sangat responsif, dan sistem logistik yang terbaik.


Paviliun Indonesia tampil dengan tema “Remarkable Indonesia” menempati lokasi di hall 4, Paris Le Bourget. Paviliun yang menempati area seluas 96 m2 ini merupakan hasil kerja sama antara Ditjen PEN dengan Atase Perdagangan Paris dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Lyon. Paviliun tersebut diisi delapan perusahaan Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yaitu, PT. Gistex (Polyester Woven Fabric), PT.Hakatex (Linen,Cotton), PT. Sinar Para Taruna (Wrap Knitting Plain,Lace), PT. Sinar Continental (Printing Apparel), PT. Excellence Qualities Yarn (Yarns), PT.Indo Hasasi (Linen,Cotton), PT. Kewalram (Embroidered Products), dan PT.Mayer Indah Indonesia (Lace, Embroidery, Tulle & Tricot).

”Sebagai platform promosi bagi industri tekstil dunia, Texworld menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk lebih memperkenalkan tekstil terutama industri fesyen kita yang telah berkembang pesat kepada pasar global,” pungkas Arlinda.

Nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia ke Prancis pada semester pertama 2016 mencapai USD 46,52 juta. Prancis merupakan negara tujuan ekspor ke-8 Indonesia di kawasan Eropa. Posisi Indonesia masih dapat diperhitungkan sebagai negara penyuplai produk tekstil ke Prancis. Permintaan pasokan bahan baku pakaian atau tekstil ke Prancis pada 2015 cukup tinggi, yakni senilai USD 28,81 miliar. (BW)

Read More »
Kemenperin Pacu Kinerja Industri Kulit, Alas Kaki dan Aneka

Kemenperin Pacu Kinerja Industri Kulit, Alas Kaki dan Aneka

News 02 November 2016 Loading..

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto membuka Temu Usaha, Pameran, dan Fashion Show Industri Alas Kaki, Kulit dan Aneka Nasional di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta pada tanggal 1 November 2016. Event ini diikuti oleh lebih dari 50 pelaku industri dan akan berlangsung selama tanggal 1 – 4 November 2015 mulai pukul 09.00 – 17.00 WIB serta terbuka untuk umum.

Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kinerja industri kulit, alas kaki dan aneka karena merupakan kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai sektor prioritas dalam pengembangannya. Kelompok industri ini juga berperan strategis sebagai penghasil devisa negara. 

Airlangga menyampaikan, industri kulit, alas kaki dan aneka memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor sebesar USD 12,28 miliar atau 8,17 persen dari total ekspor nasional pada tahun 2015. Selain itu, kelompok industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,1 juta orang atau 7,7 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur dan jumlah nilai investasinya mencapai Rp 22,8 triliun. “Pada triwulan II tahun 2016,pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 7,74 persen, sedangkan pertumbuhan industri aneka mencapai 3,84 persen, ungkapnya.

Kelompok industri kulit, alas kaki dan aneka mencakup 11 sektor, yaitu industri penyamakan kulit, industri barang dari kulit, industri alas kaki, industri kaca mata, industri alat ukur waktu, industri alat musik, industri mainan, industri alat tulis, industri perhiasan, industri alat olahraga, serta industri pengolahan lainnya.

Perkuat branding nasional

Di sisi lain, Menperin meminta kepada para pelaku industri kulit, alas kaki dan aneka untuk memperkuat branding nasional agar bisa berdaya saing dan dikenal di pasar global. “Karena salah satu nilai tambah adalah branding dari produk. Selain itu, dengan menjadi merek global, produk kulit, alas kaki dan aneka asal Indonesia akan dicari oleh dunia internasional,” ujarnya.

Airlangga menyampaikan, Indonesia hingga saat ini masih menjadi basis manufaktur untuk produk kulit dengan merek-merek internasional dan belum banyak memproduksi merek nasional. “Padahal, industri dalam negeri mampu memproduksi produk kulit, alas kaki dan aneka yang cukup berkualitas dengan mengikuti mode terkini,” tuturnya.

Di samping itu, lanjut Airlangga, belanja iklan juga menjadi hal yang penting dalam memperkenalkan merek-merek nasional, sehingga pemerintah bersama pelaku industri perlu memprioritaskannya.

Dalam sesi diskusi dengan pelaku industri yang dihadiri sebanyak 150 orang, turut hadir Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Menkeu mengatakan ingin mengetahui secara langsung mengenai kendala yang dihadapi para investor dalam berusaha di Indonesia.

“Saya datang ke sini mau mendengar langsung dari pelaku industri apa sebetulnya keluhan dari segi policy, karena dari segi pemerintah, industri ini yang menciptakan kesempatan kerja cukup banyak,” ujarnya.

Untuk itu, kata Menkeu, pihaknya juga akan mendorong pelaku industri untuk terus menciptakan nilai tambah produk. "Kami akan mendukung apa yang bisa dilakukan industri ini untuk terus berkreasi dan berinovasi, sehingga tidak hanya bersaing di dalam negeri, tetapi juga mampu ekspor," ungkapnya.

Read More »
AK Tekstil dan Produk Tekstil Solo - Siap Cetak Tenaga Ahli di Industri Tekstil

AK Tekstil dan Produk Tekstil Solo - Siap Cetak Tenaga Ahli di Industri Tekstil

News 30 November 2016 Loading..

Pada 28 November 2016, Komunitas Printing Indonesia mengunjungi Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil yang berlokasi di kawasan Solo Techno Park, jalan Ki Hajar Dewantara, Jebres, Solo. Akademi ini merupakan satu perguruan tinggi vokasi industri dibidang tekstil.

Seiring dengan berkembangnya industri tekstil tanah air, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki kompetensi juga semakin bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja terampil tersebut, Kementerian Perindustrian mendirikan perguruan tinggi vokasi industri, Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil yang berlokasi di Solo.

Perguruan tinggi yang diresmikan pendiriannya oleh Presiden Joko Widodo ini menggunakan sistem pendidikan Diploma II dengan tiga program studi antara lain Teknik Pembuatan Benang, Teknik Pembuatan Kain Tenun dan Teknik Pembuatan Garmen. Akademi ini merupakan program beasiswa dengan ikatan kerja, sehingga seluruh mahasiswa dibebaskan dari biaya pendidikan, dan setelah lulus akan langsung ditempatkan bekerja pada perusahaan tekstil di Solo dan sekitarnya. Para tenaga pengajar di Akademi ini merupakan para professional dan ahli dibidang tekstil. Sistem pendidikan yang diberikan terbagi dalam 3 tahap yaitu pendidikan teori, praktek di sekolah, dan praktek langsung di industri.

Pada kunjungan kemarin, Komunitas Printing Indonesia yang diketuai bapak Usman Batubara diterima oleh Bapak Drs. Abdillah Benteng M.Pd selaku pimpinan AK Tekstil. Pada kesempatan kali ini, Bapak Abdillah menjelaskan tentang program-program Akademi Tekstil serta berkenan untuk mengantarkan Komunitas Printing Indonesia berkeliling melihat ruang praktek dan perlengkapan yang ada. Peralatan yang tersedia untuk belajar merupakan peralatan industri modern dan terbaru. Hampir semua mesin serupa dengan yang digunakan di pabrik. Sehingga ketika sudah berada di lingkungan kerja,  diharapkan mereka tidak akan kaget dengan teknologi yang ada di  perusahaan tempatnya bekerja.

Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil Solo saat ini memiliki 160 orang mahasiswa yang nantinya siap untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja professional di industri tekstil. Menurut Drs. Abdillah, telah banyak perusahaan yang meminta mahasiswa AK Tekstil untuk langsung bekerja di perusahaan setelah lulus nanti. Beberapa perusahaan yang siap menerima lulusan AK Tekstil ini antara lain PT. Sri Rejeki Isman(SRITEX), PT. Dan Liris, PT. Pan Brothers dan masih banyak lagi.

Sekarang AK Tekstil sedang membangun gedung baru yang berada dekat lokasi saat ini. Gedung baru ini nantinya akan mampu menampung 320 mahasiswa baru. Mahasiswa baru terdiri dari 60% masyarakat umum dan 40% sisanya merupakan karyawan yang membutuhkan kompetensi. Adapun syarat-syarat yang dibutuhkan untuk melanjutkan studi ke AK Tekstil antara lain, WNI, Lulus SLTA/SMK, Usia maksimal 22 tahun, Lulus ujian masuk serta Bersedia untuk ikatan dinas selama 3 tahun setelah menyelesaikan pendidikan. (BW)

Read More »