Tags Inspiring»

Andina Nabila Irvani, Meroket Berkat Sepatu Lukis

Andina Nabila Irvani, Meroket Berkat Sepatu Lukis

Inspiring Your Business 27 Januari 2015 Loading..

Penulis: BW

Berawal dari hobi dan kegemarannya mengkoleksi sepatu, Andina Nabila Irvani sukses menggabungkan kedua hobinya menjadi satu produk yang berkelas dengan omzet puluhan juta.

Disatu tempat di bilangan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, terdapat satu workshop yang memproduksi aneka produk fashion seperti sepatu, tas, dompet dan lain sebagainya. Workshop yang diberi nama SlightShop ini memiliki keunikan tersediri akan produk-produknya. Sepatu, tas maupun dompet yang dijual diperindah dengan unsur lukis sehingga membuat produk-produk fashion ini terlihat elegan, unik dan tidak pasaran. Semua produk dilukis dengan tangan oleh para seniman professional.

Adalah Andina Nabila Irvani S.Sn, gadis cantik kelahiran Bandung, 31 Juli 1990 yang menjadi sosok penting dalam produksi sepatu lukis ini. Dina, sapaan akrabnya, adalah lulusan Binus University jurusan Animation – Visual Communication Design.

Awal Mula Menjadi Pengusaha

“Menyalurkan hobi,” kata Dina ketika ditanya perihal awal memulai usaha sepatu lukisnya. Dina memulai usaha sepatu lukisnya pada tahun 2008. Selain memang karena hobi, Dina juga suka mengoleksi sepatu. Dari situ timbullah pemikiran untuk membuat produk yang dia suka dan sesuai dengan hobinya. “Saya mencintai seni, dan ingin agar seni tersebut menjadi bagian dalam fashion kita sehari-hari,” tulis Dina dalam Company Profilenya. 

Bermodalkan satu juta rupiah dan mengusung konsep Art to Wear, Dina memulai usahanya. Pada awalnya, Dina mampu melukis 5-7 sepatu setiap harinya. Dengan merek dagang Slight, Dina memasarkan hasil karyanya melalui website www.slightshop.com dan juga dibeberapa media social. Dina menganggap bahwa media online menjadi sarana yang efektif dan efisien untuk pemasaran produknya. Selain murah dan mudah, media online juga bisa menjangkau wilayah yang luas tanpa batas. Tapi tidak hanya itu, Dina juga mengandalkan para distributor dan reseller untuk menjual hasil karyanya yang menyasar segmen pengguna wanita dewasa yang menyukai fashion dan menghargai seni. “Sebagian besar pelanggan kami tinggal dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Manado dan lain-lain. Rata-rata mereka berusia dewasa dan remaja dengan rentang umur 19-27 tahun,”tambahnya. Dina juga telah menerima beberapa pesanan secara individual dari wilayah ASEAN.

Sepatu lukis yang diproduksinya dia jual dengan harga bervariasi, mulai dari 100 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah. Kini, Dina telah memiliki 4 orang karyawan dengan kepandaian melukis untuk membantu produksinya. Setiap hari tidak kurang 20 pasang sepatu mampu diproduksi. Omzetnya pun meroket mencapai kisaran 35 juta perbulan.  

Sebagai seorang pengusaha, terkadang tidak lepas dari permasalahan. Kendala terbesar yang dihadapi saat ini adalah kurangnya tenaga professional yang memiliki skill bagus dibidang melukis. Dengan semakin banyaknya order yang diterima membuat Dina harus mencari asisten-asisten yang bisa membantunya agar konsumen tidak kecewa. Karena dalam bisnis online dan menjual jasa seperti ini, ketepatan waktu dan kejujuran menjadi satu modal penting dalam berusaha. Sementara untuk bahan baku, Dina bisa mendapatkannya di Jakarta atau terkadang harus mengimpor dari negara lain.

Prestasi Yang Pernah Diraih

Berkat sepatu lukisnya, Dina pernah didaulat menjadi Winner of Shell LiveWire Business Start Up pada tahun 2009. Kemudian pernah juga menjadi nominator Asia’s Best Young Enterpreneur 2009. Pada 2011, Dina juga meraih penghargaan Wirausaha Muda Terbaik dari Kemenpora.

Sedangkan pada tahun 2014 ini, Dina sempat menjadi pembicara dalam Konferensi GAPURA yang diadakan pada bulan Maret yang lalu. Dan pada bulan September tepatnya tanggal 18-21, Dina dengan SlightShopnya mengikuti pameran yang diadakan di Thailand. Pameran yang bertajuk “ASEAN Young Enterpreneur Assembly 2014” ini diikuti oleh pengusaha muda dari 9 negara termasuk Andina dari Indonesia. 

Ketika disinggung tentang pendapatnya terhadap pasar bebas ASEAN 2015 nanti, Dina berpendapat bahwa para pengusaha harus bersiap meningkatkan kualitas produksinya dan terus berpromosi agar dapat bersaing dengan brand-brand luar negeri. Karena bagi Dina sendiri, pasar bebas ASEAN ini merupakan peluang bagi para pengusaha untuk bisa lebih mempromosikan produknya sampai ke luar negeri karena peluang ekspor lebih terbuka. Tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa pasar bebas ini juga mendatangkan ancaman bagi pengusaha dalam negeri, karena bukan tidak mungkin pengusaha asing memasukkan produk yang sama. Inilah mengapa, para pengusaha harus bisa meningkatkan kualitas produknya.

Untuk mempermudah pengusaha meningkatkan kualitas produsinya, Dina mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah termasuk aspek perizinan, birokrasi, biaya impor bahan baku dan kemudahan-kemudahan lain. Ini diperlukan adanya kerjasama yang erat antara pemerintah dan pengusaha untuk bisa meningkatkan daya saing produk dalam negeri ke luar.

Diakhir pembicaraan, Dina mengungkapkan targetnya untuk lebih memperkuat brand, meningkatkan kualitas produk, menambah lebih banyak variasi produksi dan mengembangkan distribusi agar SlightShop lebih dikenal lagi.

“Yang penting jangan takut untuk memulai, jangan berhenti berkreasi dalam membuat lukisan dan melakukan inovasi. Sambil jalan kita juga belajar berbisnis, InshaAllah akan ketemu triknya,” tips dari Dina bagi mereka yang hendak memulai usaha. Bagi yang ingin melihat koleksi sepatu karya Dina bisa mengunjungi www.slightshop.com

Read More »
Ideku, Membuat Satu Desain Untuk Satu Baju, Hanya Satu Di Dunia

Ideku, Membuat Satu Desain Untuk Satu Baju, Hanya Satu Di Dunia

Inspiring Your Business 27 Januari 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Banyak orang bermimpi ketika memakai baju, tidak ada yang menyamainya. Kini hal itu bukanlah mimpi, merek baju IDEKU hadir untuk membuatnya nyata karena memastikan hanya Anda yang memiliki baju berdesain eksklusif di dunia ini.

Baju berdesain eksklusif dan hanya satu-satunya di dunia hadir untuk Anda dengan merek IDEKU akan menjadi kebanggaan bagi pemiliknya. IDEKU menjamin, kemana pun baju itu dipakai tidak akan pernah ada yang sama.
IDEKU merancang dan mengkreasi baju ini dengan memadukan motif-motif tradisional Indonesia yang mempunyai nilai tinggi baik dari motif batik, motif Bali, Kalimantan dan lain sebagainya. Tim desain kami berupaya menampilkan modifikasi motif tradisional yang fashionable.” kata Sugiarto, pendiri dan pemilik PT Indo Duta Eka Kreasi Unik.

Indonesia dan berkomitmen untuk melestarikan, mengembangkan dan mempopulerkan secara nasional dan internasional, untuk itu kami membuat kreasi dari beragam motif dan ragam hias tradisional Indonesia.
IDEKU sebuah usaha yang dibangun dengan mengandalkan kreatifitas dan harus selalu kreatif. Baju eksklusif satu desain dan hanya satu-satunya di dunia merupakan sebuah karya kreatif untuk menjadi bisnis yang unggul dan berbeda dengan semua produk yang ada.
Desain dan Motif
Kekayaan motif tradisional Indonesia menginspirasi divisi desain IDEKU untuk menghasilkan karya kreatif tanpa takut kehabisan ide. Desain yang dihasilkan mereka sekitar 20-30 desain setiap hari.
Tim divisi desain IDEKU terdiri dari anak-anak muda Indonesia kreatif yang memiliki kemampuan memodifikasi berbagai motif tradisional untuk menciptakan sebuah desain yang cantik, enak dipandang dan nyaman ketika dipakai.
Desain dan motif yang sudah siap. akan diproduksi sekali saja dengan jumlah hanya satu kain untuk menjadi sebuah baju dengan menggunakan teknologi modern yakni melalui digital print.
Satu Baju
Sebuah desain dituangkan atau diprint pada sebuah kain hanya dibuat menjadi sebuah baju saja. Desain dan motif serupa tidak akan pernah diproduksi lagi sampai kapan pun. Jadi baju ini menjadi satu-satunya di dunia dengan merek IDEKU.
Bagi mereka yang sudah membeli atau memiliki baju eksklusif IDEKU ini, dirinya menjadi pemilik tunggal. Kemana pun dirinya pergi ke berbagai belahan bumi ini, tidak akan pernah ada yang menyamainya. Baju IDEKU ini menjadi sangat-sangat eksklusif, hanya satu orang saja di dunia yang memilikinya.
Butik Ideku
Dalam mendistribusikan baju-baju eksklusif IDEKU, sementara waktu akan disebar di tiga toko yang berlokasi berbeda yakni di Court Harapan Indah, Bekasi; Sarinah Thamrin lantai 4, Jakarta dan Galeria Jakarta, Cilandak Town Square (CITOS), Jakarta.
Keistimewaan yang ditawarkan oleh IDEKU kepada konsumennya adalah seseorang yang telah melakukan pembelian baju eksklusif ini, pihak IDEKU akan mencatatnya sehingga selalu terdata pemilk bajunya dan otomatis sebagai pemegang yang sah desainnya.
Ke depan, IDEKU akan terus menambah persebaran store yang ada. Jika memungkinkan akan terdistribusi ke sejumlah kota besar di Indonesia. Selain akan didistribusikan di toko, baju-baju ini juga akan ditawarkan secara online. Saat ini masih dalam proses pembuatan websitenya.
Harga terjangkau
Baju eksklusif IDEKU ditawarkan kepada seluruh kalangan masyarakat. IDEKU berupaya menjual baju ini dengan harga terjangkau sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memilikinya.
IDEKU akan menawarkan baju dengan desain eksklusif dan satu-satunya di dunia dengan harga mulai dari Rp300 ribu hingga Rp850 ribu saja. Menurut kami kisaran harga yang ditawarkan cukup terjangkau bagi masyarakat Indonesia.


Sebelumnya IDEKU telah menghadirkan berbagai produk fasyen seperti baju, baju muslim, dasi dan lain sebagainya. Produk kami ini cukup diminati para konsumen, mereka merasa nyaman ketika menggunakannya. Hadirnya produk terbaru IDEKU yang eksklusif ini, kami yakini juga akan direspon oleh masyarakat Indonesia.
Baju eksklusif bermotif tradisional asli Indonesia merupakan wujud dari rasa cinta IDEKU akan seni warisan leluhur budaya Indonesia. “Kami berharap karya ini bisa membantu memperkenalkan kekayaan seni budaya Indonesia ke masyarakat luas dan juga menghadirkan rasa bangga pada produk dalam negeri.” harap Sugiarto

Read More »
Rumah Batik Komar

Rumah Batik Komar

Inspiring Your Business 27 Januari 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Batik sebagai warisan budaya Indonesia sangat perlu dilestarikan dan diedukasikan kepada seluruh masyarakat terutama generasi muda. Agar esensi batik yang sebenarnya berkesinambungan. Dengan demikian, mereka tahu perbedaan batik dengan tekstil bercorak batik.

Konvensi Batik RSNI (Rancangan Standarisasi Nasional Indonesia) di Yogyakarta pada tahun 2013 bersepakat mendefinisikan Batik sebagai kerajinan tangan sebagai pewarnaan secara perintangan menggunakan malam (lilin batik) panas sebagai perintang warna dengan alat utama pelekat lilin batik berupa canting tulis atau canting cap untuk membentuk motif tertentu yang memiliki makna.
Berdasarkan definisi konvensi maka Batik begitu istimewa dan bernilai sehingga patut dilestarikan. Untuk mengedukasi dan melestarikannya, masyarakat harus diberikan fasilitas agar mereka dapat belajar dan memahami proses pembuatan batik. Oleh karena itu H. Komarudin Kudiya S.Ip, M.Ds bersama istri Hj. Nuryanti Widya mendirikan Rumah Batik Komar.
Komarudin Kudiya merupakan keturunan keluarga pembatik Desa Trusmi, Plered, Cirebon,
Jawa Barat, sehingga cukup familiar dengan aneka macam desain batik. Komar mendirikan Rumah Batik Komar awalnya untuk memproduksi dan melestarikan Batik Cirebon pada tahun 1998 di Kota Bandung, Jawa Barat. Saat ini memiliki workshop dan showroom di Jalan Cigadung Raya Timur I No. 5.
Batik Komar produksi aneka jenis motif batik modern dengan kualitas kain terbaik, kaya warna dan otentisitas. Semua produknya memujudkan identitas unik dan desain baru. Rumah Batik Komar mempekerjakan sekitar 300 orang yang tersebar di kota Cirebon dan Bandung.
Workshop dan dan showroom yang terletak di Bandung, tercatat sebagai pemegang rekor MURI untuk batik terpanjang, membuka “dapur” tempat produksinya untuk umum. Komar melakukan ini agar batik milik Indonesia tidak dicabut pengakuannya oleh UNESCO, karena menjaga kelestarian dan menggunakan batik adalah salah satu perjanjiannya.
Komar juga pernah mempelopori batik cap terpanjang di dunia yang dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Ia juga masih terus berjuang untuk mengembangkan bergam motif batik dari Sabang sampai Merauke.
Rumah Batik Komar tidak hanya memproduksi batik sebagai komoditas jualan tetapi juga sebagai fasilitasi untuk para pengunjung yang tertarik dengan proses pembuatan batik atau ingin belajar membuat batik sendiri. Hal ini dilakukan dalam upaya memperbanyak orang untuk mengenal dan mencintai ragam tekstil khas Indonesia.
Setiap rombongan yang dating diajak belajar proses membatik, dari mulai mencanting, mencelup, sampai jadi sebuah sapu tangan batik. Mereka dibimbing para karyawan galeri itu. Komar juga menyiapkan waktu untuk memberikan penjelasan kepada siapa pun dan menjawab pertanyaan mereka mengenai sejarah batik dan proses pembuatannya.
Mayarakat yang ingin belajar membuat batik, Komar menyediakan berbagai paket pelatihan dengan materi dan waktu belajar berbeda-beda. Berbagai materi yang akan dilatih seperti materi mendasar, materi profesional, pengenalan desain, pembuatan batik, proses pewarnaan dan pemasaran batik.
Paket-paket yang ditawarkan Rumah Batik Komar, seperti paket kunjungan melihat proses membatik untuk rombongan kurang dari 20 orang biaya yang dikenakan sebesar Rp15 ribu per orang. Jika lebih dari 20 orang maka biayanya menjadi Rp10 ribu per orang.
Untuk pelatihan membatik sapu tangan pewarnaan satu warna (Celup), kain katun 40 x 40 cm dikenakan biaya Rp40 ribu, Rp70 ribu dan Rp90 ribu per orang. Biaya yang dikenakan tergantung jumlah peserta pelatihan. Sedangan proses membatik sapu tangan empat warna (colet) berukuran 40 x 40 cm akan dikenakan biaya antara Rp70 ribu, Rp95 ribu dan Rp105 ribu per orang. Hal ini juga tergantung jumlah peserta. Semakin banyak peserta pelatihan biayanya semakin murah.
Sedangkan untuk berlatih membuat taplak meja besar pewarnaan 4 warna (colet) dengan ukutan 1 x 1 meter dalam waktu 8 jama selama 3 hari akan dikenakan biaya sebesar Rp1,5 juta per orang atau Rp500 ribu per hari. Pelatihan ini bisa diikuti secara sendiri-sendiri.
Semantara untuk paket profesional dengan materi produkdi dan manajemen industri batik dengan pemberi materi langsung oleh pemilik Rumah Batik Komar dan belajar mambuat batik dari awal hingga akhir akan dikenakan tarif sebesar Rp3 juta per orang. Pelatihan ini dilakukan selama 8 jam per hari dalam jangka waktu selama 5 hari.
Rumah Batik Komar libur pada hari Minggu atau Hari besar. Jadi Pelatihan ini dilakukan pada hari Senin hingga Sabtu. Para peserta tidak perlu repot untuk membawa kain katun dan bebas menggunakan bahan dan peralatan Batik Komar selama pelatihan. Selain itu peserta akan mendapat sertifikat.

Read More »
Pewarna Alami, Permata Yang Belum Bersinar

Pewarna Alami, Permata Yang Belum Bersinar

Textile & Garment 28 Januari 2015 Loading..

Penulis :

Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, MS
Pengajar Jurusan Teknik Kimia
Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta

Pada saat ini pewarna alami tidak banyak digunakan dan lebih banyak digunakan zat warna sintetis. Pewarna sintetis lebih banyak digunakan karena lebih praktis dalam penggunaan dan lebih terstandar, meskipun zat warna sintetis memiliki dampak negatif terhadap pengguna dan tidak ramah lingkungan. Penggunaan zat warna alami perlu digalakkan kembali agar dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam indonesia dan dapat mengurangi penggunaan zat warna sintetis yang berbahaya.
Seharusnya seluruh masyarakat Indonesia menjaga dan melestarikan serta membantu mengembalikan kebiasaan penggunaan pewarna berbahan alami. Namun sayang, zat warna alam pada saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Sebagai gambaran ratusan tahun silam, Indonesia sebagai pemasok zat warna alami yang menguasai pasar dunia. Salah satu tanaman sebagai sumber pewarna alami adalah tanaman indigofera. Berdasarkan studi pustaka dan bukti sejarah, tanaman ini dipakai sebagai pewarna sejak masa-masa sebelum masehi di negara-negara Eropa. Baru pada abad ke-16, masyarakat India dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, membudidayakan indigofera secara besar-besaran.
Pembudidayaan indigofera di Indonesia dilakukan melalui culture stelsel, atas perintah pemerintah kolonial Belanda. Pewarna ini digunakan Belanda untuk menyaingi pewarna dari bahan woad (Isatis tinctoria) yang dibudidayakan di Prancis, Jerman, dan Inggris.
Pewarna Alami kalah pamor setelah zat warna sintetis diperkenalkan pada tahun 1897, setelah itu para pengusaha batik lebih tertarik menggunakannya sebagai pewarna produknya. Apa yang terjadi seratus tahun kemudian, sejak tanggal 13 Juni 1996, zat warna sintetis gugus azo, amino aromatis, naptol, direc, dan asam/basa telah dilarang peredarannya karena bersifat karsinogenik (CBI/HB – 3032).
Walaupun zat warna sintetis dilarang, para perajin batik umumnya tetap menggunakan zat warna sintetis karena dianggap lebih terjangkau, praktis, dan berwarna lebih cerah. Meskipun, zat warna sintetis mempunyai efek negatif terhadap pencemaran lingkungan dan berbahaya terhadap kesehatan.
Seiring dengan semakin tinggi kesadaran terhadap kesehatan dan lingkungan, kini potensi pewarna alami kembali digalakkan dan sangat prospektif untuk dikembangkan. Secara global, peminat zat warna alami tidak hanya berlaku di pembeli lokal, tetapi juga para pembeli dari berbagai Negara seperti Jepang dan Korea.
Mari kita kembali ke pewarna alami, agar lingkungan kita tidak semakin tercemar. Kami berharap para pengguna zat pewarna bersedia mengubah pola kebiasaan dengan menggunakan zat warna alami kembali sebagai pewarna produknya. Kita harus bangga karena Indonesia memiliki sumber bahan baku pewarna alami sangat melimpah.
Para leluhur bangsa Indonesia sudah mewariskan budaya penggunaan pewarna alami yang bermanfaat dan aman bagi kesehatan, serta lingkungan. Untuk itu produksi dan penggunaan zat warna alami sudah selayaknya dikembangkan secara optimal.
Untuk mendukung penggunaan kembali zat warna alami, tim peneliti zat warna alami UGM melakukan penelitian dan memproduksi zat warna alami yang praktis, murah, dan berkualitas, sehingga kompetitif dengan zat warna sintetis.
Dengan demikian pengrajin mau menggunakan sehingga dapat mengurangi penggunaan pewarna sintetis yang berbahaya. Kami ingin mengembalikan popularitas Indonesia sebagai produsen dan pengguna zat warna alami terbesar dunia, seperti pada masa lampau, ketika membawa keunggulan lokal ke tingkat global.
Untuk membuat 1 kg serbuk zat warna alami biru dari daun indigofera, dengan nama Gamaindigo, diperlukan sekitar 250 kg daun Indigofera. Jika ingin memproduksi zat warna alami Gamaindigo dalam kapasitas industri, diperlukan pasokan daun Indigofera dalam kapasitas besar, dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan petani.
Kendati membutuhkan pasokan bahan baku yang banyak, hasil yang didapat dari zat pewarna ini juga memuaskan. Setiap 50 gram serbuk zat warna alami biru Gamaindigo dapat digunakan untuk mewarnai 4 lembar kain berukuran standar 2,5 m yang memberikan hasil biru muda atau 2 lembar kain berukuran standar 2,5 m dengan hasil warna biru tua.
Potensi dan Prospek ZWA
Bila Indonesia mengoptimalkan penggunanan zat warna alami, otomatis akan membangun empat faktor utama ekonomi yaitu: investasi padat modal, menghidupkan sektor sosial budaya, pemberdayaan sumberdaya manusia (padat karya), dan pemanfaatkan sumberdaya alam yang melimpah.
Optimalisasi zat warna alami ini sejalan dengan program pemerintah dalam transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam yang bertumpu pada labor intensive, menjadi aplikasi Iptek yang bertumpu pada innovation. Dengan demikian, penggunaan dan produksi pewarna alami dapat berkontribusi positif dalam percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sumber bahan baku zat warna alami yang ingin diproduksi dalam kapasitas industri harus berasal dari tumbuhan atau hewan yang memiliki nilai sosial dan ekonomi yang rendah dan jika dimanfaatkan sebagai bahan baku tidak akan merusak atau mengganggu lingkungan. Selain itu ketersediaannya harus dalam jumlah besar, mudah diperoleh, dan kontinyu. Indonesia memiliki sumber bahan baku zat warna alami yang memenuhi kriteria ini dan belum termanfaatkan dengan optimal.
Untuk memperjelas kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia, berikut contoh-contoh pewarna alam yang bisa dihasilkan dari berbagai tumbuhan. Untuk menghasilkan warna biru alami berasal dari daun indigofera tinctoria, untuk menghasilkan warna kuning cerah alami dan kuat dari Kayu Tegeran. Jika ingin memperoleh warna kuning alami, coklat, dan hitam dapat diperoleh dari kulit buah Jolawe, untuk warna orange alami, merah hati, dan coklat kehitaman dibuat dari kulit kayu Tingi. Pewarna alami menghasilkan krem, coklat, hitam keabu-abuan berasal dari serbuk kayu Merbau.
Melihat potensi itu, produksi pewarna alam Indonesia bisa menjadi penyelamat masa depan yang memiliki nilai-nilai positif dan diharapkan bisa menekan penggunaan dan import zat warna sintetis.
Untuk merealisasikan gerakan penggunaan pewarna alami diperlukan kerjasama dan dukungan berbagai pihak. Kerjasama dan dukungan semua pihak diharapkan dapat menciptakan kerjasama saling menguntungkan, saling menghargai, dan saling mendukung yang bermuara untuk kemajuan Indonesia. Selain itu juga diperlukan dukungan regulasi dari pemerintah dalam gerakan penggunaan pewarna alami dan pemasarannya.
Mari kita kembalikan nilai-nilai dan kearifan lokal para leluhur Indonesia yang selalu menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam. Salam eco green dan clean production.

Read More »
Sunday Dress Up Diikuti Ribuan Peserta

Sunday Dress Up Diikuti Ribuan Peserta

News 02 Februari 2015 Loading..

Serangkaian kegiatan pendahuluan menjelang Indonesia Fashion Week 2015 digelar. Salah satu kegiatan yang digelar adalah Sunday Dress Up (SDU) yang mengusung konsep Fun Walk menggunakan batik, tenun atau sarung.

Menjelang Indonesia Fashion Week 2015 yang akan digelar pada 26 Februari hingga 1 Maret 2015 bertema Urban Style menggelar kegiatan Fun Walk dari Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata menuju Bundaran Hotel Indonesia dan kembali ke Gedung Sapta Pesona. Acara ini cukup meriah walau diguyur hujan, para peserta tetapi semangat meramaikan kegiatan ini.

Sunday Dress Up diikuti oleh berbagai pihak seperti siswa-siswi sekolah mode, komunitas, model, exhibitor, blogger, media, dan koreografer, hingga perancang mode ternama. Kegiatan ini tahun lalu berhasil menghadirkan 2.000 peserta fun walk.

Kegiatan ini diharapkan bisa menginspirasi daerah lain untuk meningkatkan penggunaan busana produksi dalam negeri yang bercirikan kelokalan atau mengangkat budaya local. Selain itu juga dapat mendukung sektor pariwisata dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya saat membuka acara Sunday Dress Up memberikan apresiasi kepada APPMI yang konsisten dan terus-menerus melaksanakan Indonesia Fashion Week, tahun ini memasuki penyelenggaraan tahun keempat. Arief Yahya menambahkan dukungan akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media sebagai strategi kooperatif merupakan hal yang mutlak.

Sub bidang Mode sebagai salah satu sub bidang Ekonomi Kreatif mampu berkontribusi cukup besar di PDB. Tahun 2014 mampu menyumbang PDB sebesar Rp 204,11 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 3,95 juta. Sementara target tahun 2019 sebesar USD 25,44 Miliar.

Arief berharap pelaksanaan kegiatan ini dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk mode dalam negeri. Acara ini merupakan salah satu wujud gerakan mempromosikan fesyen Indonesia dan diikuti lebih dari 2.000 peserta. Sunday Dress Up menjadi cara baru bagi masyarakat untuk mencintai fesyen lokal. 

Read More »
Charlie Taubleib, Icon Screen Printing Akan Hadir di Solo

Charlie Taubleib, Icon Screen Printing Akan Hadir di Solo

Screen Printing 13 Februari 2015 Loading..

Majalah PRINTEX berkesempatan mengunjungi Pameran FESPA China dan CSGIA Expodi Guangzhou, Tiongkok yang diselenggarakan pada tanggal 19 – 21 Nopember 2014 lalu untuk memamerkan perkembangan teknologi cetak tekstil. Selain itu, kami juga berkesempatan bertemu dengan tokoh Screen Printing Dunia berasal dari Denver, Colorado, Amerika Serikat bernama CHARLIE TAUBLEIB,
Saat bertemu dengan Charlie Taubleib, tidak ada kesan angkuh atau sombong. Beliau tetap bersahaja meski ilmunya tinggi. Dalam suasana penuh keakraban yang diselingi canda tawa, Majalah PRINTEX menawarkan kepada Charlie apakah bersedia hadir di Indonesia pada pameran IAPE SOLO 2015 yang menurut rencana akan diselenggarakan pada tanggal 5-8 Maret di Diamond Convention Center Solo, Jawa Tengah.
Ditengah kesibukannya keliling dunia hampir selama 200 hari dalam satu tahun, sebagai pembicara oleh banyak organisasi di berbagai negara, Charlie menyatakan kesanggupannya untuk hadir pada pameran IAPE SOLO 2015, yang kebetulan jadwal waktunya sedang kosong sehingga bisa datang ke Indonesia.
PRINTEX pernah bertemu dengan Charlie pada Pamera FESPA Asia di Singapore pada bulan Nopember 2011. Dan, kami sudah menulisnya sekilas di Majalah PRINTEX Edisi 2.
Latar belakang Charlie Taubleib
Charlie sebagai sarjana Seni Murni dari Western Michigan University di Kalamazoo, Michigan, Amerika Serikat tahun 1970, dengan major melukis dan minor di bidang cetak dan menggambar. Charlie menjadi anggota Akademi Teknologi Screen Printing, dan dipercaya untuk menjadi juri di berbagai kejuaraan seperti pada SGIA Golden Image Award, IMPRESSION award dan berbagai kejuaraan screen printing lainnya. Ia juga berhasil meraih berbagai penghargaan di bidang printing.
Meniti karir professional dari bawah yaitu sebagai paste-up and mechanical artis di Appleton-Century-Crofts New York, New York pada tahun 1971-1972. Kemudian, sebagai desainer di Penerbitan Fawcett di New York selama dua tahun (1972-1974). Selanjutnya, selama dua tahun pula bekerja sebagai Corporate Graphics pada American Broadcasting Company di New York pada tahun 1974-1976.
Akhirnya pada tahun 1976, Charlie mendirikan perusahaan sendiri dengan nama Great American Screen Designs, Inc. Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Sebagai Owner/Vice President Co-founder perusahaan, Charlie mengkhususkan usahanya pada desain khusus T-shirt untuk pertunjukan konser musik rock.
Perjalanan usahanya begitu cemerlang sehingga mendapat penghargaan karena inovasinya di bidang desain screen printing Tshirt tersebut. Namun saying, perusahaan yang mempekerjakan 100 orang termasuk 6 artis, hanya berlangsung hingga tahun 1981.
Ingin lebih mengembangkan diri, Charlie bekerja di Fashion Design Group, Inc. Denver, Colorado, AS sebagai Plant Manager dari tahun 1981-1982. Perusahaan ini mengkhususkan pada pakaian olahraga ski dan liburan. Dan, pada tahun 1982-1983, ia membuat divisi screen printing dan berperan sebagai Technical Sales di LithoTech/ScreenTech Denver, Colorado, AS.
Charlie kembali mendirikan perusahaan bernama Bullseye Screen Printing Supplies, Inc. Denver, Colorado, AS. Kali ini, ia bertindak sebagai Owner/President dan menggerakkan perusahaan sehingga mempunyai kekuatan yang mampu memberikan dukungan produk yang baik dan dukungan teknis, selama tahun 1983-1995.
Dan, sejak tahun 1995 sampai dengan saat ini, Charlie mendirikan dan sebagai President Taublieb Consulting Greenwood Village, Colorado, AS. Institusi ini memberikan layanan seperti Plant Layout & Design Productivity, Analysis Plant Evaluation Quality Control Systems, Technical Problem Solving, Marketing Assistance, dan Employee Training Seminars & Workshops.
Pengalamannya yang banyak dan lengkap, membuatnya sangat dikenal dalam industri screen printing tekstil di Amerika, Asia, Eropa dan Amerika Latin. Ia beberapa kali dipercaya sebagai pembicara di workshop dan Seminar Imprinted Sportwear Show di Amerika yang sudah berumur 40 tahun, di forum SGIA dan DAX show, pembicara di forum FESPA (Federation Europe Screen Printing Asociation) di seluruh dunia, dan di Communiquez Textile di Perancis dan PSI dan TVP di Jerman.
Seminar manajemen dan teknik screen printing
Dalam pameran IAPE Solo, Jawa Tengah, PRINTEX bersama MORE Media Kreasi berencana menyelenggarakan berbagai seminar seperti tentang pengelolaan perusahaan garmen khususnya di bidang screen printing, bagi para pengusaha industri garmen dan lingkup industri tekstil dan seminar tentang teknik cetak screen printing bagi para praktisi industri screen printing.
Seminar-seminar ini akan dihadiri tokoh screen printing kelas dunia yakni oleh Charlie Taublieb. Kami berharap kehadiran tokoh terkenal ini dapat benar-benar bermanfaat bagi industri screen printing di Indonesia.


Dalam menyukseskan seminar ini, PRINTEX mengharapkan masukan dari berbagai pihak, trerutama mengenai permasalahan yang sering dijumpai para praktisi, dan ingin sekali mengetahui cara penanggulangannya. Jika ada masukan-masukan yang ingin disampaikan kepada PRINTEX, dapat disampaikan melalui: info@printexmag.com.
Kami perlu sampaikan, untuk informasi selanjutnya tentang rencana Seminar Charlie Taubleib akan kami sampaikan melalui website PRINTEX:
www.printexmag.com.

Read More »
Charlie Taublieb, Multicolor Printing on Dark Garments

Charlie Taublieb, Multicolor Printing on Dark Garments

News 25 Februari 2015 Loading..

Ketika saya mendengar istilah “Simulated Process Printing”, saya langsung terpikir pada kaos hitam. Mungkin karena latar belakang saya dalam industri ini adalah mencetak kaos Rock’N’Roll ketika pertama kali memulainya. Bukan berarti pula bahwa simulated process color tidak dapat dilakukan dengan baik  pada bahan kain berwarna  kenyataanya, bila proses desain dan separasi dilakukan dengan tepat, hasil cetak akan nampak bagus dari setiap warna dari hitam ke putih, tetapi seringkali dihubungkan dengan warna gelap.

“Simulated Process Printing” adalah istilah yang sering digunakan tetapi tidak selalu dapat didefinisikan. Interpertasi saya dengan istilah itu adalah “gambar tampil dengan warna penuh yang dibuat dengan penggunaan titik raster dari warna kuning, magenta, cyan dan hitam untuk menciptakan efek warna penuh, nyatanya tidak”. Gambar diharapkan tampil warna penuh, tetapi nyatanya kita masih memerlukan ada warna khusus untuk gambar itu. Warna-warna mungkin berubah dari satu gambar ke gambar lain, dan tinta biasanya opaque. Jika gambar didesain dan diseparasi dengan tepat, dapat dicetak dengan warna apapun termasuk hitam.

Untuk mengerjakan simulated process print, anda memerlukan gambar yang kontras, artinya bagian highlight yang kuat dan shadow yang kuat dengan satu arah penyinaran. Agar berhasil dalam pencetakan, adalah penting untuk mengerti apa saja yang harus dilakukan  untuk mecapai hasil simulated process print yang baik, dalam kasus saya, hasil cetak nampak bagus d iatas kaos hitam.

Pertama, Ketahui untuk siapa Anda membuat desain ini. Ketika pertama kali masuk dalam industri, kami mencetak untuk konser Rock’N’Roll. Hari ini, tetapi khususnya di tahun 1970 an, apapun warna selain hitam tidak akan bagus penjualannya di dalam konser. Jika anda mendesain untuk biker, olahraga ekstrim atau beberapa atlet profesional, kaos warna hitam paling banyak dibeli. Disamping itu, biker tidak akan pernah memakai warna pink. (selengkapnya dapat Anda baca di Majalah PRINTEX XV, 2015 dan dalam seminar di Indonesia Apparel Production Expo 2015 di Solo, Jawa Tengah, 5 – 8 Maret 2015)

Read More »
Eridani dan Norma Hauri Tampil di BIFF & BIL 2015

Eridani dan Norma Hauri Tampil di BIFF & BIL 2015

News 12 Maret 2015 Loading..

Pada ajang fashion kelas dunia Bangkok International Fair & Bangkok International Leather Fair 2015 (BIFF & BIL) di Bangkok, Thailand yang berlangsung pada tanggal 11-15 Maret 2015 akan dimeriahkan dengan tampilnya dua desainer Indonesia Fashion Forward.

Dua desainer Indonesia Fashion Forward, 8Eri dan Norma Hauri akan tampil di runway BIFF & BIL 2015 yang mengusung tema Catching the Creative Spirit. BIFF & BIL merupakan trade fair produk fashion dan lifestyle terbesar di ASEAN yang dihadiri oleh para buyer dari kawasan Asia dan Eropa.

BIFF & BIL kali ini merefleksikan pertumbuhan kreativitas dan desain berkualitas dari industri tekstil, fashion dan produk kulit di negara-negara di Asia. Eridani dari 8Eri akan mengusung koleksi bertema Asianation.

" Asianation terinspirasi dari eksotisme kesederhanaan budaya orang Asia dalam kehidupan sehari-hari. Kami menonjolkan effortless beauty dalam kehidupan mereka yang semakin modern," kata Eridani. Koleksi ini sangat cocok dipakai oleh wanita berusia 30-45 tahun, khususnya mereka yang mencintai seni.

Eridani berpartisipasi di BIFF & BIL 2015 selain bertujuan untuk memasarkan produknya ke buyers dari berbagai Negara, juga  ingin menjalin kerjasama dengan buyers dan mencari ide segar. Kami ingin menambah wawasan dan mencari informasi tentang desain yang sedang berkembang secara nyata di luar Indonesia.

Sementara itu, Norma Hauri mengangkat tema The Lines. "Struktur garis tegas menjadi inspirasi koleksi Hauri Sub line dari Norma Hauri musim ini. Tampilan gaya modern divisualisasikan melalui garis yang membentuk pola geometrikal dan tekstur bahan serta detail yang diaplikasikan dalam koleksi.

“Mengusung pilihan warna yang sederhana dan dasar menjadi penegas kesan modern dalam deretan busana berbentuk abaya yang menjadi spesifikasi dan produk utama dari Hauri," ucap Norma. Norma berharap, partisipasi di BIFF & BIL ini dapat menjadi kesempatan untuk branding dan bertemu para buyers internasional.

Keikutsertaan 8Eri dan Norma Hauri di BIFF & BIL 2015 mewarnai kesibukan para desainer Indonesia Fashion Forward selama bulan Februari dan Maret. Sebelumnya, Dian Pelangi ambil bagian di New York Couture Fashion Week dan International Fashion Showcase yang diselenggarakan bersamaan dengan London Fashion Week akhir bulan lalu.

Minggu ini, tiga desainer Indonesia Fashion Forward lain, yaitu Major Minor, Toton dan Peggy Hartanto juga ambil bagian di Paris Fashion Week. Dan minggu depan, Toton dan dan Etu akan ambil bagian di Tokyo Fashion Week.

 

Keberhasilan enam desainer Indonesia menembus pesta mode berpengaruh di industri fashion dunia tersebut tak lepas dari kesuksesan program Indonesia Fashion Forward yang digagas oleh Jakarta Fashion Week  bekerja sama dengan British Council dan didukung oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia. Dalam program ini, para desainer diarahkan agar siap menguasai pasar lokal dan menembus pasar global.

"Berkat program Indonesia Fashion Forward, kami lebih siap memasuki pasar internasional dan bisa mempersiapkan dengan matang tools yang diperlukan untuk trade show, seperti BIFF & BIL ini," kata Norma. Senada dengan Norma, Eridani mengungkapkan manfaat lain dari program IFF terhadap brand yang ia bangun. "Saya semakin percaya diri dalam membawa produk saya untuk bersaing di dunia desain internasional. Bimbingan serta komentar mereka yang jujur dan membangun, membuat produk yang saya ciptakan menembus level yang sesuai," tambahnya.

"Keberhasilan para desainer menembus event fashion kelas dunia akan menginspirasi lebih banyak desainer Indonesia agar dapat memenangkan persaingan di pasar internasional. Dan program Indonesia Fashion Forward akan terus melahirkan lebih banyak desainer muda yang akan siap mengangkat karya asli Indonesia ke pasar global. Dan pada tahun ini, para pecinta fashion dapat melihat secara langsung koleksi terbaik para desainer IFF di Jakarta Fashion Week 2016," kata Lenni Tedja, Direktur Jakarta Fashion Week.

Read More »