Tags MEA»

Industri Tekstil Ditargetkan Naik 6,3%

Industri Tekstil Ditargetkan Naik 6,3%

News 19 April 2016 Loading..

Kementerian Perindustrian pada hari Kamis, 14 April 2016 di Solo, menyelenggarakan satu acara Forum Komunikasi Bakohumas dengan tema “Sinergitas Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan Industri Prioritas Nasional.”

Acara yang difasilitasi oleh Biro Hubungan Masyarakat Kemenperin tersebut diikuti sekitar 70 peserta perwakilan humas kementerian dan lembaga anggota Bakohumas. Para peserta juga berkesempatan mengunjungi PT. Dan Liris yang telah sukses memasok produk-produk garmen dan tekstil untuk kebutuhan ekspor ke lebih dari 20 negara di 5 benua, serta menggelar acara dialog di Akademi Komunitas Tekstil Solo di kawasan Solo TechnoPark.

Melalui kegiatan ini, Kementerian Perindustrian mengharapkan dukungan terhadap program-program pengembangan industri TPT yang dijalankan, antara lain melalui cara:

  1. Menjamin ketersediaan dan kemudahan perolehan bahan baku melalui koordinasi dengan instansi terkait dan kemitraan serta integrasi antara sisi hulu dan sisi hilir didukung oleh infrastruktur yang memadai
  2. Menyiapkan SDM yang ahli dan berkompeten di bidang industri TPT melalui keadilan dan kepastian pengupahan, pendirian lembaga pendidikan dan penerapan SKKNI
  3. Meningkatkan iklim usaha seperti insentif investasi
  4. Pemenuhan dan penguatan kebutuhan untuk Industri dalam Negeri dan Peningkatan Ekspor
  5. Mengusulkan biaya energi yang lebih murah bagi industri.

Pada kesempatan ini, Kepala Pusdiklat Industri Kemenperin Mujiyono mengatakan sejumlah tantangan masih akan dihadapi pelaku usaha TPT, misalnya para pekerja yang belum banyak tersertifikasi sesuai keahliannya sehingga menghambat kemampuan penelitian dan pengembangan di sektor industri tersebut. Karenanya, Kemenperin mendirikan Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil di Bandung dan Solo sebagai salah satu upaya pemenuhan kebutuhan tenaga kerja industri tekstil yang kompeten dan berdaya saing.

Sementara itu, Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka Kemenperin Muhdori mengungkapkan, “Sektor Industri TPT akan terus menguat  karena sifatnya yang padat karya dan menjadi ´Jaring Pengaman Sosial´ yang mendukung pendapatan penduduk. Di lapangan, industri pakaian menjadi penyumbang terbesar dalam penyerapan Tenaga kerja."

Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor industri prioritas yang menjadi andalan masa depan. Untuk itu, di tahun 2016, laju Pertumbuhan Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka ditargetkan naik 6,33% dan memberi kontribusi sebesar 2,43% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional.

Saat ini industri TPT menempati ranking 3 ekspor nasional dan menyerap tenaga kerja hingga 2,79 juta orang dengan hasil produksi yang mampu memenuhi 70% kebutuhan sandang dalam negeri. Muhdori melanjutkan, sepanjang tahun 2015, sektor TPT telah memberikan kontribusi  1,22% terhadap PDB Nasional dan surplus eskspor sebesar USD4,31 miliar. Nilai ekspor TPT sendiri mencapai USD 12,28 miliar, atau berkontribusi sebesar 8,17% dari total nilai ekspor nasional. Industri TPT juga memiliki andil besar dalam menyumbang devisa negara. Total investasi di sektor tersebut pada 2015 mencapai Rp573 triliun, naik 16,9% dari 2014. Tercatat sektor TPT menyumbang 5,05% investasi PMA dan 3,07% investasi PMDN.

Meski kinerja industri tekstil sempat menurun 4,79% pada tahun 2015 akibat krisis ekonomi global, peluang pertumbuhan tahun ini masih sangat besar. Ini dikarenakan Indonesia dapat merespons krisis global secara tepat dan sudah mulai menunjukan perbaikan di sisi ekonomi nasional. Terlebih lagi, kelas menengah yang menjadi lokomotif konsumsi nasionalmenyumbang cukup banyak pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, ketika pasar dunia tengah melemah, pasar domestik masih menjadi potensi besar. 

Read More »
Tiga Kunci Tingkatkan Daya Saing Hadapi MEA

Tiga Kunci Tingkatkan Daya Saing Hadapi MEA

News 19 April 2016 Loading..

Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menegaskan  ada tiga faktor yang harus diperkuat untuk meningkatkan daya saing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Ketiga faktor tersebut adalah peningkatan sumber daya manusia, akses pembiayaan murah dan kualitas produksi. "Ketiga faktor tersebut merupakan kunci untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi pasar bebas, terutama MEA," kata Puspayoga saat memberikan sambutan pada pembukaan Musrenbang Provinsi Sumatera Utara.

Musrenbang(Musyawarah Perencanaan Pembangunan) juga dihadiri Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi dan para bupati/walikota se-Sumatera Utara. Dia menegaskan peningkatan daya saing juga sekaligus sebagai penguatan pasar domestik. Sehingga pasar domestik tidak banyak dibanjiri produk asing. Menkop menjelaskan persoalan ketiga faktor tersebut, rendahnya kualitas SDM, pembiayaan masih mahal dan kualitas produk masih rendah menjadi concern Kementerian agar segara dapat diatasi.

Dalam peningkatan SDM, kementerian memberikan berbagai pelatihan, pemagangan  bagi pelaku usaha maupun wirausaha pemula. "Untuk membuka akses pembiayaan murah, pemerintah menurunkan bunga KUR menjadi 9% per tahun dan bunga LPDB 0,2% per bulan. Bunga LPDB adalah yang terkeil di dunia. Skema ini memberi ruang  lebih mudah bagi usaha mikro dan kecil yang selama ini sulit mengakses pembiayaan," tegas Puspayoga. Selain itu, dalam peningkatan kualitas produk, kementerian memberikan bantuan pelatihan dan memfasilitasi akses pasar baru.

Read More »
Sertifikasi Halal Produk Sandang, Perlukah?

Sertifikasi Halal Produk Sandang, Perlukah?

News 31 Mei 2016 Loading..

Majelis Ulama Indonesia(MUI) meminta pemerintah untuk menerapkan sertifikasi halal untuk produk sandang. Dan MUI berharap pada tahun 2018, semua produk pakaian dan sepatu sudah bersertifikat halal. Seberapa pentingnya sertifikasi halal produk sandang?

Ketua MUI, KH. Ma’ruf Amien, mengusulkan kepada pemerintah untuk menerapkan sertifikasi halal bagi semua produk sandang atau non makanan. Jadi, produk itu tidak hanya makanan atau barang konsumtif saja, tetapi juga diberlakukan bagi produk pakaian seperti baju, celana, dan sepatu. Sebab, menurut MUI, ada saja bahan pakaian yang diolah dari bahan yang haram.

Keinginan MUI ini merujuk pada Undang-Undang No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Dalam Undang-undang tersebut, pada Bab 1 - Pasal 1 – Ayat 1 diterangkan “Produk adalah barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, proses kimiawi, proses biologi, proses rekayasa genetik serta barang gunaan yang dipakai, digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat.”

Undang-undang juga menyebutkan bahwa bahan yang digunakan dalam proses produk halal(PPH) terdiri atas bahan baku, bahan olahan, bahan tambahan dan bahan penolong. Bahan yang dimaksud berasal dari hewan, tumbuhan, mikroba atau bahan yang dihasilkan dari proses kimiawi, proses biologi, proses rekayasa genetik. Bahan yang berasal dari hewan pada dasarnya halal, kecuali yang diharamkan oleh syariat meliputi bangkai, darah, babi dan/atau hewan yang disembelih tidak sesuai syariat.

Lebih lanjut KH. Ma’ruf Amien menerangkan salah satu produk sandang yang terbuat dari bahan haram adalah sepatu dari kulit babi. "Karena berasal dari bahan yang haram, tetap saja sepatu itu tidak boleh dipakai. Jika pada dasarnya bahan yang digunakan adalah barang haram, maka penggunaannya juga haram," kata Ma´ruf.

Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obatan-Obatan, dan Makanan (LPPOM) MUI, Osmena Gunawan juga menyatakan persetujuannya terhadap sertifikasi halal produk sandang. “Sertifikasi produk di tanah air penting. Ini guna menjamin konsumen mendapatkan produk yang aman dan sesuai syariah. Kemajuan zaman kan banyak produk yang sudah tidak diketahui asal usulnya. Karena itu sertifikasi untuk sandang diperlukan karena kebutuhan nyaman batin masyarakat harus dipenuhi," ujarnya.

Usulan atas penerapan setifikat halal produk sandang ini memperoleh tanggapan yang beragam, khususnya dari pihak pelaku usaha. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Suryadi Sasmita melihat dari aspek perkembangan ekonomi secara global. Salah satunya adalah perekonomian Indonesia yang memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan perdagangan bebas.

Arus barang dari negara lain akan semakin deras membanjiri pasar dalam negeri. “Jumlahnya bisa triliunan, pasti sulit untuk memantau asal mula, juga bahan-bahannya satu per satu,” kata Suryadi.

Lebih lanjut Suryadi menambahkan bahwa adanya sertifikasi akan menjadi beban tambahan bagi pengusaha. Kondisi ekonomi yang masih melambat harus ditambah bebannya dengan kewajiban untuk men-sertifikasi produk-produk sandang.

Senada dengan yang diungkapkan Suryadi Sasmita, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengungkapkan bahwa sertifikat halal, terutama bagi industri menengah dan besar, tak bisa didapatkan secara gratis. Artinya, pengusaha harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkannya. Jika melihat dari kondisi perekonomian saat ini, tentu saja mereka enggan.

Penambahan beban ini juga akan menghambat pertumbuhan usaha-usaha kecil yang tengah berkembang. Menurut Roy, sebaiknya menunggu sampai perekonomian normal kembali, baru MUI dan pemerintah mempertimbangkan sertifikasi produk halal untuk sandang. “Saat ini belum terlalu mendesak,” pungkas Roy.

Poppy Dharsono selaku Ketua Umum Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia(APGAI) mengatakan bahwa kegiatan bisnis garmen dapat berjalan lancar meski tanpa sertifikat halal karena negara tujuan ekspor tidak menanyakan produk ini halal atau tidak. “Mereka akan memeriksa bahan kain, polyester atau cotton, itu yang mereka periksa,” kata Poppy.

Terlepas dari pro kontra mengenai penerapan sertifikasi halal untuk produk sandang, pemerintah dituntut untuk mempermudah proses pengurusan sertifikasi demi memenuhi kewajiban sebagaimana yang ditetapkan undang-undang. Selain penyederhanaan birokrasi, pemerintah juga perlu mempertimbangkan biaya yang keluar untuk pengurusan sertifikat tersebut. Jangan sampai sertifikasi halal malah menghambat para pengusaha untuk berkembang. Apalagi selama ini biaya selalu menjadi persoalan serius bagi pengusaha untuk melakukan sertifikasi.

Read More »
Memperkuat Tren Busana Muslim Melalui Pameran

Memperkuat Tren Busana Muslim Melalui Pameran

News 22 September 2016 Loading..

Menyadari pesatnya perkembangan tren fesyen muslim, Kementerian Perdagangan menggelar Pameran Hijab, Fashion, & Accessories Mall To Mall 2016 di Mall Gandaria City pada 21-25 September 2016. Pameran ini diharapkan mampu menumbuhkan daya saing dan meningkatkan kualitas pelaku usaha fesyen muslim.

Direktur Penggunaan dan Pemasaran Produk Dalam Negeri Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Novi Vrisvintati mengungkapkan, “Tren fashionpreneur di kalangan pecinta fesyen muslim telah berkembang semakin kreatif dan inovatif, terutama untuk hijab. Ini perlu kita dukung. Kita harus menunjukkan bahwa produk fesyen Indonesia memiliki keunggulan baik dalam segi kualitas, estetika, dan kreativitas yang berdaya saing dan mempunyi nilai jual tinggi.”

Novi menyambut positif perkembangan industri fesyen muslim dan aksesorinya yang sangat pesat, seiring dengan pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pameran ini juga menjadi salah satu cara mempersiapkan masyarakat yang mandiri di tengah persaingan kompetisi global. Pameran ini sekaligus membuka peluang bisnis bagi pelaku usaha fesyen, hijab, dan aksesori bagi para perancang busana muslim.

“Diharapkan pameran ini mampu meningkatkan daya saing dan memperkenalkan ragam fesyen muslim Indonesia. Kami menghadirkan stan tematik yang menampilkan hasil karya perancang fesyen, hijab, dan aksesori Indonesia yang sudah terkenal, baik nasional maupun global, khususnya yang sejalan dengan perkembangan kreasi ragam busana muslim tanah air,” lanjut Novi.

Rencananya pameran ini akan berlangsung secara safari di 8 mall di 6 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta (Mall Gandaria City, One Belpark Mall, dan Kota Kasablanka), Bandung (Trans Studio Mall), Yogyakarta (Jogja City Mall), Surabaya (Grand Royal Mall), Palembang (Palembang Icon), dan Makassar (Ratu Indah Mall).

Selain pameran, diselenggarakan pula pagelaran busana, talk show, demo produk, serta make up dan hijab tutorial. Selain itu, digelar pula lomba fesyen muslim anak, kuis, permainan, dan pertunjukan musik. Beragam kegiatan ini diharapkan mampu memasyarakatkan tren fesyen muslim Indonesia. Novi menyambut baik dukungan yang datang dari anggota Asosiasi Perancang Busana Muslim yang hadir menyemarakkan kegiatan.

“Lewat pameran ini, Pemerintah juga mengemban misi meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap produk dalam negeri,” pungkas Novi. (BW)

Read More »
Industri Tekstil Indonesia Kompetitif Di Pasar Global

Industri Tekstil Indonesia Kompetitif Di Pasar Global

News 28 September 2016 Loading..

Indonesia mencatatkan nilai transaksi yang cukup tinggi pada gelaran Texworld 2016 di Paris, Perancis pada 12 - 15 September 2016 yang lalu. Total transaksi tercatat menembus angka USD 5,5 juta.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN), Kementerian Perdagangan, Arlinda, optimis tekstil Indonesia masih kompetitif di pasar global. “Estimasi total kontak dagang mencapai USD 5,5 juta. Nilai ini diperoleh dari delapan perusahaan yang difasilitasi Kemendag. Produk yang paling banyak diminati di antaranya polyester fabric, viscose ring yarn, cotton black dyed yarn, lace, print cotton, dan rayon yarn. Lebih dari 120 inquiry datang dari mitra dagang tetap Indonesia,” jelas Arlinda.

“Merek busana tenar dunia seperti Polo Ralph Lauren dan The Apparell Group adalah salah satu dari sederetan buyer yang berminat dengan tekstil Indonesia. Tak hanya itu, buyer Turki juga memiliki minat yang tinggi untuk tekstil Indonesia sehingga berpeluang meningkatkan ekspor ke Turki,” tambah Arlinda.

Pameran Texworld Paris merupakan pameran produk tekstil terbesar, terlengkap dan telah dikenal dunia. Selain itu Paris merupakan pusat mode dunia untuk para desainer internasional yang menampilkan tren terbaru. Texworld Paris 2016 diikuti oleh 987 exhibitors dari 27 negara dan menampilkan zona peserta khusus yaitu “Elite” exhibitor. Para peserta yang tergabung dalam zona elite ini merupakan hasil seleksi dari pihak penyelenggara dengan beberapa kriteria di antaranya memiliki kualitas produk dengan penilaian terbaik, harga produk yang kompetitif, sangat responsif, dan sistem logistik yang terbaik.


Paviliun Indonesia tampil dengan tema “Remarkable Indonesia” menempati lokasi di hall 4, Paris Le Bourget. Paviliun yang menempati area seluas 96 m2 ini merupakan hasil kerja sama antara Ditjen PEN dengan Atase Perdagangan Paris dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Lyon. Paviliun tersebut diisi delapan perusahaan Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) yaitu, PT. Gistex (Polyester Woven Fabric), PT.Hakatex (Linen,Cotton), PT. Sinar Para Taruna (Wrap Knitting Plain,Lace), PT. Sinar Continental (Printing Apparel), PT. Excellence Qualities Yarn (Yarns), PT.Indo Hasasi (Linen,Cotton), PT. Kewalram (Embroidered Products), dan PT.Mayer Indah Indonesia (Lace, Embroidery, Tulle & Tricot).

”Sebagai platform promosi bagi industri tekstil dunia, Texworld menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk lebih memperkenalkan tekstil terutama industri fesyen kita yang telah berkembang pesat kepada pasar global,” pungkas Arlinda.

Nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia ke Prancis pada semester pertama 2016 mencapai USD 46,52 juta. Prancis merupakan negara tujuan ekspor ke-8 Indonesia di kawasan Eropa. Posisi Indonesia masih dapat diperhitungkan sebagai negara penyuplai produk tekstil ke Prancis. Permintaan pasokan bahan baku pakaian atau tekstil ke Prancis pada 2015 cukup tinggi, yakni senilai USD 28,81 miliar. (BW)

Read More »
AK Tekstil dan Produk Tekstil Solo - Siap Cetak Tenaga Ahli di Industri Tekstil

AK Tekstil dan Produk Tekstil Solo - Siap Cetak Tenaga Ahli di Industri Tekstil

News 30 November 2016 Loading..

Pada 28 November 2016, Komunitas Printing Indonesia mengunjungi Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil yang berlokasi di kawasan Solo Techno Park, jalan Ki Hajar Dewantara, Jebres, Solo. Akademi ini merupakan satu perguruan tinggi vokasi industri dibidang tekstil.

Seiring dengan berkembangnya industri tekstil tanah air, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki kompetensi juga semakin bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja terampil tersebut, Kementerian Perindustrian mendirikan perguruan tinggi vokasi industri, Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil yang berlokasi di Solo.

Perguruan tinggi yang diresmikan pendiriannya oleh Presiden Joko Widodo ini menggunakan sistem pendidikan Diploma II dengan tiga program studi antara lain Teknik Pembuatan Benang, Teknik Pembuatan Kain Tenun dan Teknik Pembuatan Garmen. Akademi ini merupakan program beasiswa dengan ikatan kerja, sehingga seluruh mahasiswa dibebaskan dari biaya pendidikan, dan setelah lulus akan langsung ditempatkan bekerja pada perusahaan tekstil di Solo dan sekitarnya. Para tenaga pengajar di Akademi ini merupakan para professional dan ahli dibidang tekstil. Sistem pendidikan yang diberikan terbagi dalam 3 tahap yaitu pendidikan teori, praktek di sekolah, dan praktek langsung di industri.

Pada kunjungan kemarin, Komunitas Printing Indonesia yang diketuai bapak Usman Batubara diterima oleh Bapak Drs. Abdillah Benteng M.Pd selaku pimpinan AK Tekstil. Pada kesempatan kali ini, Bapak Abdillah menjelaskan tentang program-program Akademi Tekstil serta berkenan untuk mengantarkan Komunitas Printing Indonesia berkeliling melihat ruang praktek dan perlengkapan yang ada. Peralatan yang tersedia untuk belajar merupakan peralatan industri modern dan terbaru. Hampir semua mesin serupa dengan yang digunakan di pabrik. Sehingga ketika sudah berada di lingkungan kerja,  diharapkan mereka tidak akan kaget dengan teknologi yang ada di  perusahaan tempatnya bekerja.

Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil Solo saat ini memiliki 160 orang mahasiswa yang nantinya siap untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja professional di industri tekstil. Menurut Drs. Abdillah, telah banyak perusahaan yang meminta mahasiswa AK Tekstil untuk langsung bekerja di perusahaan setelah lulus nanti. Beberapa perusahaan yang siap menerima lulusan AK Tekstil ini antara lain PT. Sri Rejeki Isman(SRITEX), PT. Dan Liris, PT. Pan Brothers dan masih banyak lagi.

Sekarang AK Tekstil sedang membangun gedung baru yang berada dekat lokasi saat ini. Gedung baru ini nantinya akan mampu menampung 320 mahasiswa baru. Mahasiswa baru terdiri dari 60% masyarakat umum dan 40% sisanya merupakan karyawan yang membutuhkan kompetensi. Adapun syarat-syarat yang dibutuhkan untuk melanjutkan studi ke AK Tekstil antara lain, WNI, Lulus SLTA/SMK, Usia maksimal 22 tahun, Lulus ujian masuk serta Bersedia untuk ikatan dinas selama 3 tahun setelah menyelesaikan pendidikan. (BW)

Read More »