Tags Profile»

Andina Nabila Irvani, Meroket Berkat Sepatu Lukis

Andina Nabila Irvani, Meroket Berkat Sepatu Lukis

Inspiring Your Business 27 Januari 2015 Loading..

Penulis: BW

Berawal dari hobi dan kegemarannya mengkoleksi sepatu, Andina Nabila Irvani sukses menggabungkan kedua hobinya menjadi satu produk yang berkelas dengan omzet puluhan juta.

Disatu tempat di bilangan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, terdapat satu workshop yang memproduksi aneka produk fashion seperti sepatu, tas, dompet dan lain sebagainya. Workshop yang diberi nama SlightShop ini memiliki keunikan tersediri akan produk-produknya. Sepatu, tas maupun dompet yang dijual diperindah dengan unsur lukis sehingga membuat produk-produk fashion ini terlihat elegan, unik dan tidak pasaran. Semua produk dilukis dengan tangan oleh para seniman professional.

Adalah Andina Nabila Irvani S.Sn, gadis cantik kelahiran Bandung, 31 Juli 1990 yang menjadi sosok penting dalam produksi sepatu lukis ini. Dina, sapaan akrabnya, adalah lulusan Binus University jurusan Animation – Visual Communication Design.

Awal Mula Menjadi Pengusaha

“Menyalurkan hobi,” kata Dina ketika ditanya perihal awal memulai usaha sepatu lukisnya. Dina memulai usaha sepatu lukisnya pada tahun 2008. Selain memang karena hobi, Dina juga suka mengoleksi sepatu. Dari situ timbullah pemikiran untuk membuat produk yang dia suka dan sesuai dengan hobinya. “Saya mencintai seni, dan ingin agar seni tersebut menjadi bagian dalam fashion kita sehari-hari,” tulis Dina dalam Company Profilenya. 

Bermodalkan satu juta rupiah dan mengusung konsep Art to Wear, Dina memulai usahanya. Pada awalnya, Dina mampu melukis 5-7 sepatu setiap harinya. Dengan merek dagang Slight, Dina memasarkan hasil karyanya melalui website www.slightshop.com dan juga dibeberapa media social. Dina menganggap bahwa media online menjadi sarana yang efektif dan efisien untuk pemasaran produknya. Selain murah dan mudah, media online juga bisa menjangkau wilayah yang luas tanpa batas. Tapi tidak hanya itu, Dina juga mengandalkan para distributor dan reseller untuk menjual hasil karyanya yang menyasar segmen pengguna wanita dewasa yang menyukai fashion dan menghargai seni. “Sebagian besar pelanggan kami tinggal dikota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Manado dan lain-lain. Rata-rata mereka berusia dewasa dan remaja dengan rentang umur 19-27 tahun,”tambahnya. Dina juga telah menerima beberapa pesanan secara individual dari wilayah ASEAN.

Sepatu lukis yang diproduksinya dia jual dengan harga bervariasi, mulai dari 100 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah. Kini, Dina telah memiliki 4 orang karyawan dengan kepandaian melukis untuk membantu produksinya. Setiap hari tidak kurang 20 pasang sepatu mampu diproduksi. Omzetnya pun meroket mencapai kisaran 35 juta perbulan.  

Sebagai seorang pengusaha, terkadang tidak lepas dari permasalahan. Kendala terbesar yang dihadapi saat ini adalah kurangnya tenaga professional yang memiliki skill bagus dibidang melukis. Dengan semakin banyaknya order yang diterima membuat Dina harus mencari asisten-asisten yang bisa membantunya agar konsumen tidak kecewa. Karena dalam bisnis online dan menjual jasa seperti ini, ketepatan waktu dan kejujuran menjadi satu modal penting dalam berusaha. Sementara untuk bahan baku, Dina bisa mendapatkannya di Jakarta atau terkadang harus mengimpor dari negara lain.

Prestasi Yang Pernah Diraih

Berkat sepatu lukisnya, Dina pernah didaulat menjadi Winner of Shell LiveWire Business Start Up pada tahun 2009. Kemudian pernah juga menjadi nominator Asia’s Best Young Enterpreneur 2009. Pada 2011, Dina juga meraih penghargaan Wirausaha Muda Terbaik dari Kemenpora.

Sedangkan pada tahun 2014 ini, Dina sempat menjadi pembicara dalam Konferensi GAPURA yang diadakan pada bulan Maret yang lalu. Dan pada bulan September tepatnya tanggal 18-21, Dina dengan SlightShopnya mengikuti pameran yang diadakan di Thailand. Pameran yang bertajuk “ASEAN Young Enterpreneur Assembly 2014” ini diikuti oleh pengusaha muda dari 9 negara termasuk Andina dari Indonesia. 

Ketika disinggung tentang pendapatnya terhadap pasar bebas ASEAN 2015 nanti, Dina berpendapat bahwa para pengusaha harus bersiap meningkatkan kualitas produksinya dan terus berpromosi agar dapat bersaing dengan brand-brand luar negeri. Karena bagi Dina sendiri, pasar bebas ASEAN ini merupakan peluang bagi para pengusaha untuk bisa lebih mempromosikan produknya sampai ke luar negeri karena peluang ekspor lebih terbuka. Tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa pasar bebas ini juga mendatangkan ancaman bagi pengusaha dalam negeri, karena bukan tidak mungkin pengusaha asing memasukkan produk yang sama. Inilah mengapa, para pengusaha harus bisa meningkatkan kualitas produknya.

Untuk mempermudah pengusaha meningkatkan kualitas produsinya, Dina mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah termasuk aspek perizinan, birokrasi, biaya impor bahan baku dan kemudahan-kemudahan lain. Ini diperlukan adanya kerjasama yang erat antara pemerintah dan pengusaha untuk bisa meningkatkan daya saing produk dalam negeri ke luar.

Diakhir pembicaraan, Dina mengungkapkan targetnya untuk lebih memperkuat brand, meningkatkan kualitas produk, menambah lebih banyak variasi produksi dan mengembangkan distribusi agar SlightShop lebih dikenal lagi.

“Yang penting jangan takut untuk memulai, jangan berhenti berkreasi dalam membuat lukisan dan melakukan inovasi. Sambil jalan kita juga belajar berbisnis, InshaAllah akan ketemu triknya,” tips dari Dina bagi mereka yang hendak memulai usaha. Bagi yang ingin melihat koleksi sepatu karya Dina bisa mengunjungi www.slightshop.com

Read More »
Ideku, Membuat Satu Desain Untuk Satu Baju, Hanya Satu Di Dunia

Ideku, Membuat Satu Desain Untuk Satu Baju, Hanya Satu Di Dunia

Inspiring Your Business 27 Januari 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Banyak orang bermimpi ketika memakai baju, tidak ada yang menyamainya. Kini hal itu bukanlah mimpi, merek baju IDEKU hadir untuk membuatnya nyata karena memastikan hanya Anda yang memiliki baju berdesain eksklusif di dunia ini.

Baju berdesain eksklusif dan hanya satu-satunya di dunia hadir untuk Anda dengan merek IDEKU akan menjadi kebanggaan bagi pemiliknya. IDEKU menjamin, kemana pun baju itu dipakai tidak akan pernah ada yang sama.
IDEKU merancang dan mengkreasi baju ini dengan memadukan motif-motif tradisional Indonesia yang mempunyai nilai tinggi baik dari motif batik, motif Bali, Kalimantan dan lain sebagainya. Tim desain kami berupaya menampilkan modifikasi motif tradisional yang fashionable.” kata Sugiarto, pendiri dan pemilik PT Indo Duta Eka Kreasi Unik.

Indonesia dan berkomitmen untuk melestarikan, mengembangkan dan mempopulerkan secara nasional dan internasional, untuk itu kami membuat kreasi dari beragam motif dan ragam hias tradisional Indonesia.
IDEKU sebuah usaha yang dibangun dengan mengandalkan kreatifitas dan harus selalu kreatif. Baju eksklusif satu desain dan hanya satu-satunya di dunia merupakan sebuah karya kreatif untuk menjadi bisnis yang unggul dan berbeda dengan semua produk yang ada.
Desain dan Motif
Kekayaan motif tradisional Indonesia menginspirasi divisi desain IDEKU untuk menghasilkan karya kreatif tanpa takut kehabisan ide. Desain yang dihasilkan mereka sekitar 20-30 desain setiap hari.
Tim divisi desain IDEKU terdiri dari anak-anak muda Indonesia kreatif yang memiliki kemampuan memodifikasi berbagai motif tradisional untuk menciptakan sebuah desain yang cantik, enak dipandang dan nyaman ketika dipakai.
Desain dan motif yang sudah siap. akan diproduksi sekali saja dengan jumlah hanya satu kain untuk menjadi sebuah baju dengan menggunakan teknologi modern yakni melalui digital print.
Satu Baju
Sebuah desain dituangkan atau diprint pada sebuah kain hanya dibuat menjadi sebuah baju saja. Desain dan motif serupa tidak akan pernah diproduksi lagi sampai kapan pun. Jadi baju ini menjadi satu-satunya di dunia dengan merek IDEKU.
Bagi mereka yang sudah membeli atau memiliki baju eksklusif IDEKU ini, dirinya menjadi pemilik tunggal. Kemana pun dirinya pergi ke berbagai belahan bumi ini, tidak akan pernah ada yang menyamainya. Baju IDEKU ini menjadi sangat-sangat eksklusif, hanya satu orang saja di dunia yang memilikinya.
Butik Ideku
Dalam mendistribusikan baju-baju eksklusif IDEKU, sementara waktu akan disebar di tiga toko yang berlokasi berbeda yakni di Court Harapan Indah, Bekasi; Sarinah Thamrin lantai 4, Jakarta dan Galeria Jakarta, Cilandak Town Square (CITOS), Jakarta.
Keistimewaan yang ditawarkan oleh IDEKU kepada konsumennya adalah seseorang yang telah melakukan pembelian baju eksklusif ini, pihak IDEKU akan mencatatnya sehingga selalu terdata pemilk bajunya dan otomatis sebagai pemegang yang sah desainnya.
Ke depan, IDEKU akan terus menambah persebaran store yang ada. Jika memungkinkan akan terdistribusi ke sejumlah kota besar di Indonesia. Selain akan didistribusikan di toko, baju-baju ini juga akan ditawarkan secara online. Saat ini masih dalam proses pembuatan websitenya.
Harga terjangkau
Baju eksklusif IDEKU ditawarkan kepada seluruh kalangan masyarakat. IDEKU berupaya menjual baju ini dengan harga terjangkau sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memilikinya.
IDEKU akan menawarkan baju dengan desain eksklusif dan satu-satunya di dunia dengan harga mulai dari Rp300 ribu hingga Rp850 ribu saja. Menurut kami kisaran harga yang ditawarkan cukup terjangkau bagi masyarakat Indonesia.


Sebelumnya IDEKU telah menghadirkan berbagai produk fasyen seperti baju, baju muslim, dasi dan lain sebagainya. Produk kami ini cukup diminati para konsumen, mereka merasa nyaman ketika menggunakannya. Hadirnya produk terbaru IDEKU yang eksklusif ini, kami yakini juga akan direspon oleh masyarakat Indonesia.
Baju eksklusif bermotif tradisional asli Indonesia merupakan wujud dari rasa cinta IDEKU akan seni warisan leluhur budaya Indonesia. “Kami berharap karya ini bisa membantu memperkenalkan kekayaan seni budaya Indonesia ke masyarakat luas dan juga menghadirkan rasa bangga pada produk dalam negeri.” harap Sugiarto

Read More »
Rumah Batik Komar

Rumah Batik Komar

Inspiring Your Business 27 Januari 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Batik sebagai warisan budaya Indonesia sangat perlu dilestarikan dan diedukasikan kepada seluruh masyarakat terutama generasi muda. Agar esensi batik yang sebenarnya berkesinambungan. Dengan demikian, mereka tahu perbedaan batik dengan tekstil bercorak batik.

Konvensi Batik RSNI (Rancangan Standarisasi Nasional Indonesia) di Yogyakarta pada tahun 2013 bersepakat mendefinisikan Batik sebagai kerajinan tangan sebagai pewarnaan secara perintangan menggunakan malam (lilin batik) panas sebagai perintang warna dengan alat utama pelekat lilin batik berupa canting tulis atau canting cap untuk membentuk motif tertentu yang memiliki makna.
Berdasarkan definisi konvensi maka Batik begitu istimewa dan bernilai sehingga patut dilestarikan. Untuk mengedukasi dan melestarikannya, masyarakat harus diberikan fasilitas agar mereka dapat belajar dan memahami proses pembuatan batik. Oleh karena itu H. Komarudin Kudiya S.Ip, M.Ds bersama istri Hj. Nuryanti Widya mendirikan Rumah Batik Komar.
Komarudin Kudiya merupakan keturunan keluarga pembatik Desa Trusmi, Plered, Cirebon,
Jawa Barat, sehingga cukup familiar dengan aneka macam desain batik. Komar mendirikan Rumah Batik Komar awalnya untuk memproduksi dan melestarikan Batik Cirebon pada tahun 1998 di Kota Bandung, Jawa Barat. Saat ini memiliki workshop dan showroom di Jalan Cigadung Raya Timur I No. 5.
Batik Komar produksi aneka jenis motif batik modern dengan kualitas kain terbaik, kaya warna dan otentisitas. Semua produknya memujudkan identitas unik dan desain baru. Rumah Batik Komar mempekerjakan sekitar 300 orang yang tersebar di kota Cirebon dan Bandung.
Workshop dan dan showroom yang terletak di Bandung, tercatat sebagai pemegang rekor MURI untuk batik terpanjang, membuka “dapur” tempat produksinya untuk umum. Komar melakukan ini agar batik milik Indonesia tidak dicabut pengakuannya oleh UNESCO, karena menjaga kelestarian dan menggunakan batik adalah salah satu perjanjiannya.
Komar juga pernah mempelopori batik cap terpanjang di dunia yang dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Ia juga masih terus berjuang untuk mengembangkan bergam motif batik dari Sabang sampai Merauke.
Rumah Batik Komar tidak hanya memproduksi batik sebagai komoditas jualan tetapi juga sebagai fasilitasi untuk para pengunjung yang tertarik dengan proses pembuatan batik atau ingin belajar membuat batik sendiri. Hal ini dilakukan dalam upaya memperbanyak orang untuk mengenal dan mencintai ragam tekstil khas Indonesia.
Setiap rombongan yang dating diajak belajar proses membatik, dari mulai mencanting, mencelup, sampai jadi sebuah sapu tangan batik. Mereka dibimbing para karyawan galeri itu. Komar juga menyiapkan waktu untuk memberikan penjelasan kepada siapa pun dan menjawab pertanyaan mereka mengenai sejarah batik dan proses pembuatannya.
Mayarakat yang ingin belajar membuat batik, Komar menyediakan berbagai paket pelatihan dengan materi dan waktu belajar berbeda-beda. Berbagai materi yang akan dilatih seperti materi mendasar, materi profesional, pengenalan desain, pembuatan batik, proses pewarnaan dan pemasaran batik.
Paket-paket yang ditawarkan Rumah Batik Komar, seperti paket kunjungan melihat proses membatik untuk rombongan kurang dari 20 orang biaya yang dikenakan sebesar Rp15 ribu per orang. Jika lebih dari 20 orang maka biayanya menjadi Rp10 ribu per orang.
Untuk pelatihan membatik sapu tangan pewarnaan satu warna (Celup), kain katun 40 x 40 cm dikenakan biaya Rp40 ribu, Rp70 ribu dan Rp90 ribu per orang. Biaya yang dikenakan tergantung jumlah peserta pelatihan. Sedangan proses membatik sapu tangan empat warna (colet) berukuran 40 x 40 cm akan dikenakan biaya antara Rp70 ribu, Rp95 ribu dan Rp105 ribu per orang. Hal ini juga tergantung jumlah peserta. Semakin banyak peserta pelatihan biayanya semakin murah.
Sedangkan untuk berlatih membuat taplak meja besar pewarnaan 4 warna (colet) dengan ukutan 1 x 1 meter dalam waktu 8 jama selama 3 hari akan dikenakan biaya sebesar Rp1,5 juta per orang atau Rp500 ribu per hari. Pelatihan ini bisa diikuti secara sendiri-sendiri.
Semantara untuk paket profesional dengan materi produkdi dan manajemen industri batik dengan pemberi materi langsung oleh pemilik Rumah Batik Komar dan belajar mambuat batik dari awal hingga akhir akan dikenakan tarif sebesar Rp3 juta per orang. Pelatihan ini dilakukan selama 8 jam per hari dalam jangka waktu selama 5 hari.
Rumah Batik Komar libur pada hari Minggu atau Hari besar. Jadi Pelatihan ini dilakukan pada hari Senin hingga Sabtu. Para peserta tidak perlu repot untuk membawa kain katun dan bebas menggunakan bahan dan peralatan Batik Komar selama pelatihan. Selain itu peserta akan mendapat sertifikat.

Read More »
Industri Apparel Tidak Pernah Mati

Industri Apparel Tidak Pernah Mati

Textile & Garment 29 Januari 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Industri apparel tidak akan pernah mati, apalagi Indonesia mempunyai pemerintah yang memberikan dukungan besar dan keahlian masyarakat cukup baik tetapi ketersediaan Sumber Daya Manusianya terbatas

Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terbatas menjadi kendala tersendiri untuk meraih peluang di industri apparel. “Cukup banyak mesin produksi tidak berjalan optimal karena SDM-nya tidak tersedia cukup,” kata William Tan, Managing Dunia Sandang ketika PRINTEX melakukan perbincangan di kantor Dunia Sandang, Pasir Koja, Bandung.

Peluang Indonesia sangat besar untuk industri apparel. Dunia Sandang cukup ramai didatangi pembeli dan kegiatan garmen mulai ekspor kembali ke berbagai Negara seperti United Kingdom dan Australia, karena permintaannya ada. Jadi ke depan, tergantung dari pasar yang kita tuju. Pesaing sangat banyak, jika kita menyasar kelas menengah ke bawah akan sulit berkembang.
Pasar menengah ke bawah mungkin profitnya lebih besar, tetapi untuk jangka pendek. Bila dilihat secara jangka panjang masih menjadi pertanyaan.

Dunia sandang, dalam menyikapi pasar yang besar membuka delapan divisi dengan program unggulan. Hal ini sangat penting untuk antisipasi pasar ke depan. “Kami tidak takut bersaing karena memiliki berbagai keunggulan seperti memiliki kemampuan di industri apparel dengan baik dan berpengalaman baik pengetahuan bahan, proses dan lain-lain. Selain itu, juga memiliki inovasi dan kreativitas yang sangat baik,” tegas William.

Indonesia memiliki kemampuan dan peluang yang besar di depan, dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Kamboja dan lainnya. Posisi Negara tetangga seperti posisi Indonesia pada tahun 1998/1999.
Kami bingung jika dikatakan industri apparel dikatakan sepi, Dunia Sandang untuk tahun 2014 mencapai outstanding 250 ribu pieces, padahal tahun 2013 hanya mencapai 160 ribu saja. Pertumbuhan yang cukup signifikan, “Memang hal itu tergantung market kita dan hubungan dengan para kostumer,” ucap William.

Kalau diamati, cukup banyak kejatuhan para pelaku usaha karena ulahnya sendiri. Seringkali terjadi, jika sudah merasa sukses menjadi kurang fokus dan gaya hidupnya berlebihan. Mereka baru akan menyadari ketika sudah terjatuh.
Industri fesyen harus mengikuti kemajuan teknologi untuk melakukan terobosan-terobosan baru. Meningkatkan daya saing dan memenangkan persaingan wajib diusahakan walau pun industri fesyen tidak akan mati selama manusia butuh pakaian.

Berkat kemajuan teknologi, berbagai sarana promosi dan melayani para pelanggan tersedia, cepat dan mudah, seperti email, media social dan lain sebagainya. Saat ini memasarkan produk tekstil dan garmen tidak lagi mengenal jarak, semua dengan mudah lintas daerah, wilayah dan Negara.
“Dalam menghadapi persaingan ke depan, kita tidak perlu takut, yang terpenting adalah focus dan mengikuti prosesnya. Kita melakukan sesuai kapasitas dan telaten serta kerja keras dan cerdas,” kata William. Lebih lanjut, beliau menyatakan kita harus tetap mempunyai bisnis utama dan perlu melakukan diversifikasi usaha. Selain itu, harus berkesinambungan dari generasi ke genarasi. Jangan hanya berfikir untuk satu generasi saja setelahnya bingung atau mati.
Tren Fesyen
Para desainer sudah memprediksi tren fashion tahun ke depan secara umum. Para perancang mode, sudah mempersiapkan model-model busana yang diperkirakan akan menjadi tren. Perkembangan tren fesyen sangat dipengaruhi oleh teknologi, budaya, dan perubahan alam serta perilaku konsumen.

Secara desain tahun 2015 diprediksi mengusung desain simple bergaris, dan akan dimotori oleh kaum kreatif yang bermunculan dengan kata kunci creative mind set dan selalu mengedepankan fungsi.

Paduan unsur tradisional dan modern dimodifikasi menjadi lebih simple elegan sehingga tetap ada perpaduan motif dari budaya Indonesia. Warna yang ditampikan lebih harmonis bernuansa netral seperti hitam polos, putih transparan, silver, gold, namun dipadu dengan sentuhan motif tradisional. Siluetnya juga akan lebih sederhana juga asimetris.

Selain itu, ke depan terinspirasi dari kerusakan alam dan ekosistem yang hampir punah. Warna Hitam dan perpaduan warna netral lainnya yang akan mendominasi tema kedua ini. Dari unsure teknologi perkembangan gadget serta generasi muda yang semakin kreatif dalam menciptakan suatu karya khususnya di Kota Jakarta.

Warna terang seperti kuning, ungu, pink, merah, serta oranye, akan mendominasi tren tahun mendatang. Busana yang ditampilkan akan mudah dimodifikasi menjadi berbagai model. Untuk busana muslim akan mengambil warna alami seperti offputih, hijau, coklat tanah, dan hijau menjadi perpaduan dinamis untuk menjadi tren busana muslim 2015.

Read More »
Charlie Taubleib, Icon Screen Printing Akan Hadir di Solo

Charlie Taubleib, Icon Screen Printing Akan Hadir di Solo

Screen Printing 13 Februari 2015 Loading..

Majalah PRINTEX berkesempatan mengunjungi Pameran FESPA China dan CSGIA Expodi Guangzhou, Tiongkok yang diselenggarakan pada tanggal 19 – 21 Nopember 2014 lalu untuk memamerkan perkembangan teknologi cetak tekstil. Selain itu, kami juga berkesempatan bertemu dengan tokoh Screen Printing Dunia berasal dari Denver, Colorado, Amerika Serikat bernama CHARLIE TAUBLEIB,
Saat bertemu dengan Charlie Taubleib, tidak ada kesan angkuh atau sombong. Beliau tetap bersahaja meski ilmunya tinggi. Dalam suasana penuh keakraban yang diselingi canda tawa, Majalah PRINTEX menawarkan kepada Charlie apakah bersedia hadir di Indonesia pada pameran IAPE SOLO 2015 yang menurut rencana akan diselenggarakan pada tanggal 5-8 Maret di Diamond Convention Center Solo, Jawa Tengah.
Ditengah kesibukannya keliling dunia hampir selama 200 hari dalam satu tahun, sebagai pembicara oleh banyak organisasi di berbagai negara, Charlie menyatakan kesanggupannya untuk hadir pada pameran IAPE SOLO 2015, yang kebetulan jadwal waktunya sedang kosong sehingga bisa datang ke Indonesia.
PRINTEX pernah bertemu dengan Charlie pada Pamera FESPA Asia di Singapore pada bulan Nopember 2011. Dan, kami sudah menulisnya sekilas di Majalah PRINTEX Edisi 2.
Latar belakang Charlie Taubleib
Charlie sebagai sarjana Seni Murni dari Western Michigan University di Kalamazoo, Michigan, Amerika Serikat tahun 1970, dengan major melukis dan minor di bidang cetak dan menggambar. Charlie menjadi anggota Akademi Teknologi Screen Printing, dan dipercaya untuk menjadi juri di berbagai kejuaraan seperti pada SGIA Golden Image Award, IMPRESSION award dan berbagai kejuaraan screen printing lainnya. Ia juga berhasil meraih berbagai penghargaan di bidang printing.
Meniti karir professional dari bawah yaitu sebagai paste-up and mechanical artis di Appleton-Century-Crofts New York, New York pada tahun 1971-1972. Kemudian, sebagai desainer di Penerbitan Fawcett di New York selama dua tahun (1972-1974). Selanjutnya, selama dua tahun pula bekerja sebagai Corporate Graphics pada American Broadcasting Company di New York pada tahun 1974-1976.
Akhirnya pada tahun 1976, Charlie mendirikan perusahaan sendiri dengan nama Great American Screen Designs, Inc. Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Sebagai Owner/Vice President Co-founder perusahaan, Charlie mengkhususkan usahanya pada desain khusus T-shirt untuk pertunjukan konser musik rock.
Perjalanan usahanya begitu cemerlang sehingga mendapat penghargaan karena inovasinya di bidang desain screen printing Tshirt tersebut. Namun saying, perusahaan yang mempekerjakan 100 orang termasuk 6 artis, hanya berlangsung hingga tahun 1981.
Ingin lebih mengembangkan diri, Charlie bekerja di Fashion Design Group, Inc. Denver, Colorado, AS sebagai Plant Manager dari tahun 1981-1982. Perusahaan ini mengkhususkan pada pakaian olahraga ski dan liburan. Dan, pada tahun 1982-1983, ia membuat divisi screen printing dan berperan sebagai Technical Sales di LithoTech/ScreenTech Denver, Colorado, AS.
Charlie kembali mendirikan perusahaan bernama Bullseye Screen Printing Supplies, Inc. Denver, Colorado, AS. Kali ini, ia bertindak sebagai Owner/President dan menggerakkan perusahaan sehingga mempunyai kekuatan yang mampu memberikan dukungan produk yang baik dan dukungan teknis, selama tahun 1983-1995.
Dan, sejak tahun 1995 sampai dengan saat ini, Charlie mendirikan dan sebagai President Taublieb Consulting Greenwood Village, Colorado, AS. Institusi ini memberikan layanan seperti Plant Layout & Design Productivity, Analysis Plant Evaluation Quality Control Systems, Technical Problem Solving, Marketing Assistance, dan Employee Training Seminars & Workshops.
Pengalamannya yang banyak dan lengkap, membuatnya sangat dikenal dalam industri screen printing tekstil di Amerika, Asia, Eropa dan Amerika Latin. Ia beberapa kali dipercaya sebagai pembicara di workshop dan Seminar Imprinted Sportwear Show di Amerika yang sudah berumur 40 tahun, di forum SGIA dan DAX show, pembicara di forum FESPA (Federation Europe Screen Printing Asociation) di seluruh dunia, dan di Communiquez Textile di Perancis dan PSI dan TVP di Jerman.
Seminar manajemen dan teknik screen printing
Dalam pameran IAPE Solo, Jawa Tengah, PRINTEX bersama MORE Media Kreasi berencana menyelenggarakan berbagai seminar seperti tentang pengelolaan perusahaan garmen khususnya di bidang screen printing, bagi para pengusaha industri garmen dan lingkup industri tekstil dan seminar tentang teknik cetak screen printing bagi para praktisi industri screen printing.
Seminar-seminar ini akan dihadiri tokoh screen printing kelas dunia yakni oleh Charlie Taublieb. Kami berharap kehadiran tokoh terkenal ini dapat benar-benar bermanfaat bagi industri screen printing di Indonesia.


Dalam menyukseskan seminar ini, PRINTEX mengharapkan masukan dari berbagai pihak, trerutama mengenai permasalahan yang sering dijumpai para praktisi, dan ingin sekali mengetahui cara penanggulangannya. Jika ada masukan-masukan yang ingin disampaikan kepada PRINTEX, dapat disampaikan melalui: info@printexmag.com.
Kami perlu sampaikan, untuk informasi selanjutnya tentang rencana Seminar Charlie Taubleib akan kami sampaikan melalui website PRINTEX:
www.printexmag.com.

Read More »
WPAP,  Pop Art Karya Anak Bangsa

WPAP, Pop Art Karya Anak Bangsa

Graphic & Design 22 Mei 2015 Loading..

Wedha Pop Art Potrait (WPAP) karya Wedha Abdul Rasyid ingin memberikan inspirasi untuk seni rupa Indonesia. Seni ini ingin tampil berbeda, memiliki impresi yang kuat dan atraktif. Saat ini, WPAP sedang digandrungi anak muda di Indonesia dan dunia.

Cukup panjang perjalanan WPAP untuk diapresiasikan sebagai karya seni anak bangsa Indonesia. Seni ini sebenarnya dimulai sejak tahun 1990-an. Namun karena berbagai hal, seni sempat terkubur belasan tahun.

Baru pada tahun 2008, WPAP bangkit dengan dukungan berbagai pihak seperti Prof.Dr. Soedarso SP. Dan, untuk menyemarakkan seni WPAP, Wedha menggelar pameran tunggal karya seni WPAP. Pameran itu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Wedha ingin memberikan suatu karya untuk Indonesia, Ia tergerak bukan hanya sebagai pengikut karya seni sebelumnya. “Indonesia kaya akan karya seni, saya merasa malu dengan para leluhur bangsa Indonesia yang telah melahirkan banyak karya. Saya ingin melahirkan sebuah seni yang bisa dikatakan baru” kata Wedha dalam seminar di IAPE 2015, Surabaya. Jawa Timur.

Hasilnya sangat membanggakan, WPAP telah diakui oleh dunia sebagai karya seni rupa dari Indonesia. Negara seperti Perancis dan Canada ingin belajar mengenai WPAP, bahkan sudah terbentuk komunitas WPAP.

Di Indonesia, WPAP sudah tercatat dalam rekor MURI oleh SMK IPIEMS Surabaya untuk gelar WPAP terbanyak.

Saat ini WPAP bisa diaplikasikan ke berbagai hal, termasuk di kaos atau produk tekstil. Kemajuan teknologi digital printing sangat mempermudah menampilkan warna-warna dalam WPAP. Hal ini dibuktikan oleh mesin Digital to Garment Anajet. Hanya dalam waktu satu jam saja, mulai dari  membuat desain hingga jadi atau ter-print di kaos, sebuah karya seni WPAP menghiasi kaos polos Gildan.

Semoga WPAP terus berkembang sebagai karya seni rupa anak Indonesia dan bisa menginspirasi banyak hal di industri apparel.

Read More »
Shape Your Future Career as an International Visual Designer

Shape Your Future Career as an International Visual Designer

Seminar 23 September 2015 Loading..

Dalam seminar ini, Printex menghadirkan empat pembicara terkait Visual Design Specialist yakni Adi Nugroho. SA (Adobe Certified Associate dan Visual Design Specialist), Arbain Rambey (Fotografer Senior Kompas), Joni Hadi (Creative Designer Kompas-Gramedia), dan Rudi Askornnukul, Sales Manager WIFAG-Polytype Thailand Ltd. Seminar ini dimoderatori Bambang Supriyadi (Director PRINTEX Magazine). Para pembicara menjelaskan dan menampilkan ide-ide kreatif menjadi karya visual tercetak dengan kualitas tinggi.

Seminar berlangsung pada tanggal 7 Agustus 2015 dan dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari berbagai kalangan seperti mahasiswa dan dosen desain karya visual, pekerja desain visual dan para undangan.

Seminar ini mendapat dukungan dari berbagai pihak seperti Datascrip dengan meminjamkan perangkat Wacom dan kamera Canon. Untuk perangkat notebook didukung oleh Xenom, merek perangkat mobile Indonesia.

Kreatifitas desain ini akan diterapkan ke industri tekstil dan fashion, karenanya seminar ini didukung juga oleh Gildan, merek kaos polos global dan printkaos, usaha print digital kaos serta WIFAG-Polytype Thailand Ltd.

Tujuan seminar ini untuk memberikan semangat baru kepada generasi muda dan desainer muda menuju dunia. Dan, para pelaku kreatif Indonesia tidak kalah jika dibandingkan dengan desainer mancanegara. Sayangnya, di Indonesia belum banyak yang mempunyai pengakuan dari dunia secara legal atau bersertifikat.

Ke depan, produk-produk industri manufaktur kian mengarah pada produk yang bersifat personal dan unik. Kecenderungan ini dipicu oleh perkembangan yang pesat di bidang grafis dan digital. “Produk yang makin personal ini merupakan ciri dari industri 4.0,” kata Rudi Askornnukul, Sales Manager WIFAG-Polytype Thailand Ltd, ketika berbicara dalam diskusi bertema “Shape Your Future
Career as an Internatonal Visual Designer” pada Jumat (7/8), di area FGD Expo 2015 di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat. “Ciri yang lain adalah murah dan berkualitas.” Rudi menjelaskan, Industri 4.0 merupakan perkembangan industri sejak masa revolusi industri, yang disebutnya sebagai Industri 1.0.,
dengan ditemukannya mesin yang dipakai di pabrik-pabrik. Kemudian  berkembang menjadi Industri 2.0 yang diawali dengan dipakainya tenaga listrik dalam industri. Sedangkan Industri 3.0 terjadi ketika pemakaian teknologi informasi dan otomasi dalam industri kian masif. “Dan kini, kita harus bersiap memasuki dalam industri 4.0,” tegas Rudi.

Selain itu, Rudi menyatakan perusahaan multinasional seperti Nike, bisa menerima pesanan produk individu atau orang per orang. “Jadi tidak lagi hanya memproduksi barang berdesain sama yang masif,” ucapnya. Nike, pernah menerima orderan dari 30 ribu orang dengan 30 ribu desain produk. Hal ini juga dilakukan Coca-Cola dan Unilever. Keunikan personal, harga terjangkau, dan produk berkualitas ini bisa dipenuhi lantaran adanya teknologi digital printing yang kian canggih.

Setelah mendapatkan pencerahan dari Rudi mengenai perjalanan industri. Peserta seminar juga disemangati oleh Arbain Rambey. Dalam dunia fotografi, khususnya jurnalistik fotografi, hadirnya perangkat digital tak bisa dihindari.

“Awalnya memang banyak fotografer yang menolak produk fotografi digital. Namun, lama kelamaan, banyak yang memakai karena memang ini tuntutan,” kata Arbain. Dalam dunia jurnalistik, penggunaan perangkat lunak digital semacam program Adobe Photoshop, bukanlah penipuan fakta. “Justru yang sering direkayasa adalah momen dan situasi, bukan perangkat digitalnya,” katanya.

Sementara Joni Hadi menilai dalam membuat karya-karya ilustrasi dan dekorasi, banyak dipermudah dengan kehadiran perangkat digital seperti Wacom. “Kerja menjadi cepat, dan lebih cepat mendapat pendatan,” tegas Joni.
Dan secara tegas Adi Nugroho menerangkan tentang teknologi digital yang kian membuka peluang untuk berkarir di dunia internasional, khususnya sebagai visual designer.

Di Adobe misalnya. Bagi para desainer yang berhasil mendapatkan sertifikasi Adobe, secara otomatis akan memperoleh peluang pekerjaan dari seluruh dunia, “Jadi, begitu mendapat sertifikasi, jika ada pekerjaan di Rumania misalnya, Anda langsung ditawari. Tinggal Anda memilih apakah mau diterima atau tidak,” terang Adi. Jadi peluang pekerjaan tak hanya datang dari dalam negeri, tetapi dari berbagai Negara di dunia. Kita sekarang berada dalam iklim globalisasi, arus orang dan barang serta jasa datang dan pergi tanpa batas lagi. Siapkah kita menghadapi pasar bebas. Semoga, sumber daya manusia Indonesia siap berkompetisi. (Bud)

Read More »
Alex Gunarian, Pelaku Sablon Kelas Dunia

Alex Gunarian, Pelaku Sablon Kelas Dunia

Inspiring Your Business 17 November 2015 Loading..

Dalam menjalankan dan melayani bisnis sablon. kita harus siap menerima
tantangan setiap saat. Tantangan terbesarnya adalah harus mampu mempertahankan konsep desainer yang dituangkan di gambar atau desain ketika dipindahkan ke kaos, bahkan membuat desainnya hidup.

Sebuah desain yang terlihat di gambar pada dasarnya sama, tetapi yang membedakan adalah karakternya. Misalnya untuk pesanan Universal Studio, Singapura, warna yang keluar harus sama dengan apa yang disyaratkan karena
warnanya paten sehingga warnanya harus konsisten atau sama.

Kita sebagai pembuat harus bisa membuat hal itu, berbagai teknik sablon harus dikuasai seperti spot color dengan rumusan tertentu agar bisa mengeluarkan warna yang diinginkan. “Kita harus mampu mempertahankan warna tersebut apa pun posisi dan kondisi kaos.” Kata Alex Gunarian, pemilik Warna Aseli Prirnting.
Para pemesan datang dari berbagai penjuru seperti dari mulut ke mulut, internet atau web dan lainnya. Pemesan dari mulut ke mulut dari dari pemesan lokal atau penjual tinta seperti Lucas juga bisa merekomendasikannya. Orderan
yang cukup banyak dikerjakan Warna Aseli adalah photo print karena mempunyai mesin dan kemampuan merealisasikan gambar dengan baik.
Warna Aseli juga cukup lihai dalam membuat kaos dengan desain karakter untuk anak-anak.

Alex sebagai nakhoda Warna Aseli sangat lihai dan mumpuni dalam  merealisasikan desain kaos untuk anak-anak. Lelaki yang mengenyam pendidikan di Amerika Serikat bidang Advertising, tetapi kembali ke Indonesia menggeluti dunia sablon karena sejak kecil sudah cukup mengenal sablon. Ketika itu orang tuanya mempunyai toko sablon di Bandung. Ketika disuruh
meneruskan usaha sablon orang tua, Alex merasa tantangannya kurang, hanya
duduk dan menunggu pembeli datang. Saat itu Alex melihat, di Bandung yang mampu menerima orderan pecah warna di toko saya dan Lucas.
Ilmu yang dipelajari Alex ketika mengambil bidang advertising tetap dipakai
terutama dalam hal desain dan pecah warna serta membawa sablon menjadi
lebih modern. Sebenarnya membuka usaha sablon cukup mudah, apalagi saat ini kemajuan teknologi sedemikian rupa. Jika mengalami kesulitan sudah cukup banyak perusahaan atau penyedia jasa sablon yang siap membantu.
Alex sudah menekuni bisnis sablon sekitar delapan tahun dan merasa cukup puas dengan apa yang dilakukan. Namun, kami tetap terus belajar berbagai hal tentang sablon, agar tidak tertinggal dengan lainnya.
Ke depan menurut pandangan saya akan mengarah ke digital. Itu sebuah keniscayaan dan sablon manual akan berkurang tetapi tidak akan mati atau hilang. Sablon manual terus ada dengan perubahan kearah modernisasi, karena orang-orang atau konsumen melek internet dan teknologi sehingga mengerti akan kualitas. Mereka tidak lagi membandingkan antar daerah melainkan antar benua atau negara. Jadi para pelaku usaha sablon harus
mengejar kualitas yang mampu dihadirkan negara lain.
Alex melihat, orang-orang Indonesia sangat mampu karena orang-orang Indonesia sangat kreatif. Kita mau tidak mau harus mengikuti perkembangan teknologi yang berkembang dan mengarah ke digital. Alex menilai sablon digital masih permulaan dan belum maksimal. Perangkat yang hadir sudah baik tetapi dalam produksi belum bisa mengikuti kebutuhan pasar dan belum bisa diandalkan menjadi bisnis. Digital masih membutuhkan waktu cukup lama untuk matang sebagai perangkat bisnis sablon yang optimal.
Sebuah bisnis harus berjalan seimbang antara produksi dan pemasarannya. Pelaku usaha harus pandai melihat peluang, order dan permintaan. Jika orderan hanya memproduksi dalam jumlah sedikit harus dibedakan dengan yang jumlah besar atau rutin. Faktor biaya terbesar dalam bisnis sablon adalah setting dan operasional. Kita juga bisa kerja sama dengan pemesan untuk mendapatkan jumlah orderan besar secara rutin.
Usaha sablon adalah menjual layanan atau servis, jadi kita harus berusaha melayani dan membantu para pemesan untuk bisa menjual hasil produksi
kita. Kita harus saling mengisi antara tukang atau perusahaan sablon dengan
pemesan, agar sama-sama bisa menjalankan bisnis masing-masing.
Masing-masing usaha sablon memiliki karakter dan kualitas sendiri. Satu usaha
sablon dengan lainnya tidak ada yang sama persis. Mereka masing-masing mempunyai keunggulan. Warna Aseli Printing sudah mengerjakan orderan dari
Indonesia dan mancanegara, mulai dari brand local, internasional dan brand
berlisensi. (bud)

Read More »