Tags Sertifikasi»

PENTINGNYA SERTIFIKASI DAN STANDARISASI PRODUK

PENTINGNYA SERTIFIKASI DAN STANDARISASI PRODUK

Textile & Garment 14 September 2015 Loading..

Penulis: Budi Santoso

Testex melakukan standarisasi dengan melihat dan mengacu kepada regulasi internasional, seperti di Eropa dan Amerika. “Negara di Eropa memang yang paling komit dan peduli terhadap perubahan atau perkembangan produk tekstil. Mereka hampir enam bulan sekali me-review zat-zat kimia apa aja yang tidak boleh ada di produk tekstil,”kata Titi Susanti, Director PT Testex Testing and Certification.


Titi mengutarakan, jika ingin mengekspor barang-barang ke Eropa harus memenuhi standarisasi mereka yakni REACH dan jika mengekspor barang atau produk dalam volume satu ton per tahun, maka produknya harus teregistrasi.

Standar Oeko-Tex 100 menjadi salah satu standart internasional untuk produk dan setiap bulan Januari standar ini melakukan update perubahan atau penambahan parameter baru. Bahkan bisa juga memasukkan zat baru yang tidak boleh terkandung, padahal sebelumnya diperbolehkan, karena setelah diteliti dianggap berbahaya bagi kesehatan. Saat ini Standar Oeko-Tex 100 telah menguji sekitar 300 zat yang dianggap berbahaya dan tidak boleh digunakan dalam produk. Jumlah zat yang terlarang terus mengalami peningkatan. Pada tahun 1992 sebagai awal pengujian hanya sekitar 100-an zat, tetapi hingga 30 Juni 2015 sudah menjadi 300 zat.
Berdasarkan data yang ada di seluruh dunia sudah teregistrasi 150 ribu sertifikat Oeko-Tex dan tersebar di lebih dari 90 negara. Sedangkan Indonesia, lebih dari 200 perusahaan sudah meregistrasikan produknya. Sebagai informasi standarisasi yang dilakukan oleh Testex sama di setiap negara mana pun, yang dibedakan hanya pada penggunaan produknya, misalnya pakaian untuk bayi pengujian dan kandungan komponennya harus lebih ketat dibandingkan pakaian untuk orang dewasa. Kulit seorang bayi masih sangat rentan dan sensitif.
Salah satu contoh pengujian untuk produk bayi yang tidak dilakukan pada pakaian orang dewasa adalah menguji ketahanan luntur terhadap air liur. Jika sebuah produk sudah mendapatkan sertifikasi Oeko-Tex bisa dikatakan produk tersebut ramah lingkungan dan bisa diterima di semua negara. Testex rutin melakukan produk control untuk melihat kebenaran sebuah produk, apakah konsisten memproduksi produk sesuai standarisasi. “Kami akan membeli produk yang beredar di pasar tanpa sepengetahuan produsen. Kemudian, kami melakukan pengujian, jika menemukan masalah kami akan melakukan pengecekan ke perusahan penghasil produk. Kami melakukan investigasi masalah, proses apa yang menyebabkan terjadinya penyimpangan standarisasi. Masalah yang biasa kami temukan hanya pada ketahanan luntur
atau kandung pH yang tidak sesuai.
Kami mengharuskan mereka memperbaiki diproses produksi dan mereka juga harus memberikan tahapan atau pengujian apa saja yang telah dilakukan selama tiga bulan terakhir. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas yang selalu sesuai standart. Mereka akan mengirimkan test report yang telah dilakukan di perusahaan sendiri atau dengan pihak ketiga, Testex memiliki hak untuk mengetahui proses produksi dan testing rutin yang dilakukan. Sementara perusahaan yang telah memiliki sertifikat, setiap tiga bulan sekali wajib melakukan review produknya sendiri, agar sesuai dengan standar yang berlaku atau terbaru. Berbagai kontrol terus dilakukan untuk menjaga kualitas produk agar tetap benar.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran produsen dan konsumen akan sertifikasi terus meningkat, entah karena tuntutan buyer atau kesadaran mereka sendiri. Untuk mendaftarkan produknya, mereka pasti mempertimbangkan faktor ekonomi dan bisnis, misalnya jika menggunakan pewarna yang berkualitas dan ramah serta teregistrasi pasti harganya mahal.

Produk tekstil Indonesia yang sudah teregistrasi misalnya Velvet Junior, merek pakaian bayi Jakarta. Produsennya menyadari pentingnya sertifikasi sejak tahun 2008. Produk ini hanya dipasarkan di Indonesia. Selain, sertifikasi internasional Velvet Junior juga memiliki sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia). Jadi Velvet Junior memakai bahan dan komponen untuk produknya, hampir 90 persen produk lokal.
Suatu produk garmen yang memiliki logo Oeko-Tex, dipastikan semua komponennya seperti kancing, benang jahit, dan lainnya juga sudah bersertifikasi. Dari mana mereka mengetahui komponen produknya yang sudah memiliki sertifikasi, Testex bersedia membantu perusahaan atau mereka bisa melihat langsung di website Oeko-Tex. Produk bersertifikasi terbagi dalam berbagai kategori, baik negara dan produk.
Kami menyarankan untuk produsen, sebaiknya mereka mencari solusi atau mencari zat-zat yang lebih baik, karena mereka harus bertanggung jawab pada produk yang mereka jual. Mungkin efeknya tidak dalam jangka waktu dekat tetapi memiliki efek dalam jangka waktu panjang. Misalnya, ada zat yang mengganggu hormon anak-anak, efeknya memang tidak langsung tapi memerlukan waktu.
Produsen harus peduli pada generasi penerus dan kita semua hidup sehat sepanjang masa. Produsen harus lebih bertanggung jawab dengan produk yang dikeluarkan atau dihasilkan atau jual. Untuk konsumen, harus lebih cerdas dan cermat ketika membeli pakaian. Mereka bisa melihat dan memperhatikan logo-logo yang terdapat pada pakaian yang akan dibeli. Jangan sampai tertipu dengan logo-logo aneh atau bohong.
Kita sering menerima laporan pemalsuan logo sertifikasi dari pasaran. Berkat laporan masyarakat kita akan menindaklanjuti laporan tersebut, langsung ke perusahaan yang mengeluarkan produknya. Untuk mengedukasi sertifikasi ini, kami sering melakukan edukasi dan seminar dengan masyarakat terutama
kepada ibu-ibu.
Secara mata telanjang, kita sulit mengetahui bahwa produk ini mengandung zat berbahaya atau tidak. Mungkin selain terdapatnya logo sertifikasi bisa diketahui dari baunya, kadang sebuah produk yang terbungkus dan ketika dibuka baunya menyengat atau tercium bau anyir. Tapi hal itu harus tetap diuji atau perlu pembuktian sesuai prosedur. Adanya logo SNI menandakan produktersebut sudah tidak mengandung formalin yang tinggi, tidak mengandung zat logam berat dan lainnya. Sedangkan untuk logo Oeko-Tex berarti sudah lebih banyak lagi zat-zat berbahaya yang bisa dihindarkan. Pakaian tersebut bisa dikatakan sudah terbebas dari ancaman zat-zat berbahaya.

Read More »
Sertifikasi Halal Produk Sandang, Perlukah?

Sertifikasi Halal Produk Sandang, Perlukah?

News 31 Mei 2016 Loading..

Majelis Ulama Indonesia(MUI) meminta pemerintah untuk menerapkan sertifikasi halal untuk produk sandang. Dan MUI berharap pada tahun 2018, semua produk pakaian dan sepatu sudah bersertifikat halal. Seberapa pentingnya sertifikasi halal produk sandang?

Ketua MUI, KH. Ma’ruf Amien, mengusulkan kepada pemerintah untuk menerapkan sertifikasi halal bagi semua produk sandang atau non makanan. Jadi, produk itu tidak hanya makanan atau barang konsumtif saja, tetapi juga diberlakukan bagi produk pakaian seperti baju, celana, dan sepatu. Sebab, menurut MUI, ada saja bahan pakaian yang diolah dari bahan yang haram.

Keinginan MUI ini merujuk pada Undang-Undang No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Dalam Undang-undang tersebut, pada Bab 1 - Pasal 1 – Ayat 1 diterangkan “Produk adalah barang dan/atau jasa yang terkait dengan makanan, minuman, obat, kosmetik, proses kimiawi, proses biologi, proses rekayasa genetik serta barang gunaan yang dipakai, digunakan atau dimanfaatkan oleh masyarakat.”

Undang-undang juga menyebutkan bahwa bahan yang digunakan dalam proses produk halal(PPH) terdiri atas bahan baku, bahan olahan, bahan tambahan dan bahan penolong. Bahan yang dimaksud berasal dari hewan, tumbuhan, mikroba atau bahan yang dihasilkan dari proses kimiawi, proses biologi, proses rekayasa genetik. Bahan yang berasal dari hewan pada dasarnya halal, kecuali yang diharamkan oleh syariat meliputi bangkai, darah, babi dan/atau hewan yang disembelih tidak sesuai syariat.

Lebih lanjut KH. Ma’ruf Amien menerangkan salah satu produk sandang yang terbuat dari bahan haram adalah sepatu dari kulit babi. "Karena berasal dari bahan yang haram, tetap saja sepatu itu tidak boleh dipakai. Jika pada dasarnya bahan yang digunakan adalah barang haram, maka penggunaannya juga haram," kata Ma´ruf.

Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obatan-Obatan, dan Makanan (LPPOM) MUI, Osmena Gunawan juga menyatakan persetujuannya terhadap sertifikasi halal produk sandang. “Sertifikasi produk di tanah air penting. Ini guna menjamin konsumen mendapatkan produk yang aman dan sesuai syariah. Kemajuan zaman kan banyak produk yang sudah tidak diketahui asal usulnya. Karena itu sertifikasi untuk sandang diperlukan karena kebutuhan nyaman batin masyarakat harus dipenuhi," ujarnya.

Usulan atas penerapan setifikat halal produk sandang ini memperoleh tanggapan yang beragam, khususnya dari pihak pelaku usaha. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Suryadi Sasmita melihat dari aspek perkembangan ekonomi secara global. Salah satunya adalah perekonomian Indonesia yang memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan perdagangan bebas.

Arus barang dari negara lain akan semakin deras membanjiri pasar dalam negeri. “Jumlahnya bisa triliunan, pasti sulit untuk memantau asal mula, juga bahan-bahannya satu per satu,” kata Suryadi.

Lebih lanjut Suryadi menambahkan bahwa adanya sertifikasi akan menjadi beban tambahan bagi pengusaha. Kondisi ekonomi yang masih melambat harus ditambah bebannya dengan kewajiban untuk men-sertifikasi produk-produk sandang.

Senada dengan yang diungkapkan Suryadi Sasmita, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengungkapkan bahwa sertifikat halal, terutama bagi industri menengah dan besar, tak bisa didapatkan secara gratis. Artinya, pengusaha harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkannya. Jika melihat dari kondisi perekonomian saat ini, tentu saja mereka enggan.

Penambahan beban ini juga akan menghambat pertumbuhan usaha-usaha kecil yang tengah berkembang. Menurut Roy, sebaiknya menunggu sampai perekonomian normal kembali, baru MUI dan pemerintah mempertimbangkan sertifikasi produk halal untuk sandang. “Saat ini belum terlalu mendesak,” pungkas Roy.

Poppy Dharsono selaku Ketua Umum Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia(APGAI) mengatakan bahwa kegiatan bisnis garmen dapat berjalan lancar meski tanpa sertifikat halal karena negara tujuan ekspor tidak menanyakan produk ini halal atau tidak. “Mereka akan memeriksa bahan kain, polyester atau cotton, itu yang mereka periksa,” kata Poppy.

Terlepas dari pro kontra mengenai penerapan sertifikasi halal untuk produk sandang, pemerintah dituntut untuk mempermudah proses pengurusan sertifikasi demi memenuhi kewajiban sebagaimana yang ditetapkan undang-undang. Selain penyederhanaan birokrasi, pemerintah juga perlu mempertimbangkan biaya yang keluar untuk pengurusan sertifikat tersebut. Jangan sampai sertifikasi halal malah menghambat para pengusaha untuk berkembang. Apalagi selama ini biaya selalu menjadi persoalan serius bagi pengusaha untuk melakukan sertifikasi.

Read More »
AK Tekstil dan Produk Tekstil Solo - Siap Cetak Tenaga Ahli di Industri Tekstil

AK Tekstil dan Produk Tekstil Solo - Siap Cetak Tenaga Ahli di Industri Tekstil

News 30 November 2016 Loading..

Pada 28 November 2016, Komunitas Printing Indonesia mengunjungi Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil yang berlokasi di kawasan Solo Techno Park, jalan Ki Hajar Dewantara, Jebres, Solo. Akademi ini merupakan satu perguruan tinggi vokasi industri dibidang tekstil.

Seiring dengan berkembangnya industri tekstil tanah air, kebutuhan akan tenaga kerja yang memiliki kompetensi juga semakin bertambah. Untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja terampil tersebut, Kementerian Perindustrian mendirikan perguruan tinggi vokasi industri, Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil yang berlokasi di Solo.

Perguruan tinggi yang diresmikan pendiriannya oleh Presiden Joko Widodo ini menggunakan sistem pendidikan Diploma II dengan tiga program studi antara lain Teknik Pembuatan Benang, Teknik Pembuatan Kain Tenun dan Teknik Pembuatan Garmen. Akademi ini merupakan program beasiswa dengan ikatan kerja, sehingga seluruh mahasiswa dibebaskan dari biaya pendidikan, dan setelah lulus akan langsung ditempatkan bekerja pada perusahaan tekstil di Solo dan sekitarnya. Para tenaga pengajar di Akademi ini merupakan para professional dan ahli dibidang tekstil. Sistem pendidikan yang diberikan terbagi dalam 3 tahap yaitu pendidikan teori, praktek di sekolah, dan praktek langsung di industri.

Pada kunjungan kemarin, Komunitas Printing Indonesia yang diketuai bapak Usman Batubara diterima oleh Bapak Drs. Abdillah Benteng M.Pd selaku pimpinan AK Tekstil. Pada kesempatan kali ini, Bapak Abdillah menjelaskan tentang program-program Akademi Tekstil serta berkenan untuk mengantarkan Komunitas Printing Indonesia berkeliling melihat ruang praktek dan perlengkapan yang ada. Peralatan yang tersedia untuk belajar merupakan peralatan industri modern dan terbaru. Hampir semua mesin serupa dengan yang digunakan di pabrik. Sehingga ketika sudah berada di lingkungan kerja,  diharapkan mereka tidak akan kaget dengan teknologi yang ada di  perusahaan tempatnya bekerja.

Akademi Komunitas Tekstil dan Produk Tekstil Solo saat ini memiliki 160 orang mahasiswa yang nantinya siap untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja professional di industri tekstil. Menurut Drs. Abdillah, telah banyak perusahaan yang meminta mahasiswa AK Tekstil untuk langsung bekerja di perusahaan setelah lulus nanti. Beberapa perusahaan yang siap menerima lulusan AK Tekstil ini antara lain PT. Sri Rejeki Isman(SRITEX), PT. Dan Liris, PT. Pan Brothers dan masih banyak lagi.

Sekarang AK Tekstil sedang membangun gedung baru yang berada dekat lokasi saat ini. Gedung baru ini nantinya akan mampu menampung 320 mahasiswa baru. Mahasiswa baru terdiri dari 60% masyarakat umum dan 40% sisanya merupakan karyawan yang membutuhkan kompetensi. Adapun syarat-syarat yang dibutuhkan untuk melanjutkan studi ke AK Tekstil antara lain, WNI, Lulus SLTA/SMK, Usia maksimal 22 tahun, Lulus ujian masuk serta Bersedia untuk ikatan dinas selama 3 tahun setelah menyelesaikan pendidikan. (BW)

Read More »