Tags Tradisional»

Pewarna Alami, Permata Yang Belum Bersinar

Pewarna Alami, Permata Yang Belum Bersinar

Textile & Garment 28 Januari 2015 Loading..

Penulis :

Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, MS
Pengajar Jurusan Teknik Kimia
Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta

Pada saat ini pewarna alami tidak banyak digunakan dan lebih banyak digunakan zat warna sintetis. Pewarna sintetis lebih banyak digunakan karena lebih praktis dalam penggunaan dan lebih terstandar, meskipun zat warna sintetis memiliki dampak negatif terhadap pengguna dan tidak ramah lingkungan. Penggunaan zat warna alami perlu digalakkan kembali agar dapat meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam indonesia dan dapat mengurangi penggunaan zat warna sintetis yang berbahaya.
Seharusnya seluruh masyarakat Indonesia menjaga dan melestarikan serta membantu mengembalikan kebiasaan penggunaan pewarna berbahan alami. Namun sayang, zat warna alam pada saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Sebagai gambaran ratusan tahun silam, Indonesia sebagai pemasok zat warna alami yang menguasai pasar dunia. Salah satu tanaman sebagai sumber pewarna alami adalah tanaman indigofera. Berdasarkan studi pustaka dan bukti sejarah, tanaman ini dipakai sebagai pewarna sejak masa-masa sebelum masehi di negara-negara Eropa. Baru pada abad ke-16, masyarakat India dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, membudidayakan indigofera secara besar-besaran.
Pembudidayaan indigofera di Indonesia dilakukan melalui culture stelsel, atas perintah pemerintah kolonial Belanda. Pewarna ini digunakan Belanda untuk menyaingi pewarna dari bahan woad (Isatis tinctoria) yang dibudidayakan di Prancis, Jerman, dan Inggris.
Pewarna Alami kalah pamor setelah zat warna sintetis diperkenalkan pada tahun 1897, setelah itu para pengusaha batik lebih tertarik menggunakannya sebagai pewarna produknya. Apa yang terjadi seratus tahun kemudian, sejak tanggal 13 Juni 1996, zat warna sintetis gugus azo, amino aromatis, naptol, direc, dan asam/basa telah dilarang peredarannya karena bersifat karsinogenik (CBI/HB – 3032).
Walaupun zat warna sintetis dilarang, para perajin batik umumnya tetap menggunakan zat warna sintetis karena dianggap lebih terjangkau, praktis, dan berwarna lebih cerah. Meskipun, zat warna sintetis mempunyai efek negatif terhadap pencemaran lingkungan dan berbahaya terhadap kesehatan.
Seiring dengan semakin tinggi kesadaran terhadap kesehatan dan lingkungan, kini potensi pewarna alami kembali digalakkan dan sangat prospektif untuk dikembangkan. Secara global, peminat zat warna alami tidak hanya berlaku di pembeli lokal, tetapi juga para pembeli dari berbagai Negara seperti Jepang dan Korea.
Mari kita kembali ke pewarna alami, agar lingkungan kita tidak semakin tercemar. Kami berharap para pengguna zat pewarna bersedia mengubah pola kebiasaan dengan menggunakan zat warna alami kembali sebagai pewarna produknya. Kita harus bangga karena Indonesia memiliki sumber bahan baku pewarna alami sangat melimpah.
Para leluhur bangsa Indonesia sudah mewariskan budaya penggunaan pewarna alami yang bermanfaat dan aman bagi kesehatan, serta lingkungan. Untuk itu produksi dan penggunaan zat warna alami sudah selayaknya dikembangkan secara optimal.
Untuk mendukung penggunaan kembali zat warna alami, tim peneliti zat warna alami UGM melakukan penelitian dan memproduksi zat warna alami yang praktis, murah, dan berkualitas, sehingga kompetitif dengan zat warna sintetis.
Dengan demikian pengrajin mau menggunakan sehingga dapat mengurangi penggunaan pewarna sintetis yang berbahaya. Kami ingin mengembalikan popularitas Indonesia sebagai produsen dan pengguna zat warna alami terbesar dunia, seperti pada masa lampau, ketika membawa keunggulan lokal ke tingkat global.
Untuk membuat 1 kg serbuk zat warna alami biru dari daun indigofera, dengan nama Gamaindigo, diperlukan sekitar 250 kg daun Indigofera. Jika ingin memproduksi zat warna alami Gamaindigo dalam kapasitas industri, diperlukan pasokan daun Indigofera dalam kapasitas besar, dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan petani.
Kendati membutuhkan pasokan bahan baku yang banyak, hasil yang didapat dari zat pewarna ini juga memuaskan. Setiap 50 gram serbuk zat warna alami biru Gamaindigo dapat digunakan untuk mewarnai 4 lembar kain berukuran standar 2,5 m yang memberikan hasil biru muda atau 2 lembar kain berukuran standar 2,5 m dengan hasil warna biru tua.
Potensi dan Prospek ZWA
Bila Indonesia mengoptimalkan penggunanan zat warna alami, otomatis akan membangun empat faktor utama ekonomi yaitu: investasi padat modal, menghidupkan sektor sosial budaya, pemberdayaan sumberdaya manusia (padat karya), dan pemanfaatkan sumberdaya alam yang melimpah.
Optimalisasi zat warna alami ini sejalan dengan program pemerintah dalam transformasi ekonomi berbasis sumber daya alam yang bertumpu pada labor intensive, menjadi aplikasi Iptek yang bertumpu pada innovation. Dengan demikian, penggunaan dan produksi pewarna alami dapat berkontribusi positif dalam percepatan dan perluasan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sumber bahan baku zat warna alami yang ingin diproduksi dalam kapasitas industri harus berasal dari tumbuhan atau hewan yang memiliki nilai sosial dan ekonomi yang rendah dan jika dimanfaatkan sebagai bahan baku tidak akan merusak atau mengganggu lingkungan. Selain itu ketersediaannya harus dalam jumlah besar, mudah diperoleh, dan kontinyu. Indonesia memiliki sumber bahan baku zat warna alami yang memenuhi kriteria ini dan belum termanfaatkan dengan optimal.
Untuk memperjelas kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia, berikut contoh-contoh pewarna alam yang bisa dihasilkan dari berbagai tumbuhan. Untuk menghasilkan warna biru alami berasal dari daun indigofera tinctoria, untuk menghasilkan warna kuning cerah alami dan kuat dari Kayu Tegeran. Jika ingin memperoleh warna kuning alami, coklat, dan hitam dapat diperoleh dari kulit buah Jolawe, untuk warna orange alami, merah hati, dan coklat kehitaman dibuat dari kulit kayu Tingi. Pewarna alami menghasilkan krem, coklat, hitam keabu-abuan berasal dari serbuk kayu Merbau.
Melihat potensi itu, produksi pewarna alam Indonesia bisa menjadi penyelamat masa depan yang memiliki nilai-nilai positif dan diharapkan bisa menekan penggunaan dan import zat warna sintetis.
Untuk merealisasikan gerakan penggunaan pewarna alami diperlukan kerjasama dan dukungan berbagai pihak. Kerjasama dan dukungan semua pihak diharapkan dapat menciptakan kerjasama saling menguntungkan, saling menghargai, dan saling mendukung yang bermuara untuk kemajuan Indonesia. Selain itu juga diperlukan dukungan regulasi dari pemerintah dalam gerakan penggunaan pewarna alami dan pemasarannya.
Mari kita kembalikan nilai-nilai dan kearifan lokal para leluhur Indonesia yang selalu menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam. Salam eco green dan clean production.

Read More »
Sunday Dress Up Diikuti Ribuan Peserta

Sunday Dress Up Diikuti Ribuan Peserta

News 02 Februari 2015 Loading..

Serangkaian kegiatan pendahuluan menjelang Indonesia Fashion Week 2015 digelar. Salah satu kegiatan yang digelar adalah Sunday Dress Up (SDU) yang mengusung konsep Fun Walk menggunakan batik, tenun atau sarung.

Menjelang Indonesia Fashion Week 2015 yang akan digelar pada 26 Februari hingga 1 Maret 2015 bertema Urban Style menggelar kegiatan Fun Walk dari Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata menuju Bundaran Hotel Indonesia dan kembali ke Gedung Sapta Pesona. Acara ini cukup meriah walau diguyur hujan, para peserta tetapi semangat meramaikan kegiatan ini.

Sunday Dress Up diikuti oleh berbagai pihak seperti siswa-siswi sekolah mode, komunitas, model, exhibitor, blogger, media, dan koreografer, hingga perancang mode ternama. Kegiatan ini tahun lalu berhasil menghadirkan 2.000 peserta fun walk.

Kegiatan ini diharapkan bisa menginspirasi daerah lain untuk meningkatkan penggunaan busana produksi dalam negeri yang bercirikan kelokalan atau mengangkat budaya local. Selain itu juga dapat mendukung sektor pariwisata dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya saat membuka acara Sunday Dress Up memberikan apresiasi kepada APPMI yang konsisten dan terus-menerus melaksanakan Indonesia Fashion Week, tahun ini memasuki penyelenggaraan tahun keempat. Arief Yahya menambahkan dukungan akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media sebagai strategi kooperatif merupakan hal yang mutlak.

Sub bidang Mode sebagai salah satu sub bidang Ekonomi Kreatif mampu berkontribusi cukup besar di PDB. Tahun 2014 mampu menyumbang PDB sebesar Rp 204,11 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 3,95 juta. Sementara target tahun 2019 sebesar USD 25,44 Miliar.

Arief berharap pelaksanaan kegiatan ini dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk mode dalam negeri. Acara ini merupakan salah satu wujud gerakan mempromosikan fesyen Indonesia dan diikuti lebih dari 2.000 peserta. Sunday Dress Up menjadi cara baru bagi masyarakat untuk mencintai fesyen lokal. 

Read More »
Tenun Tangan Indonesia

Tenun Tangan Indonesia

News 08 Juni 2016 Loading..

Masyarakat Indonesia masih memiliki tradisi tenun yang kuat. Tenun di Indonesia mengikat tradisi seperti terlihat di masyarakat Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, Tanggenan dan daerah lainnya. Saat ini, hasil tenun Indonesia hanya mengandalkan tangan-tangan terampil para perempuan berusia lanjut dan mereka masih memiliki penghasilan masih jauh dari cukup. Harga kain tenun mereka tidak setimpal dengan proses panjang dan makna mendalam dari tenun itu sendiri. Konsumen melihat harga kain tenun masih dianggap mahal dan kerap ditawar rendah. Sebenarnya kain tenun ini istimewa. Motif yang terlihat di kain merupakan sebuah simbol berkala, ada cerita dan sejarah tentang suku, serta asal muasal kehidupan mereka.

Jika tidak dilestarikan, bukan tidak mungkin tradisi menenun di Indonesia akan punah. Indonesia harus berkaca dengan Australia yang telah kehilangan tradisi menenun karena tidak punya generasi penerus.

Pelestari tenun dari Perhimpunan Lawe, Adinindyah menyebutkan prospek ekonomi tenun yang suram berimbas pada langkanya pengrajin. Di Yogya, banyak penenun, baik pria ataupun wanita, yang beralih profesi menjadi penambang pasir atau pekerja pabrik. Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin tenun pudar ditelan zaman alias ‘putus benang’. Adinindyah bersama Perhimpunan Lawe berkonsentrasi untuk mengembalikan para penambang ke pekerjaan sebagai penenun, dengan penghasilan yang menjanjikan.

Namun, kain tradisional pun harus mengembangkan desainnya sehingga akan menjadi daya tarik tersendiri. Misalnya, kain stagen tidak melulu untuk menahan jarit. Stagen, sebagai kain panjang yang biasa digunakan untuk mengikat untuk dililitkan kepinggang oleh para wanita yang dahulunya hanya digunakan oleh para abdi dalem atau masyarakat biasa dengan motif warna yang sederhana. Kini banyak dikembangkan dan diinovasikan agar semakin menarik perhatian tanpa meninggalkan nilai tradisinya. Dengan tampil lebih berwarna dan tampil variatif dalam bentuk sepatu, tas bahkan pakaian yang unik dan etnik akan sangat menarik. 

Tradisi tenun di Indonesia nyaris terjadi ‘putus benang’ misalnya di Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur. Prihatin dengan masa depan tenun. Yayasan Tafean Fah berusaha melestarikan tenun melalui edukasi menenun di anak-anak. Yayasan ini berkolaborasi dengan organisasi pelestari tenun lainnya seperti Lawe, Lurik Kurnia, dan Terasmitra.

Produksi kain tenun selain terkendala pengrajin juga terganjal bahan baku. Saat ini lading kapas semakin berkurang. Berkurangnya ladang kapas menjadikan tradisi membuat benang dari kapas juga hampir menghilang. Bagi para pengrajin, tenun memang bukan sekadar kain, tapi cara bertahan hidup. Atas dasar itulah Global Environtment Facility-Small Grand Programme (GEF-SGP) mendukung kampanye “Weaving for Life” yang dirintis perhimpunan Lawe.

Untuk memasyarakatkan tenun pameran bertajuk ‘Cerita Tenun Tangan’ hadir di Bentara Budaya Jakarta yang menampilkan kisah perjalanan beberapa wilayah Indonesia yang mempunyai tradisi kuat menenun. Pameran ini diwakili langsung oleh penenun asal Krapyak dan Moyudan, Yogyakarta, dan juga Timur Tengah Utara, NTT.

Pameran ini bertujuan meningkatkan kapasitas penenun dan mempromosikan produk tenun hasil potensi lokal. Kemudian untuk mengembangkan jaringan dan berbagi cerita. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi multi pihak sebagai wadah untuk menjembatani pemasaran produk yang telah dihasilkan.

Gerakan Weaving for life (Tenun untuk Kehidupan), hasil kolaborasi berbagai pihak seperti Komunitas Lawe, Dreamdelion, Teras Mitra dan GEF-SGP( Global Environment Facility-Small Grant Programme), menghadirkan hasil karya tenun dari daerah Molo, Amanatun, Amanuban yang terkenal dengan sebutan tiga Batu Tungku di Timor Tengah Selatan (TTS), Biboki Timur Tengah Utara (TTU) serta Moyudan dan Krapyak, Yogyakarta.

Pameran ini jelas memberikan “ruh” bagi teknik kerajinan kain tradisional, yang bisa dibilang keadaannya sekarang ini seperti mati suri. Digelarnya pameran ini diharapkan masyarakat yang berkunjung bisa mengetahui dan belajar bagaimana proses pembuatan tenun, mulai dari perolehan warna kain yang diperoleh dari bahan-bahan alami serta serangkaian proses untuk dihasilkan hingga teknik pemintalan.

Dengan mengetahui proses diharapkan bisa menyadarkan masyarakat untuk menghargai tenun dengan harga yang setimpal,sesuai dengan prosesnya. Tenun bukan hanya sekedar selembar kain, tapi ada cerita dibalik itu semua. Ada penenun, ada lingkungannya dan sebagainya.Kain tenun masih belum dikenal luas dikalangan anak muda. Padahal anak-anak muda inilah yang memiliki peran penting dalam melestarikan budaya agar tidak punah.

Orang Indonesia itu pintar sekali mengambil inspirasi dari alam dan dituangkan ke dalam seni mereka. Para penenun ini harus di beri apresiasi karena mereka masih mau mempertahankan tradisi di tengah arus globalisasi. Kalau tenun sampai mati, Indonesia jadi tidak istimewa. Kurang lebih 29 propinsi di Indonesia memiliki tenun sebagai kain tradisional.

Read More »
Panggung Los Angeles Fashion Week Untuk 5 Desainer Indonesia

Panggung Los Angeles Fashion Week Untuk 5 Desainer Indonesia

News 21 September 2016 Loading..

Konsulat Jenderal Republik Indonesia Los Angeles mengundang beberapa desainer Tanah Air untuk ikut serta memamerkan koleksinya dalam perhelatan Los Angeles Fashion Week 2017 yang akan digelar pada 28 September – 2 Oktober 206 ini. Ivan Gunawan, Oscar Lawalata, Nonita Respati, Rinda Salmun, dan Aurelia Santoso lah yang memiliki kesempatan untuk  memamerkan koleksi  busana rancangannya di panggung runway.

Kelima desainer ini akan membawakan desain yang menjadi ciri khas mereka. Busana yang dipamerkan tentunya merupakan cerminan budaya bangsa yang beraneka ragam. Para desainer ini terpilih berdasarkan hasil kurasi yang dilakukan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia Los Angeles dan Indonesia Woman Alliance seperti dituturkan Ibu Fabiola Sondakh dari Indonesia Woman Alliance.

Ivan Gunawan akan mengambil tema print pada karya rancangannya. Dengan menampilkan sekitar 27 koleksi motif tenun Toraja yang motifnya dihasilkan melalui teknik digital printing. Untuk tema print ini, Ivan Gunawan berkolaborasi dengan Inoui Print. Ivan memastikan, dirinya berani menghadiri undangan ini karena dia mampu menghasilkan motif sendiri dalam waktu singkat dengan digital printing. Kerjasama Ivan Gunawan dengan Inoui Print sendiri telah terjalin selama 1 tahun.

“Merupakan penghargaan yang luar biasa mendapatkan undangan untuk mengikuti Los Angeles Fashion Week 2016 kali ini. Tentu saja kami akan mempresentasikan karya yang mencerminkan budaya Indonesia. Saya dengan Jajaka, Nonita Respati dengan Purana, Rinda Salmun, Oscar Lawalata dan Aurelia Santoso dengan Laisonnya,” ujar Ivan Gunawan. (BW)

Read More »
Edukasi Generasi Muda Untuk Membatik

Edukasi Generasi Muda Untuk Membatik

News 03 Oktober 2016 Loading..

Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober, Kementerian Perindustrian membuka Pameran Batik Budaya Bangsa.  Pameran ini dibuka oleh Dirjen Industri Kecil dan Menengah, Gati Wibawaningsih. Pembukaan pameran ini dihadiri pula oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia Yultin Ginanjar Kartasasmita, istri Wakil Gubernur DKI Jakarta Heppy Djarot Saiful Hidayat, serta Ketua Hari Batik Nasional 2016 Nita Kenzo.

“Kementerian Perindustrian terus berupaya mengedukasi para generasi muda Indonesia untuk belajar membatik. Langkah ini dalam rangka meningkatkan kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya dunia sekaligus mendorong penumbuhan wirausaha baru. Langka yang diambil antara lain, kami tengah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukkan kegiatan ekstrakurikuler membatik pada Sekolah Menengah Kejuruan,” kata Gati Wibawaningsih.

Gati meyakinkan, gerakan melestarikan, menggunakan dan mengembangkan batik sebagai warisan budaya selama ini telah mendongkrak permintaan batik nasional dan pertumbuhan industri batik di dalam negeri. “Peluang pasar batik saat ini juga sangat terbuka luas, baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, Nita Kenzo menyampaikan, Yayasan Batik Indonesia telah meluncurkan program menarik tahun ini, yaitu Batik Karya Saya guna memberikan rasa bangga pada generasi muda terhadap batik nasional. Program ini juga memberikan pelatihan membatik secara cuma-cuma kepada 50 siswa SMK 27 Jakarta. Sekolah tersebut dipilih lantaran memiliki jurusan tata busana.

"Kreativitas mereka sangat berkembang, termasuk saat membuat ornamen batik. Mereka sudah bisa membayangkan, jika membuat motif seperti ini nantinya pola bajunya akan seperti apa," kata Nita. Pelatihan tersebut telah diberikan sebanyak 13 kali selama September 2016. Para siswa memulai latihannya setiap pulang sekolah.

Upaya tersebut disambut baik oleh Puan, lebih lanjut Puan mengatakan, program pelatihan membatik ini perlu sinergi dengan pelaku industri untuk menyalurkan para lulusan. “Di samping itu, perlu juga sinergi untuk menyesuaikan kebutuhan industri saat ini. Biar sejalan antara lulusan dengan dunia kerja,” tegasnya.

Puan menambahkan, perlu program dan kegiatan strategis bersama antara Kementerian/Lembaga dengan pihak terkait dalam mempertahankan kearifan lokal terutama untuk mengajak generasi muda Indonesia memahami dan memakai batik buatan dalam negeri. “Diperlukan juga sosialisasi secara masif kepada anak-anak agar mengetahui batik jenis apa yang dipakai dan jangan pakai yang impor,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Gati mengatakan, pihaknya aktif melakukan kegiatan promosi dan fashion show melalui berbagai event baik di domestik maupun internasional yang berhasil menarik perhatian masyarakat dunia terhadap batik Indonesia. “Bahkan, kegiatan tersebut mampu meningkatkan permintaan ekspor batik nasional. Batik juga dapat mengeksplor karya kreatif mulai dari tingkatan perajin batik hingga fashion designer,” paparnya.

Kemenperin selama ini terus berupaya meningkatkan daya saing industri batik nasional dengan berbagai upaya antara lain melalui bimbingan teknis, pendampingan tenaga ahli, fasilitasi mesin dan peralatan, serta fasilitasi promosi dan pameran. “Saat ini pembinaan industri batik juga diarahkan untuk menggunakan zat warna alam untuk mewujudkan industri batik yang ramah lingkungan sesuai dengan isu green industry,” papar Gati.

Tantangan yang juga dihadapi oleh industri Industri batik nasional adalah adanya produk tekstil motif batik dengan harga yang jauh lebih murah dan diproduksi dalam jumlah besar. Untuk itu, diperlukan regenerasi pembatik dan standardisasi produk.  “Kami telah menyusun Standar Nasional Indonesia (SNI) produk batik dan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk perajin batik,” ujarnya.

Read More »